Data Ekonomi Domestik yang Positif Kalah Kuat dibanding Tekanan Yield Global dan Ketidakpastian – Ashmore
Saturday, October 03, 2026       23:31 WIB
  • Kenaikan yield US Treasury jangka panjang, penguatan dolar AS, dan harga minyak sekitar USD100/barel masih menjadi tekanan utama pasar global.
  • IHSG sempat di bawah 6.000 dan asing mencatat net sell USD210 juta, sementara rupiah menembus Rp18.000 sebelum BI melakukan intervensi.
  • Data domestik relatif positif dengan PMI 52,4, surplus perdagangan USD3,55 miliar, dan inflasi inti 2,84%, tapi ketidakpastian domestik dan global membatasi sentimen pasar.

Ipotnews - Bursa saham Asia mengakhiri sesi perdagangan di awal Oktober, Jumat (2/10), dengan mencatatkan kenaikan IHSG sebesar 0,46% menjadi 6.036, tapi turun lebih dari 200 poin dibanding akhir pekan sebelumnya di posisi 6.241. Investor asing mencatat arus keluar saham sebesar USD210 juta.
 Weekly Commentary  PT Ashmore Asset Management Indonesia mencatat beberapa peristiwa penting sepanjang pekan antara lain;

Apa yang terjadi dalam sepekan terakhir?
Ashmore mencatat sektor yang tertinggal pada pekan ini adalah Teknologi dan Barang Baku, masing-masing ambles 12,45% dan 5,29%.
Pasar berkinerja terbaik pekan ini adalah Bitcoin (+2,95%) dan Indeks Nikkei (+2,93%). Sebaliknya, terjadi koreksi pada minyak mentah (-4,83%) dan gas alam (-4,49%).
Di AS, pertumbuhan ekonomi kuartal II dikonfirmasi sebesar 2,2%, jauh di atas ekspektasi 1,5%, meski di bawah estimasi sebelumnya sebesar 2,5%. Angka inflasi yang ditunjukkan harga core PCE naik 0,2% pada Agustus, di bawah ekspektasi 0,3%. Core PCE merupakan indikator inflasi dasar yang menjadi acuan utama The Fed, sehingga angka yang lebih rendah meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga pada Oktober.
Aktivitas manufaktur AS tetap berada dalam fase ekspansi, dengan indeks ISM sebesar 54,5, sedikit berubah dari 54,6 dan hanya di bawah perkiraan 55. Di Kanada, ekonomi tumbuh 0,2% pada Agustus setelah stagnan pada Juli, sesuai ekspektasi. Sementara aktivitas manufaktur melambat menjadi 51,5 dari 53,0, di bawah perkiraan 52,9.
Di Eropa, sentimen ekonomi kawasan Euro turun menjadi 97,9 dari 98,4, di bawah ekspektasi 99, meskipun tingkat pengangguran tetap 6,4%. Inflasi di Jerman meningkat menjadi 3,3% dari 2,9%, sedikit di atas perkiraan 3,2%, membuat tekanan yang tetap tinggi terhadap Bank Sentral Eropa (ECB) setelah kenaikan suku bunga pada awal bulan ini. Tingkat pengangguran Jerman tidak berubah di 6,4%.
Di Asia, data China menunjukkan perkembangan positif. Aktivitas manufaktur kembali tumbuh ke level 50,1 dari 49,8, sesuai ekspektasi, sementara aktivitas sektor jasa dan konstruksi melampaui perkiraan dengan berada di 50,2 dibandingkan proyeksi 49,3.
"Ini menjadi sinyal positif bagi Indonesia karena China merupakan mitra dagang terbesar Indonesia," tulis Ashmore. Di Jepang, tingkat kepercayaan perusahaan manufaktur besar meningkat menjadi 24 dari 22, meskipun sedikit di bawah ekspektasi 25, sementara tingkat pengangguran naik tipis menjadi 2,5%.
Di dalam negeri, inflasi tahunan meningkat menjadi 3,28% dari 3,19%, sesuai ekspektasi, terutama didorong oleh kenaikan harga pangan, sementara inflasi inti melandai menjadi 2,84%. Surplus perdagangan melebar tajam menjadi USD3,55 miliar dari USD0,13 miliar, jauh di atas ekspektasi USD0,6 miliar.
Ekspor minyak sawit, bahan bakar mineral, serta besi dan baja lebih dari mengimbangi defisit migas sebesar USD2,54 miliar. Impor juga tumbuh kuat, naik 19% secara tahunan, terutama didorong bahan baku. "Hal ini sejalan dengan peningkatan aktivitas manufaktur, sementara surplus perdagangan yang lebih besar memberikan dukungan positif bagi nilai tukar rupiah," imbuh Ashmore.
Harga minyak stabil saat yield naik
Ashmore mencermati, kenaikan suku bunga jangka panjang tetap menjadi tema utama pekan ini. Imbal hasil US Treasury 10 tahun mencapai 5,34% pada Kamis lalu, level tertinggi sejak 2002, sebelum turun menjadi 5,23%. Harga minyak bergerak di sekitar USD100 per barel, karena pemulihan ekspor minyak mentah dari kawasan Teluk diimbangi penghentian ekspor bahan bakar oleh China.
