Nilai Tukar Rupiah Hari Ini, Rabu 21 Januari 2026: Turun Tipis
Wednesday, January 21, 2026       09:39 WIB

JAKARTA, investor.id -Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) turun tipis pada Rabu (21/1/2026). Ditengah dolar AS melemah setelah ancaman Gedung Putih terkait Greenland memicu aksi jual luas atas aset AS, mulai dari mata uang, saham Wall Street, hingga obligasi pemerintah.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.04 WIB di pasar spot exchange, nilai tukar rupiah hari ini melemah 1 poin (0,01%) ke level Rp 16.957 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar terlihat turun 0,04% ke level 98,52.
Sedangkan pada perdagangan Selasa (20/1/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup ditutup melemah tipis 1 poin di level Rp 16.956
Dikutip dari Reuters, dolar AS bertahan di dekat level terendah tiga pekan terhadap euro dan franc Swiss pada Rabu, setelah ancaman Gedung Putih terkait Greenland memicu aksi jual luas atas aset Amerika Serikat, mulai dari mata uang, saham Wall Street, hingga obligasi pemerintah.
Yen Jepang juga tertekan, menyusul lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) ke rekor tertinggi, di tengah kekhawatiran investor terhadap kebijakan fiskal yang semakin longgar. Kekhawatiran itu muncul setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi berupaya memperluas mandatnya melalui pemilu cepat bulan depan.
Dolar sempat merosot lebih dari 1% terhadap euro pada Selasa, menyentuh level terendah sejak 30 Desember di US$ 1,1770 per euro, sebelum terakhir diperdagangkan di US$ 1,1720. Terhadap franc Swiss, dolar jatuh hampir 1,2% ke level 0,78, juga terendah sejak 30 Desember, sebelum sedikit pulih ke 0,78965.
Pada Senin (19/1/2026), ancaman tarif baru Presiden AS Donald Trump terhadap sekutu Eropa terkait Greenland memicu kembali strategi perdagangan yang dikenal sebagai 'Sell America', yang sebelumnya muncul setelah pengumuman tarif AS pada April lalu.
"Investor melepas aset dolar karena kekhawatiran akan ketidakpastian berkepanjangan, hubungan aliansi yang tegang, hilangnya kepercayaan terhadap kepemimpinan AS, potensi pembalasan, serta percepatan tren de-dolarisasi," ujar analis pasar IG di Sydney Tony Sycamore.
Sycamore menambahkan, meski ada harapan pemerintah AS akan segera meredakan ancaman tersebut, seperti pada kasus tarif sebelumnya, upaya mengamankan Greenland tetap menjadi tujuan utama keamanan nasional pemerintahan saat ini.
Pasar Keuangan AS Jatuh
Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite turun ke level terendah dalam sebulan pada Selasa, seiring kembalinya investor dari libur panjang di AS. Imbal hasil obligasi pemerintah AS melonjak ke puncak beberapa bulan, mencerminkan tekanan jual pada harga obligasi.
Dolar relatif stabil terhadap yen. Namun, mata uang Jepang itu sendiri tertekan setelah Takaichi pada Senin menyerukan pemilu cepat pada 8 Februari dan menjanjikan serangkaian kebijakan untuk melonggarkan fiskal.
Obligasi pemerintah Jepang dengan tenor terpanjang mencatat tekanan paling besar. Imbal hasil JGB 40 tahun melonjak 27,5 basis poin ke rekor 4,215% pada Selasa, sebelum sedikit turun menjadi 4,145% pada Rabu.
Yen sempat diperdagangkan di rekor terendah 200,19 per franc Swiss pada Selasa, dan berada di level 185,50 per euro pada Rabu, sangat dekat dengan rekor terendah 185,575 sepekan lalu.
Bank of Japan dijadwalkan mengumumkan kebijakan moneter pada Jumat (23/1/2026). Setelah menaikkan suku bunga pada pertemuan Januari lalu, pasar memperkirakan tidak akan ada perubahan kebijakan.
Namun, perhatian investor tertuju pada komunikasi bank sentral mengenai ruang dan kecepatan pengetatan lanjutan. Sikap cenderung hawkish diperkirakan akan dipertahankan, seiring melemahnya yen dan meningkatnya ketidakpastian politik yang berpotensi mendorong risiko inflasi.

Sumber : investor.id