Menelusuri Harta Karun Merdeka Copper (MDKA) di Gunung Tumpang Pitu
Wednesday, November 12, 2025       08:40 WIB

BANYUWANGI, investor.id -Di ujung selatan Banyuwangi, Jawa Timur, tepat di kaki Gunung Tumpang Pitu, terbentang gugusan perbukitan yang menatap langsung ke Samudra Hindia. Dari kejauhan, tujuh puncaknya menjulang berurutan seolah menjadi penjaga pesisir selatan Pulau Jawa. Dari sanalah nama Tumpang Pitu, yang berarti tujuh tumpukan bukit, berasal.
Gunung Tumpang Pitu bukan sekadar lanskap alam yang memesona. Di balik vegetasi tropis dan udara lembap pesisir, tersimpan potensi sumber daya mineral yang luar biasa. Kini, kawasan ini menjadi salah satu pusat aktivitas pertambangan emas dan tembaga terbesar di Pulau Jawa, dikelola oleh PT Bumi Suksesindo (BSI) anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk ().
Dalam kunjungan Investor Daily ke lokasi tambang pada Mine Tour & Media Workshop (7 November 2025), terbentang jelas bagaimana membangun tambang modern berwawasan lingkungan di tengah lanskap menantang.
"Kalau beroperasi penuh, Tambang Tembaga Tujuh Bukit bisa jadi tambang tembaga terbesar ketiga di Indonesia setelah Freeport dan Amman Mineral," ujar Head of Corporate Communications Merdeka Group Tom Malik dalam Mine Tour and Workshop PT Merdeka Copper Gold Tbk () di Banyuwangi. Minggu (9/11/2025).
Saat ini, Bumi Suksesindo mengoperasikan Tambang Emas Tujuh Bukit dengan metode tambang terbuka (open pit) seluas 992 hektare, dari total 4.998 hektare wilayah konsesi IUP Operasi Produksi yang diterbitkan pada 2012. Tambang ini terletak di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, dalam kawasan hutan produksi.
Produksi emas Bumi Suksesindo telah menembus lebih dari 1 juta ons sejak beroperasi, dengan realisasi 50.624 ons pada semester I-2025. Perseroan menargetkan 100.000-110.000 ons emas sepanjang 2025, dengan biaya tunai ( cash cost ) sekitar US$1.000-1.100 per ons."Sejauh ini produksi kami on track dengan target. Tambang terbuka Tujuh Bukit masih punya umur operasi hingga 2030," jelas Tom.
Namun, kisah Tumpang Pitu tidak berhenti di situ. Di bawah tambang emas tersebut, tersimpan salah satu cadangan tembaga terbesar di dunia, proyek raksasa yang siap mengantarkan menjadi pemain penting dalam rantai pasok logam global, terutama untuk industri kendaraan listrik (EV).
Proyek Tembaga Tujuh Bukit Underground kini menjadi fokus pengembangan jangka panjang . Berdasarkan Mineral Resources Estimate (MRE) per Maret 2024, total sumber daya mineral meningkat dari 1.706 juta ton menjadi 1.738 juta ton, dengan kandungan 8,2 juta ton tembaga dan 27,9 juta ons emas. "Proyek ini bisa menambah produksi tembaga nasional sekitar 10-15%," ujar Tom.
Pada puncak produksinya, tambang ini diproyeksikan mampu menghasilkan 110.000-120.000 ton tembaga dan 350.000 ons emas per tahun, dari pemrosesan 24 juta ton bijih. Masa operasinya diperkirakan lebih dari 30 tahun.
Saat ini, BSI telah menyelesaikan pembangunan terowongan bawah tanah sepanjang 1,8 kilometer dengan kedalaman hampir 100 meter di bawah permukaan laut. Ke depan, kedalaman bisa mencapai 300 meter.
Investasi proyek mencapai sekitar US$ 1-1,5 miliar, belum termasuk pembangunan smelter. berharap tahap feasibility study (FS) rampung tahun ini agar dapat berlanjut ke fase konstruksi tanpa jeda operasi dari tambang terbuka yang akan berakhir 2030. "Kami ingin transisi berjalan mulus tanpa masa jeda. Jadi setelah FS selesai, langsung masuk ke konstruksi dan produksi," tambah Tom.
Bukan Sekadar Menambang
Di sela aktivitas tambang, perseroan juga menunjukkan komitmennya terhadap pengelolaan lingkungan dan reklamasi lahan pasca-tambang. "Kami mulai dengan hidroseeding agar tanaman bawah tumbuh dulu. Tujuannya supaya topsoil yang sudah disebarkan tidak hilang karena hujan," jelas Senior Manager Technical Services Bumi Suksesindo Erik Barnas.
Demi memuluskan reklamasi, Bumi Suksesindo memiliki kewajiban menyiapkan Jaminan Reklamasi dan Rencana Penutupan Tambang (RPT) sebagai bagian dari tanggung jawab lingkungan.
Dana reklamasi tersebut menjadi jaminan bagi pemerintah apabila perusahaan berhenti beroperasi. Setelah dinilai berhasil, dana dikembalikan secara bertahap.
"Untuk wilayah Jawa Timur, biaya reklamasi 2025 sekitar Rp 154 juta per hektare. Namun Bumi Suksesindo menggunakan standar lebih tinggi, Rp 200-240 juta per hektare," kata Erik.
Dari total 67,5 hektare lahan reklamasi, sebanyak 41 hektare telah dinilai dan disetujui oleh ESDM , sementara sisanya masih dalam tahap penanaman dan perawatan. Tahun ini, perusahaan menargetkan reklamasi 11,62 hektare lagi.
Kinerja keberlanjutan BSI juga terlihat dari pencapaian lebih dari 20 juta jam kerja tanpa Lost Time Injury (LTI) dan penyelesaian lahan kompensasi seluas 1.988 hektare.
Yang menarik, seluruh pasokan listrik di site tambang berasal dari energi terbarukan PLN, lengkap dengan Renewable Energy Certificate (REC). "Meski lebih mahal dari listrik konvensional, kami memilih energi hijau sebagai komitmen menuju praktik tambang berkelanjutan," tegas Erik.

Sumber : investor.id