Diam-Diam 8 Emiten RI Ini Dikuasai Amerika
Thursday, February 19, 2026       11:55 WIB

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar modal Indonesia (BEI) memiliki banyak ragam latar belakang investor baik dari skala kecil hingga besar, termasuk Amerika Serikat (AS).
Negeri "Paman Sam" melalui berbagai korporasi multinasional dan Private Equity (PE) telah lama meletakkan uangnyapadabisnisdi Tanah Air dengan porsi kepemilikan cukup besar, melampaui batas 5%.
Berdasarkan penelusuran data pemegang saham terbaru hingga 31 Desember 2025, berikut adalah deretan emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dikendalikan atau dimiliki secara signifikan oleh entitas asal Amerika Serikat.
Emiten Dengan Kepemilikan Saham AS di atas 5%
Kode SahamNama EmitenInvestor / Entitas ASEstimasi KepemilikanSifat Kepemilikan
Asuransi Bina Dana ArtaWarburg Pincus (via OONA )86,75%Pengendali Utama (Beneficial)
BFI FinanceTPG Capital~51,19%Pengendali Bersama
Centratama TelekomunikasiDigitalBridge76,80%Pengendali Utama
Cisarua Mountain DairyGeneral Atlantic5,64%Investasi Strategis
Goodyear IndonesiaGoodyear Tire & Rubber85,00%Pengendali Mutlak
HM SampoernaPhilip Morris International92,50%Pengendali Mutlak
MAP Boga AdiperkasaGeneral Atlantic20,10%Signifikan Minoritas
City Retail DevelopmentsWarburg Pincus~75,25%Pengendali Utama (JV Structure)

Raksasa Industri: Pengendali Mutlak
Di sektor manufaktur, nama PT HM Sampoerna Tbk () dan PT Goodyear Indonesia Tbk () adalah bukti nyata dominasi modal AS yang sudah mengakar puluhan tahun.
dikendalikan penuh oleh Philip Morris International Inc., raksasa tembakau yang berbasis di Connecticut, AS. Melalui PT Philip Morris Indonesia, mereka menggenggam 92,50% saham .
Kepemilikan super mayoritas ini menjadikan sebagai "mesin uang" utama Philip Morris di Asia Tenggara, terutama dengan ekspansi pabrik produk tembakau bebas asap mereka di Karawang.
Kemudian, yang merupakan produsen ban di tanah air, mayoritas sahamnya dipegang langsung oleh The Goodyear Tire & Rubber Company asal Ohio, AS. Porsi kepemilikannya mencapai 85,00%, menjadikannya pengendali utama yang sangat dominan.
Gebrakan Private Equity: Warburg Pincus & DigitalBridge
Bergeser ke sektor infrastruktur dan properti, Private Equity AS terlihat sangat agresif mencaplok aset strategis melalui skema akuisisi yang cukup canggih dan kompeksdi dalamnya.
PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk (), emiten menara telekomunikasi, kini berada di bawah kendali DigitalBridge Group, Inc. Melalui anak usahanya EP ID Holdings Pte. Ltd, raksasa infrastruktur digital asal Florida ini menguasai 76,80% saham .
Sementara itu, Warburg Pincus, salah satu Private Equity tertua dari New York, bermanuver pada dua sektor berbeda di emiten Indonesia. Di sektor asuransi, mereka menjadi beneficial owner dari PT Asuransi Bina Dana Arta Tbk () dengan kepemilikan 86,75% melalui OONA Indonesia Pte. Ltd.
Di sektor properti ritel, Warburg Pincus mengendalikan PT City Retail Developments Tbk (). Lewat entitas PT Orion Global Development, mereka memiliki 75,25% saham untuk mengelola jaringan mal di kota-kota Indonesia.
Taruhan pada Gaya Hidup Kelas Menengah
Investor AS juga tertarik dengan daya beli kelas menengah Indonesia. General Atlantic, firma growth equity asal New York, tercatat memiliki porsi saham signifikan di dua emiten konsumer favorit.
Mereka memegang 20,10% saham PT MAP Boga Adiperkasa Tbk (), pengelola Starbucks dan Subway di Indonesia. Selain itu, General Atlantic juga memarkir dananya di PT Cisarua Mountain Dairy Tbk () alias Cimory dengan kepemilikan sebesar 5,64%, sebuah keyakinan kuat terhadap potensi pasar yogurt dan frozen food premium.
Jejak TPG di Multifinance
Terakhir, di sektor pembiayaan, PT BFI Finance Indonesia Tbk () memiliki jejak kuat modal AS melalui TPG Capital. Konsorsium Trinugraha Capital & Bravo Investments yang memiliki 51,19% saham , secara historis didukung oleh Northstar Group yang bermitra strategis dengan TPG Capital (Texas Pacific Group), salah satu firma investasi terbesar di dunia.
Keberadaan para raksasa AS ini dengan porsi kepemilikan di atas 5% hingga 90% menjadi sinyal bahwa aset-aset di pasar modal Indonesia memiliki valuasi dan prospek pertumbuhan yang signifikan di mata investor global, terlepas dari volatilitas pasar yang saat ini sedang terjadi.

Sumber : www.cnbcindonesia.com