BBCA Perkuat Layanan Halo BCA hingga Deteksi Fraud
Friday, February 06, 2026       16:31 WIB

JAKARTA, investor.id -PT Bank Central Asia Tbk () berupaya memperkuat layanan Contact Center dan sistem perlindungan nasabah, seiring perubahan transaksi masyarakat yang bergeser ke kanal digital.
EVP Contact Center & Digital Service BCA () Adrianus Wagimin menuturkan, kemudahan layanan digital membawa manfaat besar bagi nasabah namun juga meningkatkan potensi risiko kejahatan berbasis sosial engineering.
"Sekarang semuanya bergerak ke layar handphone. Nasabah ingin serba cepat, serba simpel, dan itu mengubah behavior transaksi secara fundamental," ujar Adrianus dalam sesi diskusi di BCA Expoversary 2026 di ICE, BSD. Jumat (6/2/2026).
Dia mencatat, lebih dari 98% transaksi nasabah saat ini sudah beralih ke kanal digital, baik melalui mobile banking, internet banking, hingga pembayaran berbasis QR dan kartu.
Namun, kecepatan tersebut kadang memicu kecerobohan, mulai dari salah transfer, kelebihan bayar kartu kredit, hingga memberikan data sensitif karena panik atau terburu-buru.
"Kasus orang bayar tagihan Rp 200 juta tapi transfer Rp 2 miliar itu ada, atau salah masukkan nominal karena buru-buru. Perilaku ingin cepat ini membuka celah risiko kalau tidak hati-hati," katanya.
Lebih lanjut, mencermati peningkatan signifikan kejahatan digital secara nasional. Mengacu data Indonesia Anti-Scam Center ( IASC ) OJK, terdapat lebih dari 411 ribu laporan kejahatan digital dalam setahun terakhir dengan nilai kerugian mencapai Rp 9 triliun.
Menurut Adrianus, pola penipuan masih berkutat pada dua kategori besar, yakni scamming dan phishing, meski dengan modus yang terus berkembang. Mulai dari peniru identitas bank, e-commerce, hingga rekayasa kasus darurat seperti keluarga sakit atau kecelakaan.
"Fraudster sekarang makin pintar. Mereka memanfaatkan momen emosional. Ada yang ditelepon bahwa anaknya kecelakaan, terdengar suara ambulans, lalu diminta transfer segera," ujarnya.
Dia menegaskan, korban tidak mengenal gender maupun usia. Data internal menyebut, 55% korban berada di rentang usia 26-35 tahun, disusul 28% pada kelompok 36-50 tahun.
"Ini membuktikan semua demografi rentan. Kuncinya adalah kewaspadaan," katanya.
Respons fraud 
Setiap laporan fraud yang masuk, menurut Adrianus, ditangani dengan standar kecepatan tinggi karena perpindahan dana via digital berlangsung dalam hitungan detik.
"Begitu nasabah sadar ada penipuan, aliran dana biasanya sudah berpindah dari rekening A ke B hingga C. Karena itu kami langsung melakukan verifikasi, memproteksi rekening, dan mengoordinasikan tracking dana antarbank," jelasnya.
Halo BCA juga berkolaborasi dengan kepolisian, BI, Kominfo, , serta berbagai pelaku ekosistem digital untuk mempercepat proses pemblokiran dan investigasi.
Sebagai bagian dari transformasi digital, sejak 2020 mengembangkan Halo BCA App, yang kini terintegrasi penuh dengan platform myBCA. Aplikasi ini memudahkan nasabah melakukan pelaporan dan pemblokiran mandiri tanpa harus menunggu sambungan telepon.
"Dengan aplikasi, nasabah bisa live chat, cek status laporan seperti tracking pengiriman makanan, memblokir kartu, mengatur limit, membuka blokir PIN, hingga melakukan pengkinian data. Semuanya serba cepat," ujar Adrianus.
Dia menambahkan, fitur-fitur tersebut bukan hanya mempermudah akses layanan, tetapi juga mengurangi waktu respons ketika terjadi indikasi kejahatan digital.
Selain itu, juga aktif memperluas edukasi anti-fraud melalui berbagai kanal komunikasi. Selain itu, perseroan menjadi anggota aktif Indonesia Anti-Scam Center ( IASC ) dan menempatkan perwakilan langsung di pusat layanan OJK tersebut.
"Kami membangun sistem deteksi fraud end-to-end dan memperkuat ekosistemnya. Penanganan kejahatan digital tidak bisa dilakukan satu pihak saja," tegasnya.
Adrianus menegaskan, terus memperkuat kapabilitas teknologi, SDM, dan kolaborasi lintas lembaga untuk menjaga keamanan transaksi nasabah di tengah evolusi digital yang sangat cepat.
"Komitmen kami jelas, melindungi nasabah dan menangani setiap permasalahan dengan serius. Digitalisasi membawa kemudahan, tapi kewaspadaan tetap nomor satu," ungkapnya.

Sumber : investor.id