Di Indonesia, IHSG sempat turun di bawah 6.000 sebelum ditutup di 6.037. Investor asing menjual bersih saham senilai USD210 juta hingga Kamis lalu. Rupiah sempat menembus Rp18.000 per dolar AS sebelum Bank Indonesia melakukan intervensi dan mengakhiri pekan di Rp17.875.
Di AS, kondisi ekonomi menunjukkan sinyal beragam. Inflasi inti yang lebih rendah, ditambah komentar Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams bahwa "tidak ada kebutuhan untuk bertindak terburu-buru", memangkas probabilitas kenaikan suku bunga pada Oktober menjadi sekitar 24%. Namun, pasar masih memperkirakan peluang kenaikan pada Desember sebesar 76%.
Di sisi lain, imbal hasil jangka panjang terus meningkat karena perusahaan manufaktur melaporkan kenaikan tajam biaya input, dan prospek konflik berkepanjangan menjaga ekspektasi inflasi tetap tinggi. "Pasar memperkirakan The Fed akan bergerak lebih lambat, tetapi khawatir inflasi dan biaya pinjaman pemerintah akan tetap tinggi dalam waktu lebih lama," sebut Ashmore.
Sementara itu, dolar AS naik ke level tertinggi sejak April 2025, sementara indeks MSCI Emerging Markets turun 1,3% sepanjang pekan.
Di kawasan Teluk, Ashmore mencatat pasokan minyak mentah membaik meski diplomasi mengalami kebuntuan. Pengiriman minyak mentah dari Timur Tengah meningkat kembali menjadi sekitar 16 juta barel per hari pada September, level tertinggi sejak perang dimulai, didukung pengiriman Arab Saudi dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah.
"Tekanan kini bergeser ke bahan bakar olahan seperti diesel dan bahan bakar jet, dengan pasokan masih sekitar setengah dari level normal. Penghentian ekspor bahan bakar oleh China semakin memperketat pasar tersebut, " papar.
Dalam perkembangan diplomatik, Ashmore mencermati sikap Presiden AS Donald Trump yang menolak tawaran Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari. Iran masih meninjau tanggapan resmi AS, sementara kedua pihak masih berbeda pandangan mengenai siapa yang harus mengambil langkah pertama.
Di dalam negari, menurut Ashmore, data ekonomi domestik secara umum cukup positif. Inflasi naik menjadi 3,28% pada September akibat kenaikan harga pangan, tetapi inflasi inti turun menjadi 2,84%, menunjukkan tekanan harga belum meluas.
PMI manufaktur meningkat ke level tertinggi dalam tujuh bulan, yaitu 52,4, sementara surplus perdagangan Agustus melebar tajam menjadi USD3,55 miliar.
Parlemen juga mengesahkan APBN 2027 dengan defisit sebesar 2,4% terhadap PDB. Asumsi anggaran tersebut mencakup rupiah di level Rp17.500 per dolar AS, yield SBN 10 tahun 6,5%, dan harga minyak US$75 per barel.
Namun, Ashmore menilai, sentimen pasar terbebani perombakan kabinet pada 1 Oktober. Perubahan tersebut mencakup menteri luar negeri, perindustrian, serta politik dan keamanan, yang dinilai sejumlah analis meningkatkan ketidakpastian arah kebijakan.
"Keputusan bursa menurunkan harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1 juga menyebabkan penurunan tajam pada sejumlah saham yang sebelumnya tertahan di batas harga minimum," ungkap Ashmore.
Ashmore mencatat, setelah rupiah menembus Rp18.000, Bank Indonesia meningkatkan intervensi di pasar valuta asing serta melalui pembelian obligasi pemerintah. Premi imbal hasil obligasi Indonesia terhadap US Treasury masih sekitar 1,9%, dibandingkan sekitar 2,5% sebelum perang AS-Iran.
Secara keseluruhan, menurut Ashmore, data ekonomi domestik yang positif masih kalah kuat dibandingkan tekanan dari kenaikan yield jangka panjang global dan ketidakpastian domestik.
Ashmore berpendapat, dengan IHSG berada lebih dari seperempat di bawah level sebelum perang, valuasi saham terlihat lebih menarik bagi investor jangka panjang, meski volatilitas jangka pendek diperkirakan tetap tinggi.
"Kami tetap memilih perusahaan yang likuid, transparan, dan memiliki fundamental kuat, disertai obligasi berkualitas yang menawarkan pendapatan stabil, dalam portofolio yang terdiversifikasi berdasarkan wilayah dan kelas aset," papar Ashmore.
"Hal-hal utama yang perlu diperhatikan adalah laporan ketenagakerjaan AS, respons Iran terhadap proposal AS, serta apakah yield jangka panjang akan stabil menjelang pertemuan The Fed pada Oktober dan Desember." (Ashmore/AI)


Sumber : Admin