Wall Street Menguat, Saham Meta dan Apple Naik Jelang Rilis Kinerja
Tuesday, January 27, 2026       09:35 WIB

NEW YORK , investor.id -Indeks-indeks saham Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Senin (26/1/2026), didorong kenaikan saham-saham teknologi besar seperti Meta Platforms dan Apple. Penguatan terjadi di tengah investor mencermati dinamika politik AS serta bersiap menghadapi pekan krusial rilis laporan keuangan emiten dan keputusan suku bunga The Fed.
Dikutip dari CNBC internasional, indeks S&P 500 naik 0,50% dan berakhir di level 6.950,23. Dow Jones Industrial Average menguat 313,69 poin (0,64%) ke posisi 49.412,40. Sementara itu, Nasdaq Composite bertambah 0,43% dan ditutup di level 23.601,36.
Penguatan Nasdaq ditopang oleh kenaikan saham raksasa teknologi. Saham Apple melonjak sekitar 3%, Meta Platforms naik hampir 2%, dan Microsoft menguat sekitar 1%, menjelang rilis laporan keuangan masing-masing perusahaan dalam beberapa hari ke depan.
Sentimen pasar juga dipengaruhi perkembangan politik global. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali memicu ketidakpastian setelah mengancam akan mengenakan tarif impor sebesar 100% terhadap Kanada jika negara tersebut melanjutkan kesepakatan perdagangan dengan China.
Namun, Perdana Menteri Kanada Mark Carney menegaskan Ottawa tidak berniat mengejar perjanjian perdagangan bebas dengan Beijing.
Analis Vital Knowledge Adam Crisafulli menilai pasar belum terlalu mengkhawatirkan ancaman tarif tersebut. Meski demikian, penggunaan tarif impor sebagai alat tekanan politik dinilai perlahan menggerus sentimen investor.
"Situasinya masih sangat dinamis. Ancaman tarif mungkin tidak langsung terwujud, tetapi pendekatan kebijakan semacam ini tetap menambah ketidakpastian pasar," ujarnya.
Dari dalam negeri AS, perhatian investor tertuju ke Washington setelah meningkatnya ketegangan politik terkait isu imigrasi dan potensi penutupan pemerintahan (government shutdown). Sejumlah senator Partai Demokrat menyatakan menolak menyetujui paket pendanaan pemerintah senilai US$ 1,2 triliun jika masih mencakup alokasi untuk Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS).
Di tengah ketidakpastian tersebut, harga emas kembali reli dan mencetak rekor tertinggi baru dengan sempat menembus level US$ 5.100 per ons troi, mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset aman.
Risiko Geopolitik Meningkat
Meski risiko geopolitik meningkat, National Investment Strategist U.S. Bank Asset Management Group Tom Hainlin menilai, kondisi ekonomi AS masih cukup solid. Konsumen dinilai tetap aktif berbelanja, sementara dunia usaha masih mencatat profitabilitas yang baik dan terus berinvestasi, terutama pada kecerdasan buatan (AI) dan peningkatan produktivitas.
Pekan ini, lebih dari 90 emiten anggota S&P 500 dijadwalkan merilis laporan keuangan. Sejumlah saham kelompok 'Magnificent Seven' akan menjadi sorotan, termasuk Meta, Tesla, dan Microsoft yang melaporkan kinerja pada Rabu, serta Apple pada Kamis. Sejauh ini, musim laporan keuangan berjalan positif, dengan sekitar 76% perusahaan berhasil membukukan laba di atas ekspektasi, menurut data FactSet.
Meski demikian, tidak semua saham langsung menguat setelah merilis kinerja positif. Beberapa emiten seperti Intel dan Netflix justru mengalami tekanan meskipun mencatatkan hasil di atas perkiraan pasar.
Dari sisi kebijakan moneter, The Fed dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pertamanya tahun ini pada Rabu. Bank sentral AS diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan, namun pasar menantikan sinyal terkait waktu dimulainya pemangkasan suku bunga.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan dua kali penurunan suku bunga masing-masing 25 basis poin hingga akhir 2026.
Wall Street sendiri baru saja melewati pekan yang kurang menggembirakan akibat meningkatnya ketegangan geopolitik. Indeks S&P 500 tercatat turun sekitar 0,4% pekan lalu, menandai penurunan mingguan kedua secara beruntun, meski tekanan mulai mereda setelah Trump menyatakan telah tercapai kerangka kesepakatan terkait Greenland.

Sumber : investor.id