Dolar AS Anjlok ke Level Terendah Dua Pekan Akibat Ancaman Tarif Trump
Wednesday, January 21, 2026       09:38 WIB

JAKARTA, investor.id -Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) merosot ke level terendah dalam dua pekan terakhir seiring meningkatnya biaya lindung nilai ( hedging ) mata uang. Penurunan ini dipicu oleh sikap keras Presiden AS Donald Trump yang tidak menunjukkan tanda-tanda mundur dalam upayanya merebut kendali atas Greenland dari Denmark, serta ancaman tarif baru terhadap Prancis.
Bloomberg Dollar Spot Index tergelincir ke titik terlemahnya sejak 6 Januari 2026, menandai kinerja dua hari terburuk dalam sebulan terakhir. Di sisi lain, seperti dikutip Bloomberg pada Rabu (21/1/2026), mata uang Euro melonjak ke level tertinggi dalam dua pekan, sementara Franc Swiss memimpin penguatan di antara mata uang negara-negara maju (G-10).
Ancaman Perang Dagang dan Boikot Obligasi AS
Sentimen negatif pasar diperparah oleh ancaman Trump untuk memberlakukan tarif terhadap negara-negara Eropa yang menentang rencananya atas Greenland. Selain itu, Trump juga melontarkan rencana tarif 200% pada produk anggur dan sampanye asal Prancis setelah Presiden Emmanuel Macron menolak undangan inisiatif perdamaian terbarunya.
Kekhawatiran pasar kian nyata setelah sebuah dana pensiun asal Denmark, yang memegang obligasi pemerintah AS ( Treasuries ) senilai US$ 100 juta, menyatakan bahwa AS bukan lagi negara dengan "kredit yang baik" dan berkomitmen untuk menjual aset-aset tersebut.
Langkah ini menjadi pukulan telak bagi AS, meskipun Menteri Keuangan Scott Bessent sebelumnya telah mengimbau pasar untuk tetap tenang dan membantah isu Eropa akan membuang aset-aset AS.
Elias Haddad, kepala strategi pasar global di Brown Brothers Harriman & Co, menilai pelemahan dolar mencerminkan peningkatan aksi hedging oleh investor non-AS yang memegang sekuritas dalam dolar. Data dari Depository Trust & Clearing Corporation menunjukkan sejak awal pekan ini, investor lebih condong mengambil posisi beli pada Euro dan Dolar Australia dibandingkan Dolar AS.
"Pasar telah bereaksi, namun jelas masih ada ruang untuk pergerakan yang lebih besar jika retorika politik ini terus meningkat," tulis kepala riset makro global di Deutsche Bank AG Jim Reid. Meski demikian, para analis menilai pelemahan kali ini kemungkinan tidak akan sedalam krisis April 2025 karena para pedagang global kini memiliki rasio hedging yang lebih matang terhadap aset-aset AS.
Melemahnya nilai tukar dolar AS pada awal 2026 tidak dapat dilepaskan dari pergeseran kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang kian agresif dan transaksional. Isu akuisisi Greenland yang melibatkan Denmark bukan lagi sekadar wacana diplomatik, melainkan telah bertransformasi menjadi pemicu ketidakstabilan ekonomi di kawasan Transatlantik.
Dolar AS secara historis dianggap sebagai aset aman ( safe haven ) utama dunia. Namun, ketika pemerintah AS menggunakan kekuatan ekonominya melalui ancaman tarif terhadap sekutu-sekutu dekatnya di dan Uni Eropa, kepercayaan pasar terhadap stabilitas finansial AS mulai goyah.
Fenomena pelepasan obligasi pemerintah AS oleh institusi keuangan Eropa, seperti dana pensiun Denmark, menunjukkan bahwa status AS sebagai peminjam yang paling tepercaya di dunia sedang diuji.
Dalam situasi di mana ketegangan politik berpadu dengan ketidakpastian perdagangan, investor cenderung melakukan diversifikasi ke mata uang yang dianggap lebih stabil seperti Franc Swiss atau Euro untuk melindungi nilai kekayaan mereka dari fluktuasi kebijakan yang tak terduga dari Gedung Putih.

Sumber : investor.id