Nilai Tukar Rupiah Hari Ini, Kamis 29 Januari 2026: Terpukul
Thursday, January 29, 2026       10:02 WIB

JAKARTA, investor.id -Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpukul pada Kamis (29/1/2026), meski dolar AS masih berada di bawah tekanan global akibat ketidakpastian kebijakan dan geopolitik.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.04 WIB di pasar spot exchange, nilai tukar rupiah hari ini melemah 53 poin (0,32%) ke level Rp 16.775 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar terlihat turun 0,17% ke level 96,27.
Sedangkan pada perdagangan Rabu (28/1/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat 46 poin di level Rp 16.722.
Dikutip dari Reuters, nilai tukar dolar AS masih berada dalam tekanan pada Kamis (29/1/2026), seiring meningkatnya kewaspadaan pasar terhadap ketidakpastian kebijakan ekonomi Amerika Serikat dan dinamika geopolitik global.
Sentimen negatif ini hanya sedikit teredam oleh pernyataan pendukung dari Gedung Putih dan sejumlah pejabat Eropa setelah dolar sempat mengalami aksi jual besar-besaran.
Dari sisi kebijakan moneter, The Fed menyampaikan nada yang relatif lebih tenang terkait kondisi pasar tenaga kerja AS dan risiko inflasi. Sikap tersebut ditafsirkan pelaku pasar sebagai sinyal bahwa suku bunga berpotensi dipertahankan lebih lama.
Sebelumnya, dolar sempat terjun bebas dan menyentuh level terendah dalam empat tahun setelah Presiden AS Donald Trump terlihat tidak terlalu mengkhawatirkan pelemahan mata uang tersebut. Namun, tekanan sedikit mereda usai Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan kembali komitmen Washington terhadap kebijakan dolar kuat.
Di pasar Asia, euro yang sempat menembus level psikologis US$ 1,20 akibat pelemahan dolar, diperdagangkan sedikit lebih rendah di kisaran US$ 1,1979. Pejabat Bank Sentral Eropa (ECB) turut menyuarakan kekhawatiran atas penguatan euro yang terlalu cepat karena berpotensi memengaruhi proyeksi inflasi kawasan tersebut.
"Itu merupakan pernyataan yang tepat waktu dari Bessent dan tampaknya bukan kebetulan," ujar Kepala Strategi Valuta Asing National Australia Bank (NAB), Ray Attrill. Menurutnya, level US$ 1,20 pada pasangan euro/dolar menjadi titik pemicu penting bagi pasar.
Dolar AS Tertekan
Meski tekanan jual dolar mulai mereda, mata uang Negeri Paman Sam itu masih bergerak di bawah tekanan. Dolar turun 0,5% terhadap franc Swiss ke level 0,7656, mendekati posisi terendah dalam 11 tahun. Sementara itu, pound sterling bertahan di dekat level tertinggi 4,5 tahun di kisaran US$ 1,3826.
Dolar Australia menguat ke level tertinggi dalam tiga tahun di US$ 0,70495, didukung ekspektasi kenaikan suku bunga domestik dalam waktu dekat. Pelemahan dolar AS pekan ini tercatat sebagai yang paling tajam sejak kebijakan tarif Presiden Trump mengguncang pasar pada April tahun lalu.
Secara year to date, dolar telah melemah sekitar 2%. Tekanan tersebut dipicu kekhawatiran atas kebijakan Presiden Trump yang dinilai tidak konsisten, kritik terhadap independensi The Fed, serta sinyal bahwa AS bersedia menjual dolar guna membantu Jepang memperkuat yen.
Attrill menilai, kinerja dolar ke depan sangat bergantung pada isu independensi The Fed, termasuk putusan Mahkamah Agung AS terkait upaya Trump memberhentikan Gubernur The Fed Lisa Cook. "Hilangnya independensi merupakan risiko terbesar bagi dominasi dolar AS," ujarnya.
Terhadap sekeranjang mata uang utama, indeks dolar berada di level 96,24, mendekati titik terendah empat tahun di 95,566 yang tercapai pada Selasa lalu. Pelemahan dolar turut memberi ruang bagi penguatan yen Jepang, yang naik 0,12% ke level 153,21 per dolar AS.
Yen bergerak di kisaran 152-154 per dolar sepanjang pekan ini, seiring spekulasi pemeriksaan nilai tukar oleh otoritas AS dan Jepang, yang kerap dipandang sebagai sinyal awal potensi intervensi.
Di sisi lain, dolar Selandia Baru menguat ke level tertinggi dalam 6,5 bulan di US$ 0,60695. Sementara itu, yuan offshore China menguat tipis ke level 6,9426 per dolar AS, mendekati posisi terkuat sejak Mei 2023.

Sumber : investor.id