Harga Emas Ngebut, Bersiap Menuju US$ 5.300
Wednesday, January 28, 2026       13:54 WIB

JAKARTA, investor.id- Harga emas dunia terus melaju kencang dan berpotensi mencetak rekor baru pada perdagangan Rabu (28/1/2026). Logam mulia berstatus safe haven ini diperkirakan melanjutkan tren penguatan menuju US$ 5.300 per ons troi, didorong meningkatnya ketegangan geopolitik global serta tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Harga emas hari ini terlihat melonjak 1,48% ke level US$ 5.258,55 per ons troi saat berita ditulis. Setelah sempat menembus rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di level US$ 5.266,38 per ons troi di awal perdagangan.
Penguatan ini memperpanjang reli emas yang telah berlangsung selama beberapa hari terakhir, seiring meningkatnya minat investor terhadap aset lindung nilai di tengah volatilitas ekonomi global.
Analis Dupoin Futures Andy Nugraha mencatat, harga emas telah menguat selama tujuh hari berturut-turu. Sentimen geopolitik menjadi faktor utama yang mendorong lonjakan permintaan emas.
"Ketegangan geopolitik global membuat investor kembali memburu aset aman. Di saat yang sama, potensi intervensi di pasar valuta asing, khususnya untuk menopang yen Jepang, turut memperkuat daya tarik emas," ujar Andy dalam risetnya.
Dari sisi teknikal, Andy menilai tren penguatan emas masih sangat solid. Pola candlestick bullish yang dikombinasikan dengan indikator Moving Average menunjukkan bias pasar tetap berada di jalur bullish.
"Selama tekanan beli bertahan, harga emas berpeluang menembus level psikologis US$ 5.300. Ini akan menjadi konfirmasi kuat kelanjutan tren naik emas," jelasnya.
Meski demikian, Andy mengingatkan potensi koreksi tetap terbuka. Jika momentum penguatan melemah, harga emas berpeluang turun ke area support di sekitar US$ 5.155.
Pelemahan Dolar AS
Penguatan emas juga ditopang oleh pelemahan dolar AS. Indeks dolar AS terus tertekan dan berada di level terendah dalam beberapa tahun terakhir, sehingga membuat emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih menarik bagi investor global.
Tekanan terhadap dolar semakin besar setelah pernyataan Presiden AS yang menyebut nilai dolar berada di level 'cukup kuat'. Pernyataan tersebut justru dipersepsikan pasar sebagai sinyal inkonsistensi kebijakan fiskal dan moneter, sehingga mendorong aliran dana ke aset aman seperti emas.
Selain faktor geopolitik dan nilai tukar, Andy mengatakan, perhatian pasar kini tertuju pada keputusan suku bunga The Fed yang akan diumumkan hari ini. Meski suku bunga diperkirakan tetap, arah komentar Ketua The Fed Jerome Powell dinilai akan menjadi penentu pergerakan pasar selanjutnya.
Nada dovish dari Powell berpotensi menekan dolar lebih lanjut dan mendorong harga emas menanjak. Sebaliknya, sikap hawkish dapat menahan laju reli emas dalam jangka pendek.
Andy memaparkan, ketidakpastian ekonomi global juga tercermin dari data ekonomi AS terbaru.
Indeks Kepercayaan Konsumen tercatat anjlok ke level terendah sejak 2014, memperkuat kekhawatiran pasar terhadap prospek ekonomi dan meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.
"Dengan kombinasi sentimen geopolitik, tekanan dolar, dan ekspektasi kebijakan moneter, harga emas diperkirakan masih berada dalam tren bullish jangka pendek. Level US$ 5.300 menjadi target psikologis berikutnya, sementara area US$ 5.155 dipantau sebagai support utama jika terjadi koreksi," tutup Andy.

Sumber : investor.id