BRI (BBRI) Januari 2026: Kredit Loncat, Laba Lompat 85,4%
Monday, March 02, 2026       10:03 WIB

JAKARTA, investor.id -PT Bank Rakyat Indonesia Tbk () mencatatkan awal tahun yang impresif dengan perolehan laba bersih individual senilai Rp 3,72 triliun pada Januari 2026. Angka ini melonjak 85,40% dibandingkan periode yang sama tahun lalu ( year on year /yoy), didorong oleh pemulihan pendapatan bunga dan efisiensi beban provisi.
Pencapaian laba ini sangat dipengaruhi oleh efek basis rendah ( low base effect ) pada Januari 2025, di mana saat itulaba BRIsempat tertekan akibat pencadangan besar-besaran untuk program hapus buku kredit UMKM . Sebagai gambaran, laba bersih BRI pada Januari 2025 hanya sebesar Rp 2,00 triliun, merosot dalam 58,34% yoy.
Jika mengaculaporan keuanganBRIpada Minggu (1/3/2026), laba bersih pada Januari 2026 sebenarnya juga tercatat menurun 24,87% dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai Rp 4,95 triliun.
Memasuki awal tahun 2026, sisi intermediasi menjadi motor utama pertumbuhan.Kredit BRImelompat 11,95% yoy menjadi Rp 1.354,08 triliun. Ini merupakan level pertumbuhan tertinggi dalam 12 bulan terakhir, melampaui guidance tahunan manajemen secara grup yang dipatok di angka 7-9%.
Pendapatan bunga dibukukan Rp 13,24 triliun atau naik 1,90% yoy, meski tumbuh tipis tetapi juga mencatat pertumbuhan tertinggi sejak 12 bulan terakhir. Sementara tekanan beban bunga mulai mereda, dimana telah terjadi penurunan 15,21% yoy menjadi Rp 3,45 triliun.
Alhasil, pendapatan bunga bersih ( net interest income /NII) berhasil dikerek 9,71% yoy menjadi Rp 9,78 triliun.
Kinerja positif itu pada gilirannya ikut mendongkrak margin bunga bersih ( net interest margin /NIM) yang naik dari posisi 6,15% pada 1M25 menjadi 6,32% di 1M26. Adapun BRI Grup memasang NIM dapat dijaga dalam di kisaran 7,4% hingga 7,8% untuk tahun 2026.
Selain itu, perolehan komisi/fee pada Januari 2026 mulai tumbuh positif sebesar 3,33% yoy menjadi sebesar Rp 1,65 triliun. Sebelumnya pada tahun lalu, pos ini mencatatkan penurunan hampir sepanjang tahun, kecuali pada Desember.
Pemulihan kinerja juga tecermin dari biaya kredit ( cost of credit /CoC) yang turun signifikan dari 5,57% ke level 3,67%. Hal ini dimungkinkan karena beban provisi yang lebih moderat, yakni Rp 4,12 triliun atau turun 26,63% yoy.
Likuiditas Mengetat, Muncul PenawaranObligasi
Di tengah laju cepat penyaluran kredit, likuiditas BRI mulai kehabisan ruang. Posisi loan to deposit ratio (LDR) bank yang baru saja berganti logo ini tercatat sebesar 90,53% di akhir Januari 2026.
Meski demikian, ekspansi sisi pendanaan BRI tetap berlangsung lewat langkah terbaru BRI yang menawarkan obligasi berwawasan sosial senilai Rp 5 triliun, berikut kupon 4,85% - 5,95%. Dalam prospektus yang terbit pada Jumat (27/2/2026), dana tersebut rencananya akan digunakan untuk pembiayaan kembali ( refinancing ) proyek sosial, terutama infrastruktur dasar terjangkau.
Selain itu, kinerjadana pihak ketiga(DPK) juga mulai dipacu dengan realisasi pertumbuhan sebesar 9,96% yoy atau kini mencapai Rp 1.495,69 triliun. Secara rinci, instrumen giro mencapai Rp 458,41 triliun (+24,97% yoy), tabungan Rp 586,84 triliun (+10,34% yoy), dan deposito sebesar Rp 450,44 triliun (-2,40% yoy).
Dengan struktur pendanaan itu, rasio dana murah ( current account saving account /CASA) semakin tangguh di level 69,88% per Januari 2026, sekaligus mengakomodasi BRI untuk menjaga biaya dana lebih stabil di masa mendatang.
Pada perdagangan Jumat (27/2/2026),saham turun 40 poin atau -1,01% menjadi 3.910. Secara year to date (ytd), saham tercatat naik sebesar 6,83%.

Sumber : investor.id