Harga Emas Ambrol 2% Lebih, Tertekan Dolar AS dan The Fed
Monday, February 02, 2026       10:21 WIB

JAKARTA, investor.id -Harga emas dunia ambrol 2% lebih pada perdagangan Senin (2/2/2026) pagi. Pelemahan itu karena tertekan penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan sikap pasar yang masih menimbang arah kebijakan moneter AS di bawah calon Ketua The Fed Kevin Warsh.
Harga emas hari ini terlihat 2,25% ke level US$ 4.758,56 per ons troi saat berita ditulis. Penurunan ini memperpanjang koreksi setelah emas sempat menyentuh level terendah lebih dari sepekan pada Jumat lalu. Padahal, emas baru saja mencetak rekor tertinggi sepanjang masa ( all time high /ATH) di US$ 5.594,82 per ons troi pada Kamis (29/1/2026).
Berbeda dengan pasar spot, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari justru naik 0,55% ke posisi US$ 4.775,76 per ons troi.
Dikutip dari Reuters, Tekanan terhadap harga emas sejalan dengan penguatan dolar AS. Mata uang Negeri Paman Sam bertahan di zona hijau setelah pelaku pasar mencermati potensi kebijakan The Fed jika dipimpin Kevin Warsh, yang dikenal memiliki preferensi terhadap neraca bank sentral yang lebih ramping.
Penguatan dolar membuat emas yang dihargakan dalam dolar AS menjadi lebih mahal bagi investor pemegang mata uang lain, sehingga menekan permintaan.
Penunjukan Warsh oleh Presiden AS Donald Trump sebagai calon Ketua The Fed dinilai memenuhi banyak kriteria politik dan profesional. Namun, pasar masih menunggu kepastian sejauh mana dan seberapa cepat Warsh akan memangkas suku bunga, serta seberapa agresif ia akan melakukan perubahan kebijakan di bank sentral AS.
Data Ekonomi AS
Dari sisi data ekonomi, inflasi produsen AS pada Desember tercatat meningkat paling tinggi dalam lima bulan terakhir. Kenaikan ini sebagian dipicu oleh dampak tarif impor, yang memunculkan kekhawatiran inflasi dapat kembali menguat dalam beberapa bulan ke depan. Kondisi tersebut membuka ruang bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga lebih lama.
Meski demikian, pelaku pasar masih memperkirakan setidaknya akan ada dua kali pemangkasan suku bunga sepanjang 2026. Secara historis, emas cenderung berkinerja lebih baik dalam lingkungan suku bunga rendah karena tidak memberikan imbal hasil bunga.
Sementara itu, harga perak mulai menunjukkan pemulihan. Harga perak anjlok 2,82% ke level US$ 82,8 per ons, setelah sebelumnya tertekan ke posisi terendah lebih dari tiga pekan pada Jumat (30/1/2026). Perak sendiri sempat mencetak rekor tertinggi di US$ 121,64 per ons pada Kamis (29/1/2026).
Di pasar logam mulia lainnya, harga platinum ambles 4,31% ke US$ 2.100,59 per ons, setelah sebelumnya mencapai rekor tertinggi US$ 2.918,80 pada 26 Januari. Sementara itu, palladium anjlok 2,36% ke level US$ 1.672,04 per ons.

Sumber : investor.id