AI News - Saham GoTo jatuh ke level Rp36 per saham pada penutupan Selasa 29 September 2026 setelah BEI menurunkan batas minimum menjadi Rp1, sementara perusahaan mencatat laba bersih Rp252 miliar pada Kuartal II 2026.
Poin Penting
- Harga penutupan GoTo pada 29 September 2026: Rp36 per saham.
- Laba bersih Kuartal II 2026: Rp252 miliar, naik dari Rp171 miliar pada Kuartal I.
- BEI menurunkan batas harga minimum menjadi Rp1 per saham pada 28 September 2026.
- Analyst Aditya Prayoga menilai penurunan di bawah Rp50 sebagai bagian dari proses price discovery.
- GoTo rencanakan pembatalan lebih dari 32 miliar saham treasury (~2,7% total) dalam RUPSLB 14 Oktober 2026.
Mengapa Saham GoTo Turun di Bawah Rp50 Setelah Penurunan Batas Minimum?
Menurut Kontan, penurunan harga di bawah Rp50 terjadi karena Bursa Efek Indonesia menurunkan batas harga minimum menjadi Rp1 per saham pada 28 September 2026, memaksa pasar menyesuaikan harga secara real-time. Perubahan aturan ini menghilangkan "gocap" sebelumnya, sehingga penjual dan pembeli harus menemukan titik keseimbangan baru tanpa perlindungan floor. Analyst Aditya Prayoga dari EmitenNews menambahkan bahwa proses price discovery ini wajar dan dapat menimbulkan volatilitas jangka pendek, namun membuka peluang likuiditas lebih baik di pasar reguler. Ia menekankan bahwa penurunan sementara tidak mencerminkan perubahan fundamental bisnis, melainkan adaptasi pasar terhadap mekanisme perdagangan yang lebih terbuka. Dengan mekanisme baru, investor dapat menilai nilai wajar saham secara lebih transparan, yang pada gilirannya dapat mengurangi ketidakpastian harga.
Apa Dampak Kinerja Fundamental Terbaru Terhadap Prospek Saham GoTo?
Kontan melaporkan bahwa GoTo mencatat laba bersih sebesar Rp252 miliar pada Kuartal II 2026, meningkat signifikan dari Rp171 miliar pada Kuartal I, dengan pendapatan bersih tumbuh 31% menjadi Rp5,7 triliun secara tahunan. Peningkatan EBITDA yang disesuaikan lebih dari 137% mencapai lebih dari Rp1 triliun, mendekati target EBITDA tahunan Rp3,2-3,4 triliun yang tetap dipertahankan manajemen. Selain itu, perusahaan menaikkan panduan EBITDA untuk unit fintech menjadi Rp1,7-1,8 triliun, meskipun menurunkan panduan untuk layanan on-demand. Analyst Abdul Azis mencatat bahwa setelah tekanan jual berkurang, investor akan kembali memusatkan perhatian pada kinerja operasional yang kuat, yang dapat mendukung valuasi jangka panjang meski harga saham berada di level rendah. Oleh karena itu, fundamental yang membaik memberikan dasar yang solid bagi investor institusional untuk mempertimbangkan posisi beli, meskipun volatilitas harga masih berlangsung.
Bagaimana Rencana Buyback dan Pembatalan Saham Treasury Dapat Mempengaruhi Harga GoTo?
Menurut Kontan, GoTo memiliki otoritas buyback hingga Rp3,5 triliun, dan harga saham saat ini di Rp36 dapat menjadi pertimbangan manajemen dalam mengeksekusi aksi tersebut, meskipun keputusan akhir tergantung pada kondisi pasar dan kebijakan internal. Selain itu, perusahaan berencana membatalkan lebih dari 32 miliar saham treasury (sekitar 2,7% total saham) melalui RUPSLB yang dijadwalkan pada 14 Oktober 2026, yang jika disetujui akan mengurangi jumlah saham beredar dan meningkatkan kepemilikan relatif pemegang saham existing. Abdul Azis menilai bahwa kedua langkah tersebut berpotensi memberikan dukungan pada harga saham dengan meningkatkan EPS dan menambah kepercayaan investor, namun efektivitasnya belum pasti karena implementasi bergantung pada persetujuan pemegang saham dan dinamika pasar. Dengan kombinasi buyback dan pengurangan saham treasury, GoTo dapat menciptakan sinyal positif bagi pasar, memperkuat fondasi harga di tengah proses price discovery yang sedang berlangsung.
Sumber : AI News