- Wall Street mixed, Nasdaq dan S&P turun karena inflasi dan geopolitik AS-Iran.
- Teknologi melemah, sektor defensif seperti kesehatan menguat.
- Ekspektasi penurunan suku bunga Fed makin berkurang.
Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street berakhir variatif, Selasa, dengan S&P 500 dan Nasdaq tergelincir setelah data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan serta meningkatnya ketidakpastian terkait gencatan senjata Amerika Serikat dan Iran mendorong investor melakukan aksi ambil untung.
Tekanan terbesar datang dari saham-saham teknologi yang menyeret Nasdaq turun paling dalam. Sementara itu, penguatan sektor kesehatan yang dipimpin lonjakan saham Humana membantu Dow Jones Industrial Average tetap bertahan di zona positif.
Indeks Dow Jones ditutup naik 56,09 poin atau 0,11% menjadi 49.760,56, sedangkan S&P 500 turun 11,88 poin atau 0,16% ke posisi 7.400,96, dan Nasdaq Composite Index melemah 185,92 poin atau 0,71% jadi 26.088,20, demikian laporan Reuters dan Investing, di New York, Selasa (12/5) atau Rabu (13/5) pagi WIB.
Meski mengalami koreksi, S&P 500 dan Nasdaq masih berada dekat dengan rekor tertinggi sepanjang masa.
Berakhirnya musim laporan keuangan kuartal pertama membuat perhatian investor mulai beralih dari kinerja emiten menuju valuasi pasar, kondisi ekonomi makro, serta perkembangan geopolitik global.
Indeks semikonduktor PHLX merosot 3% pada perdagangan Selasa. Namun secara tahunan, indeks tersebut masih meroket 65,4% berkat tingginya antusiasme pasar terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI).
CEO InfraCap, Jay Hatfield, mengatakan pasar mulai bergerak mendatar karena euforia selama musim laporan keuangan mulai digantikan kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi dan geopolitik.
Data ekonomi terbaru menunjukkan harga konsumen Amerika Serikat meningkat lebih cepat dibanding perkiraan analis bulan lalu. Lonjakan tersebut dipicu terganggunya pasokan minyak mentah akibat penutupan Selat Hormuz di tengah perang dengan Iran.
Menurut Hatfield, inflasi tidak akan membaik selama harga minyak tetap tinggi. Dia menilai sejarah menunjukkan kenaikan harga energi hampir selalu berdampak langsung terhadap tekanan inflasi.
Perang Iran yang telah memasuki pekan ke-11 juga belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir. Presiden AS Donald Trump menyebut gencatan senjata kini berada dalam kondisi "bertahan hidup" setelah Teheran menolak proposal perdamaian Washington dan tetap mempertahankan sejumlah tuntutan yang disebut Trump sebagai "omong kosong".
Kekhawatiran terhadap konflik berkepanjangan meningkatkan risiko lonjakan harga energi berkembang menjadi inflasi yang lebih luas dan menetap. Kondisi itu membuat harapan pasar terhadap pemangkasan suku bunga Federal Reserve tahun ini semakin memudar.
Situasi tersebut juga terjadi di tengah dikonfirmasinya Kevin Warsh oleh Senat Amerika Serikat untuk masuk ke jajaran Dewan Federal Reserve.
Hatfield menilai peluang pemangkasan suku bunga kini sangat kecil, bahkan jika Warsh menginginkannya. Dia menambahkan bahwa dirinya tetap optimistis terhadap rencana reformasi the Fed yang diusung Warsh.
Pasar keuangan kini mulai meningkatkan spekulasi terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga. Berdasarkan FedWatch Tool CME Group, probabilitas kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Desember meningkat menjadi 30,5%, dari sebelumnya 21,5%, Senin.
Di sisi geopolitik, pasar juga menyoroti agenda perjalanan Trump ke Beijing pekan ini untuk bertemu Presiden China Xi Jinping. Pertemuan tersebut diperkirakan membahas sejumlah isu penting mulai dari tarif perdagangan, bantuan militer Amerika Serikat untuk Taiwan, kemungkinan peran China dalam mediasi perdamaian Iran, hingga perpanjangan perjanjian perdagangan logam tanah jarang.
Dari 11 sektor utama dalam indeks S&P 500, consumer discretionary dan teknologi mencatat penurunan terbesar. Sebaliknya, sektor kesehatan dan kebutuhan pokok konsumen menjadi sektor dengan kinerja terbaik.
Saham Humana melesat 7,7% setelah Bernstein menaikkan target harga saham perusahaan tersebut 36%.
GameStop melorot 3,5% setelah eBay menolak proposal akuisisi senilai USD56 miliar yang diajukan perusahaan ritel gim video tersebut.
Saham Zebra Technologies melompat 11,4% setelah produsen pemindai barcode itu menaikkan proyeksi pertumbuhan penjualan tahunan berkat tingginya permintaan terhadap produk otomasi manufakturnya.
Sementara itu, saham Hims & Hers Health anjlok 14,1% setelah perusahaan layanan kesehatan digital tersebut gagal memenuhi ekspektasi pendapatan kuartal pertama dan membukukan kerugian tak terduga.
Venture Global melejit 14,2% setelah eksportir gas alam cair tersebut meningkatkan proyeksi laba inti tahunan yang telah disesuaikan.
Secara keseluruhan, jumlah saham yang turun lebih banyak dibanding yang naik di Bursa Efek New York dengan rasio 1,79 banding 1. Tercatat terdapat 199 saham mencetak level tertinggi baru dan 125 saham menyentuh level terendah baru.
Di Nasdaq, sebanyak 1.605 saham menguat sementara 3.134 lainnya melemah, di mana jumlah saham yang turun melebihi yang naik dengan rasio 1,95 banding 1.
Indeks S&P 500 mencatatkan 16 rekor tertinggi baru dalam 52 minggu dan 29 rekor terendah baru, sementara Nasdaq Composite membukukan 62 rekor tertinggi baru dan 167 rekor terendah baru.
Volume perdagangan di bursa Wall Street mencapai 19,63 miliar saham, lebih tinggi dibanding rata-rata 18,08 miliar saham selama 20 hari terakhir. (Reuters/Investing/AI)
Saham berkinerja terbaik di Dow
-Unitedhealth Group (3,11%)
-Walmart Inc (2,19%)
-Amgen Inc (2,03%)
Saham berkinerja terburuk
-Salesforce Inc (-3,48%)
-International Business Machines (-1,94%)
-Caterpillar Inc (-1,58%)
Saham berkinerja terbaik di S&P 500
-Zebra Technologies Corporation (11,54%)
-Humana Inc (7,69%)
-Centene Corp (5,23%)
Saham berkinerja terburuk
-Qualcomm Incorporated (-11,46%)
-Caesars Entertainment Corporation (-8,50%)
-Intel Corporation (-6,83%)
Saham berkinerja terbaik di Nasdaq
-Dreamland Ltd (126,92%)
-Broadwind Energy Inc (117,24%)
-BuzzFeed Inc (90,44%)
Saham berkinerja terburuk
-Creative Global Technology Holdings Ltd (-53,87%)
-eLong Power Holding Ltd (-46,65%)
-aTyr Pharma Inc (-44,20%)
Sumber : Admin