- Sejumlah raksasa batu bara nasional mendapat kuota produksi penuh, sementara beban pemangkasan dialihkan ke penambang kecil.
- Pemerintah berencana memangkas total produksi hampir 25% demi menopang harga batu bara global.
- Asosiasi memperingatkan risiko PHK massal dan gagal bayar, terutama bagi perusahaan berskala kecil.
Ipotnews - Sejumlah perusahaan batu bara terbesar di Indonesia terhindar dari pemangkasan signifikan atas kuota produksi yang ditetapkan pemerintah, sehingga sebagian besar beban pengurangan justru berpotensi ditanggung oleh perusahaan-perusahaan kecil.
PT Bumi Resources (), PT Adaro Andalan Indonesia (), dan PT Indika Energy () disebut menerima persetujuan penuh atas permohonan kuota produksi batu bara mereka tahun ini, dengan total sekitar 170 juta ton, menurut sumber yang mengetahui kebijakan tersebut dan meminta identitasnya dirahasiakan karena menyangkut informasi non-publik. Ketiga perusahaan tersebut memegang izin usaha pertambangan khusus ( IUPK ), yang mewajibkan pembayaran royalti lebih tinggi kepada negara.
Indonesia--eksportir batu bara pembangkit listrik terbesar di dunia--tengah berupaya memangkas produksi nasional hampir seperempatnya menjadi sekitar 600 juta ton tahun ini, sebagai langkah untuk mendorong kenaikan harga. Namun, Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia ( APBI ) pekan lalu menyebutkan bahwa pemangkasan kuota untuk masing-masing penambang bisa mencapai 40% hingga 70%, dan memperingatkan bahwa kebijakan ini berisiko membuat sebagian operasi menjadi tidak ekonomis. Dampaknya dapat berupa PHK massal hingga potensi gagal bayar pinjaman.
Penambang kecil dinilai paling rentan menanggung dampak pengurangan produksi tersebut. Industri batu bara saat ini juga tengah menghadapi tekanan berat, di tengah rencana pemerintah mengenakan denda besar bagi perusahaan yang dianggap melanggar izin kehutanan. Selain itu, wacana pengenaan pajak ekspor batu bara berpotensi semakin menekan margin keuntungan pelaku usaha.
Meski demikian, batu bara masih memegang peranan krusial bagi perekonomian terbesar di Asia Tenggara ini, dengan aktivitas penambangan yang terkonsentrasi di Kalimantan dan Sumatra. Sektor ini diperkirakan menyerap 250.000 hingga 400.000 tenaga kerja, berdasarkan laporan Energy Shift Institute tahun lalu.
Juru bicara Bumi Resources menolak memberikan komentar, sementara perwakilan Adaro dan Indika belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi.(Bloomberg)
Sumber : admin