Nilai Tukar Rupiah Hari Ini, Senin 12 Januari 2026: Terpangkas
Monday, January 12, 2026       10:11 WIB

JAKARTA, investor.id -Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpangkas pada Senin (12/1/2026), seiring sentimen global yang dipengaruhi penyelidikan kriminal terhadap Ketua The Fed Jerome Powell.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.12 WIB di pasar spot exchange, nilai tukar rupiah hari ini terpangkas 21 poin (0,12%) ke level Rp 16.840 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar terlihat turun 0,18% ke level 98,95.
Sedangkan pada perdagangan Jumat (9/1/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup ditutup menguat 0,13% ke level Rp 16.819 per dolar AS.
Dikutip dari TradingView, nilai tukar dolar AS melemah dari posisi terkuatnya dalam sebulan pada awal perdagangan Senin, setelah jaksa AS membuka penyelidikan kriminal terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powell. Langkah ini menambah ketegangan antara The Fed dan pemerintahan Presiden Donald Trump.
Indeks dolar, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, turun danmemutus reli lima hari beruntun. Pada saat yang sama, harga emas melonjak ke rekor tertinggi US$ 4.563,61 per ons troi, setelah New York Times melaporkan adanya penyelidikan tersebut dan Powell merilis pernyataan video yang menegaskan independensi bank sentral.
Kepala strategi valuta asing National Australia Bank, Ray Attrill, mengatakan Powell kini bersikap lebih agresif menghadapi tekanan politik. "Powell tampaknya sudah muak dengan kritik dari luar dan kini mengambil langkah ofensif. Perang terbuka antara The Fed dan pemerintah AS jelas bukan kabar baik bagi dolar AS," ujarnya.
Sebelumnya, dolar sempat menguat pada awal perdagangan Asia setelah laporan ketenagakerjaan AS pada Jumat memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga bulan ini. Selain itu, laporan ratusan korban tewas dalam aksi protes di Iran meningkatkan ketegangan geopolitik dan mendorong permintaan aset safe haven.
Namun, analis Capital.com Kyle Rodda menilai sentimen geopolitik tersebut belum sepenuhnya mengangkat dolar.
"Ini seharusnya positif bagi dolar AS, tetapi kita belum melihat penguatan yang signifikan. Pertanyaannya, apakah momentum protes akan berlanjut dan apakah rezim akan merespons lebih keras, yang berpotensi membuka keterlibatan AS," katanya.
Pekan Padat Data
Pasar keuangan kini bersiap menghadapi pekan yang padat data ekonomi. Salah satu yang paling dinanti adalah rilis indeks harga konsumen (CPI) AS untuk Desember pada Selasa, menjelang pertemuan kebijakan moneter The Fed akhir Januari.
Analis Standard Chartered menilai inflasi AS masih berada di atas target The Fed sebesar 2%. Kondisi ini membatasi ruang pemangkasan suku bunga lanjutan, kecuali terjadi perlambatan signifikan pada ekonomi AS.
"Pasar tenaga kerja tidak menunjukkan pelemahan lebih lanjut, sehingga masih memberi tekanan naik pada imbal hasil obligasi AS dan dolar," tulis mereka.
Musim laporan keuangan kuartal IV juga akan dimulai pekan ini, dipimpin bank-bank besar AS. Pertumbuhan laba yang solid menjadi sumber optimisme utama bagi investor saham. Selain itu, putusan Mahkamah Agung terkait legalitas tarif darurat Trump berpotensi diumumkan paling cepat Rabu.
Di pasar mata uang, dolar AS melemah 0,2% terhadap yen Jepang ke level 157,56, setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam setahun. Pelemahan terjadi seiring sinyal kemungkinan pemilu cepat di Jepang pada Februari.
Euro menguat 0,2% ke US$ 1,1664, bangkit dari level terendah satu bulan. Dolar AS juga melemah 0,1% terhadap yuan offshore China ke 6,968. Poundsterling naik 0,2% ke US$ 1,3433, sementara dolar Australia menguat 0,2% ke US$ 0,6704 dan dolar Selandia Baru naik 0,2% ke US$ 0,5746.
Di pasar kripto, Bitcoin naik 1,0% ke US$ 91.533,13, sedangkan Ether menguat 0,3% ke US$ 3.127,37.

Sumber : investor.id