Wall Street Variatif: Dow Hijau, S&P 500 dan Nasdaq Terpukul Profit Taking Saham Teknologi
Tuesday, May 19, 2026       04:32 WIB
  • Wall Street mixed, Nasdaq dan S&P turun karena teknologi melemah.
  • Yield obligasi dan harga minyak tinggi tekan sentimen inflasi.
  • Pasar fokus ke Nvidia, Walmart, dan risiko konflik Iran.

Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street berakhir variatif, Senin, dengan Nasdaq dan S&P 500 tersungkur karena aksi ambil untung di sektor teknologi, sementara kenaikan imbal hasil US Treasury dan harga minyak yang tinggi memicu kekhawatiran bahwa inflasi dan biaya pinjaman akan tetap bertahan pada level tinggi.
Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 159,95 poin atau 0,32 persen menjadi 49.686,12, sementara S&P 500 turun tipis 5,45 poin atau 0,07 persen ke posisi 7.403,05, dan Nasdaq Composite Index merosot 134,41 poin atau 0,51 persen jadi 26.090,73, demikian laporan  Reuters  dan  Investing,  di New York, Senin (18/5) atau Selasa (19/5) pagi WIB.
Tekanan utama pasar datang dari kenaikan imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun yang sempat mencapai level tertinggi sejak Februari 2025. Kenaikan ini dipicu kekhawatiran bahwa gangguan pasokan minyak melalui Selat Hormuz akibat konflik Iran dapat menjaga inflasi tetap tinggi, sehingga mendorong ekspektasi suku bunga tetap ketat lebih lama.
Di pasar energi, harga minyak mentah WTI sempat melonjak lebih dari 3 persen dalam sesi yang bergejolak, sebelum memangkas sebagian kenaikan setelah penutupan perdagangan. Sentimen juga sempat membaik setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan penundaan rencana serangan terhadap Iran untuk membuka ruang negosiasi kesepakatan damai, meski dia menegaskan opsi militer tetap terbuka jika tidak tercapai kesepakatan.
Portfolio Manager NFJ Investment Group, Burns McKinney, mengatakan pergerakan pasar saat ini sangat dipengaruhi fluktuasi harga minyak yang terkait dengan risiko penutupan Selat Hormuz. Kondisi tersebut meningkatkan risiko inflasi jangka panjang yang dapat mengganggu ekspektasi pasar. Dia juga menilai kenaikan yield menekan sektor dengan durasi panjang seperti teknologi dan saham chip.
McKinney menambahkan bahwa investor saham cenderung lebih optimistis dibandingkan investor obligasi, terutama karena pasar ekuitas kerap merespons cepat setiap kabar potensi kesepakatan damai, meski sering kali sentimen tersebut tidak bertahan lama karena kebuntuan negosiasi masih berlanjut.
Reli Terhenti
Ini menjadi penurunan kedua berturut-turut bagi Nasdaq dan S&P 500 setelah reli yang dimulai sejak akhir Maret. Sebelumnya, S&P 500 sempat mencatat kenaikan lebih dari 18 persen dari titik terendahnya pada 30 Maret, sementara Nasdaq melompat sekitar 28 persen dalam periode yang sama, didorong optimisme terhadap kecerdasan buatan serta kinerja kuat sektor teknologi.
Namun, sejumlah analis menilai kenaikan cepat tersebut mendorong aksi ambil untung. Sektor teknologi informasi menjadi penekan utama S&P 500 dengan penurunan hampir 1 persen, sementara indeks semikonduktor Philadelphia anjlok 3,3 persen. Di sisi lain, sektor energi menjadi penguat terbesar dengan kenaikan 1,8 persen.
"Ada kekhawatiran tentang reli yang terjadi dalam waktu singkat, dan ada aksi ambil untung," kata Tim Ghriskey, analis Ingalls & Snyder di New York.
Pelaku pasar juga meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve berpeluang menaikkan suku bunga 25 basis poin sebelum akhir tahun, dengan probabilitas sekitar 36,7 persen berdasarkan FedWatch Tool CME Group, menyusul data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.
Perhatian investor kini tertuju pada laporan keuangan Nvidia yang dijadwalkan rilis Rabu. Saham raksasa teknologi tersebut melorot 1,3 persen pada perdagangan Senin dan menjadi penekan terbesar indeks S&P 500, meski ekspektasi terhadap kinerja perusahaan tetap tinggi di tengah ledakan permintaan chip berbasis kecerdasan buatan.
Walmart juga akan merilis laporan keuangan pekan ini untuk memberikan gambaran lebih luas mengenai daya beli konsumen Amerika Serikat di tengah tekanan inflasi dan biaya energi yang meningkat. Sahamnya sendiri melonjak 1,4 persen pada sesi tersebut.
Di sisi korporasi, Dominion Energy melambung 9,4 persen setelah NextEra Energy mengumumkan akuisisi senilai sekitar USD66,8 miliar dalam bentuk saham. Sebaliknya, saham NextEra anjlok 4,6 persen akibat reaksi pasar terhadap kesepakatan tersebut.
Sementara itu, Regeneron ambles 9,8 persen setelah uji klinis tahap lanjut untuk pengobatan melanoma, salah satu tipe kanker kulit, tidak mencapai target utama.
Jumlah saham yang naik lebih banyak daripada yang turun dengan rasio 1,09 banding 1 di NYSE , di mana terdapat 167 saham yang mencapai harga tertinggi baru dan 152 saham yang mencapai harga terendah baru.
Di Nasdaq, 2.238 saham menguat dan 2.637 saham melemah, dengan jumlah yang turun lebih banyak daripada saham yang naik, rasio 1,18 banding 1. Indeks S&P 500 mencatat 21 harga tertinggi baru dalam 52 minggu dan 13 harga terendah baru.
Di bursa Wall Street tercatat 20,86 miliar saham berpindah tangan dibandingkan rata-rata 18,36 miliar saham selama 20 sesi terakhir. (Reuters/Investing/AI)
Saham berkinerja terbaik di Dow
-3M Company (4,32%)
-Salesforce Inc (3,44%)
-Chevron Corp (2,63%)
Saham berkinerja terburuk
-Caterpillar Inc (-2,76%)
-Nvidia Corporation (-1,33%)
-Apple Inc (-0,80%)
Saham berkinerja terbaik di S&P 500
-Cognizant Technology Solutions Corp Class A (9,82%)
-Dominion Energy Inc (9,44%)
-ServiceNow Inc (8,76%)
Saham berkinerja terburuk
-Regeneron Pharmaceuticals Inc (-9,86%)
-Corning Incorporated (-6,91%)
-Seagate Technology PLC (-6,87%)
Saham berkinerja terbaik di Nasdaq
-Propanc Biopharma Inc (2.914,71%)
-Freight Technologies Inc (476,47%)
-ReTo Eco-Solutions Inc (281,88%)
Saham berkinerja terburuk
-Bitcoin Depot Inc (-73,37%)
-Lichen China Ltd (-46,75%)
-Gossamer Bio Inc (-43,29%)

Sumber : Admin