BCA (BBCA) Februari 2026: Kredit Melambat Lagi, Laba Tumbuh Tipis
Monday, March 16, 2026       10:04 WIB

JAKARTA, investor.id- PT Bank Central Asia Tbk () atau BCA melaporkan laba bersih secara individual pada Februari 2026 senilai Rp 4,22 triliun atau turun 15,39% secara bulanan ( month on month /mom). Hasil tersebut membuat laba Januari-Februari atau 2M26 menjadi Rp 9,22 triliun atau tumbuh 2,81% secara tahunan ( year on year /yoy).
Berdasarkan laporan keuangan yang dikutip pada Minggu (15/3/2026), pendapatan bunga cuma tumbuh 0,79% yoy menjadi Rp 14,98 triliun.
Penyaluran kredit bergerak melambat dengan pertumbuhan hanya 5,84% yoy menjadi Rp 953,22 triliun, menandai perlambatan selama dua bulan beruntun. Hasil ini kian menjauh dari sasaran manajemen yang memasang target pertumbuhan 8-10% sepanjang tahun 2026.
Sedangkan beban bunga naik 6,90% yoy menjadi sebesar Rp 2,12 triliun. Alhasil, pendapatan bunga bersih ( net interest income /NII) turun tipis 0,15% yoy menjadi Rp 12,85 triliun.
Kinerja BCA yang agak termoderasi juga tecermin dari margin bunga bersih ( net interest margin /NIM) yang bergerak turun dari 5,35% pada Januari menjadi 5,00% per Februari. Begitu juta NIM secara tahunan yang tercatat 5,67% pada 2M25 menjadi 5,19% untuk 2M26.
BCA sendiri memasang target NIM 2026 dapat berada dalam kisaran 5,4-5,6%.
Namun demikian, laba tahun berjalan masih dapat tumbuh positif karena dua hal. Pertama , pendapatan komisi tetap terangkat 9,09% yoy menjadi Rp 3,25 triliun.
 Kedua , biaya provisi yang dibukukan tidak banyak berubah dalam dua bula kinerja, sehingga tercatat lebih rendah 18,80% yoy menjadi Rp 491,11 miliar. Hal tersebut juga terefleksi dari penurunan biaya kredit ( cost of credit /CoC) yang tetap rendah dan bahkan turun ke level 0,31% pada 2M26, di bawah guidance 0,4-0,5% pada tahun ini.
DPK Tumbuh Solid, Makin Tebal
Dari sisi pendanaan, kinerja dana pihak ketiga (DPK) tumbuh solid sebesar 9,37% yoy menjadi sebesar Rp 1.227,76 triliun pada 2M26.
Pertumbuhan tersebut didorong instrumen-instrumen dana murah. Secara rinci, giro Rp 431,51 triliun (+22,27% yoy), tabungan Rp 609,99 triliun (+7,28% yoy), dan deposito Rp 186,25 triliun (-5,05% yoy).
Komposisi tersebut mendorong total dana murah sendiri meningkat 13,02% yoy menjadi Rp 1.041,51 triliun. Sehingga rasio dana murah ( current account saving account /CASA) dari BCA makin tebal ke level 84,83% per Februari 2026.
Sementara aspek likuiditas relatif terjaga rendah dengan indikator loan to deposit ratio (LDR) sebesar 77,64% di akhir Februari. Ruang yang cukup luas untuk posisi likuiditas ini selaras kinerja kredit yang cuma tumbuh terbatas, meskipun DPK tumbuh tinggi.
Adapun pada perdagangan Jumat (13/3/2026), saham terkontraksi sedikit 25 poin (-0,36%) menjadi 6.875. Sementara secara tahun berjalan ( year to date /ytd), saham BCA turun 14,86% dari posisi akhir tahun lalu yang sebesar 8.075.

Sumber : investor.id