Strategi Aktif dan Selektif Penting untuk Saat Ini, Fokus pada Fundamental yang Solid dan Valuasi Wajar - Ashmore
Saturday, February 14, 2026       22:51 WIB

Ipotnews - Bursa saham Indonesia mengakhiri sesi perdagangan pekan kedua Februari, Jumat (13/2), dengan mencatatkan penurunan IHSG sebesar 0,64% ke 8,212, namun lebih tinggi dibanding penutupan akhir pekan sebelumnya di posisi 7.935. Investor asing mencatatkan arus keluar ekuitas sebesar USD205 juta dalam sepekan terakhir.
 Weekly Commentary  PT Ashmore Asset Management Indonesia menyoroti perkembangan selama sepakan terakhir sebagai berikut;

Apa yang terjadi selama sepekan terakhir
Ashmore mencatat, sektor yang mencatat kinerja terbaik adalah Energi dan Konsumer Siklikal yang masing-masing melesat +11,94% dan +10,70%. Sementara itu sektor Kesehatan dan Keuangan masing-masing melorot 0,83% dan 0,25%.
Kinerja terbaik pekan ini datang dari Indeks Nikkei (+4,96%) dan IHSG (+3,49%), sedangkan Bitcoin (-5,27%) dan harga CPO (-3,23%) mengalami koreksi.
Di AS, pasar tenaga kerja menunjukkan perbaikan dengan penurunan tingkat pengangguran menjadi 4,3% dari puncak 4,5% pada November lalu. Data  nonfarm payrolls  secara tak terduga melonjak ke level tertinggi sejak Desember 2024, dengan penambahan lapangan kerja terbesar di sektor kesehatan.
DI Eropa, harga grosir di Jerman stagnan namun lebih tinggi dari perkiraan, menandai kenaikan harga selama 14 bulan berturut-turut, didorong oleh kenaikan harga bijih dan logam. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Inggris terus melambat secara tahunan sejak puncaknya pada kuartal IV 2024, mencerminkan tahun yang menantang akibat kenaikan pajak dan ketegangan perdagangan global.
Di Asia, inflasi China tercatat lebih rendah dari perkiraan, dengan harga pangan turun untuk pertama kalinya dalam tiga bulan dan inflasi sektor kesehatan sedikit melambat.
Sedangkan di Indonesia, indeks keyakinan konsumen naik ke level tertinggi sejak Januari 2025, didorong perbaikan pada subindeks utama. Meskipun pertumbuhan penjualan ritel lebih lemah dari ekspektasi namun masih mencatat ekspansi selama delapan bulan berturut-turut.
Tetap berpijak pada fundamental
Pekan ini, Ashmore mencermati, pasar melihat tanda-tanda stabilitas di pasar tenaga kerja AS dengan tingkat pengangguran yang terus menurun secara bertahap. Data  nonfarm payrolls  juga lebih tinggi dari perkiraan, meski terdapat revisi pada data sebelumnya. Sinyal kekuatan ini menguji seberapa cepat The Fed dapat memangkas suku bunga, tercermin dari kenaikan imbal hasil jangka pendek (Treasury 12 bulan naik ke 4,8%).
Namun, ekspektasi suku bunga masih dipengaruhi kekhawatiran terhadap independensi The Fed yang berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global. Dengan masa jabatan Ketua The Fed Jerome Powell yang akan berakhir Mei mendatang, pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga bisa terjadi paling cepat Juni setelah masa jabatannya berakhir.
Ashmore juga mencermati perkembangan geopolitik yang turut memengaruhi harga komoditas. Potensi kesepakatan antara AS dan Iran meredakan kekhawatiran eskalasi geopolitik dan membuat harga minyak cenderung turun. "Meski membantu meredakan tekanan inflasi global, dinamika geopolitik yang tidak pasti masih memberi dampak signifikan terhadap pasar dibandingkan faktor permintaan saat ini," tulis Ashmore.
Di Indonesia, perkembangan diskusi antara MSCI dan otoritas terus berlanjut. Bursa Efek Indonesia berencana menerbitkan daftar konsentrasi kepemilikan saham guna meningkatkan transparansi, serupa praktik di Hongkong. "Implementasi ini, yang bergantung pada data  ultimate beneficial owner  (UBO), diharapkan meningkatkan keandalan data  free float  dan menjawab perhatian MSCI ," imbuh Ashmore.
Sedangkan Tterkait isu dari Moody's, Ashmore mencatat, otoritas menegaskan komitmen menjaga defisit fiskal di bawah 3% serta meningkatkan koordinasi moneter dan fiskal. Sementara itu, FTSE menunda evaluasi indeks Indonesia hingga melihat bukti kemajuan yang nyata.
Ashmore berpendapat, investor domestik mulai lebih tenang setelah dua pekan volatilitas tinggi, meski isu mendasar belum sepenuhnya terselesaikan. Partisipasi investor institusi dapat membantu stabilisasi, namun tetap mensyaratkan fundamental yang kuat.
"Dalam kondisi ini, strategi aktif dan selektif dinilai penting, dengan fokus pada fundamental perusahaan yang solid dan valuasi wajar untuk menghasilkan imbal hasil jangka panjang yang berkelanjutan," ungkap Ashmore.
"Volatilitas diperkirakan masih moderat dalam waktu dekat, sehingga pendekatan defensif tetap disarankan, termasuk strategi obligasi berdurasi pendek dan saham berfundamental kuat." (Ashmore)


Sumber : Admin

berita terbaru