Nilai Tukar Rupiah Hari Ini, Rabu 14 Januari 2026: Menguat
Wednesday, January 14, 2026       09:51 WIB

JAKARTA, investor.id -Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada Rabu (14/1/2026), di tengah menguatkan ekspektasi The Fed pertahankan suku bunga pada pertemuan bulan ini.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.02 WIB di pasar spot exchange, nilai tukar rupiah hari ini menguat 9 poin (0,11%) ke level Rp 16.868 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar terlihat naik 0,09% ke level 99,22.
Sedangkan pada perdagangan Selasa (13/1/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah 22 poin di level Rp 16.877.
Dikutip dari Reuters, dolar Amerika Serikat menguat mendekati level tertinggi satu bulan pada awal perdagangan Asia, Rabu (14/1/2026), setelah data inflasi AS (CPI) dirilis sesuai perkiraan pasar.
Data tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan akhir bulan ini, meskipun mendapat tekanan kuat dari Gedung Putih untuk menurunkannya.
Indeks dolar, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama, naik 0,3% ke level 99,18, memulihkan pelemahan pada Senin lalu setelah Presiden AS Donald Trump mengancam Ketua The Fed Jerome Powell dengan tuntutan pidana.
Para gubernur bank sentral dunia dan CEO bank-bank besar Wall Street kompak menyatakan dukungan terhadap Powell pada Selasa.
"Ada paduan suara pendapat yang sangat keras dari politisi, mantan ketua The Fed, dan pejabat lainnya bahwa independensi The Fed adalah sesuatu yang sakral dan tidak boleh diganggu," ujar Kepala Ekonom G3 ANZ di London, Brian Martin.
Menurutnya, gangguan terhadap independensi bank sentral berisiko memicu inflasi lebih tinggi, biaya pendanaan pemerintah yang meningkat, serta volatilitas aktivitas ekonomi.
Pasar pun memilih bersikap hati-hati dan belum mengambil kesimpulan berlebihan, dengan keyakinan bahwa independensi The Fed tetap akan terjaga.
Pemangkasan The Fed
Data terbaru menunjukkan harga konsumen AS naik 0,3% pada Desember dibanding bulan sebelumnya, didorong kenaikan biaya sewa dan pangan setelah distorsi akibat penutupan pemerintah yang sempat menekan inflasi November mulai mereda.
Data tersebut mengukuhkan ekspektasi bahwa The Fed akan menahan suku bunga. Berdasarkan FedWatch CME Group, peluang suku bunga tetap pada pertemuan 28 Januari mencapai 95,6%.
Capital Economics menilai, serangan tidak langsung terhadap independensi The Fed tidak akan mengguncang pasar keuangan AS selama inflasi masih terkendali.
Volatilitas mata uang relatif terbatas menjelang putusan Mahkamah Agung AS terkait legalitas tarif darurat Trump. Analis ING menilai, apa pun hasil putusan, pasar kemungkinan akan tetap bergerak tenang.
Terhadap yen Jepang, dolar AS stabil di 159,025 yen. Yen sebelumnya melemah ke level terendah sejak Januari 2024, dipicu spekulasi Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi akan menggelar pemilu dadakan. Harian Yomiuri melaporkan pemilu DPR Jepang kemungkinan digelar pada 8 Februari.
Terhadap yuan offshore, dolar AS juga stabil di 6,9708 yuan menjelang rilis data perdagangan China. Dolar Australia naik tipis 0,1% ke US$0,6688, sedangkan dolar Selandia Baru menguat 0,1% ke US$0,5740. Euro bertahan di US$1,1642 dan pound sterling di US$1,3423.
Di pasar kripto, bitcoin naik 1,8% ke US$95.751,99, tertinggi dalam dua bulan, sementara ether melonjak 4,0% ke US$3.334,46.

Sumber : investor.id