Pabrik Blast Furnace Disetop, Krakatau Steel Hemat Rp 12 M/Bulan
Wednesday, February 04, 2026       20:18 WIB

Jakarta, Detik Finance - Pabrik Blast Furnace milik PT Krakatau Steel (Persero) Tbk () dihentikan operasinya. Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria mengklaim langkag ini mampu menghemat pengeluaran biaya pengeluaran perusahaan hingga Rp 12 miliar per bulan.
Dony mengatakan bajwa langkah keputusan shutdown Blast Furnace tersebut juga merupakan bagian dari syarat yang diajukan Danantara kepada agar mendapatkan suntikan dana untuk keperluan modal kerja.
"Nah karena itu makanya syarat daripada kita melakukan injeksi adalah bahwa pekerjaan rumah daripada manajemen Krakatau Steel dia wajib menurunkan biaya yang terjadi. Termasuk juga kita men-shutdown blast furnace kita yang itu menghemat Rp 12 miliar per bulan," kata Dony dalam Raker dan RDP dengan Komisi VI DPR RI, Rabu (4/2/2026).
Dony menjelaskan setelah resmi menjabat COO Danantara, dia turun tangan langsung untuk restrukturisasi Krakatau Steel. Saat itu, keta Dony, kondisi Krakatau Steel sangat memprihatinkan.
Pasalnya, fasilitas Hot Strip Mill (HSM) sempat terbakar dan tidak bisa beroperasi, sementara Blast Furnace tidak berjalan dan perusahaan menanggung utang lebih dari Rp 25 triliun.
Kemudian, langkah yang dilakukan dalam penyelamatan Krakatau Steel ialah dengan memperbaiki fasilitas HSM yang sudah mulai beroperasi pada akhir Desember 2024 lalu.
Selanjutnya yakni melakukan perbaikan finansial dengan negosiasi ulang utang . Ia mengatakan proses ini berhasil mendapatkan pengurangan nilai utang dari kreditur.
"Finansialnya kita melakukan negosiasi terhadap hutang yang dimiliki oleh Krakatau Steel dan alhamdulillah waktu itu kerja keras daripada Pak Dirut dan tim bersama-sama dengan Tanantara kita bisa menegosiasikan sehingga kita dapat haircut daripada hutang kita," ungkap Dony.
"Kemudian yang kedua, kita melakukan restrukturisasi hutang-hutang lainnya," tambahnya.
Dony menambahkan, sebelum Danantara hadir, modal kerja emiten berkode saham ini mengandalkan vendor financing dengan bunga hampir 30% yang dinilai sangat membebani biaya produksi.
Sebagai gantinya, pembiayaan tersebut ditutupi oleh Danantara dengan pinjaman berbunga rendah berbasis serah order melalui Danantara, sehingga margin usaha dinilai cukup untuk menutup biaya tetap perusahaan.
Namun, Dony mengatakan bahwa pinjaman tersebut tak serta merta diberikan begitu saja. Ia mengatakan pihaknya telah melakukan analisa terhadap bisnis model dari dan dinilai sudah bisa untuk berjalan kembali.
"Lalu kita mereplace yang tadinya itu adalah vendor financing untuk memberikan, untuk apa namanya, untuk bahan baku yang tadinya kita dengan biaya cost 30% hampir, kita ganti dengan pinjaman melalui dantara pinjaman serah order loan yang bunganya kecil. Sehingga dengan demikian setelah kita hitung kontribusi marginnya menjadi cukup untuk menutupi fixed cost-nya," katanya.
(hrp/hns)

Sumber : DETIK FINANCE