Asal Mula Kerugian Wijaya Karya (WIKA) Membengkak
Thursday, April 04, 2024       08:39 WIB

JAKARTA, investor.id - PT Wijaya Karya Tbk () menceritakan asal mula kerugian perseroan yang membengkak hingga Rp 7,12 triliun sepanjang tahun buku 2023 daripada tahun sebelumnya yang rugi sebesar Rp 60 miliar.
Penjelasan kemudian mengarah pada dua penyebab utama. Pertama, kerugian perseroan akibat beban bunga. Dan kedua, kerugian disebabkan oleh piutang-piutang yang bermasalah.
Sekretaris Perusahaan Mahendra Vijaya mengakui, beban bunga merupakan beban paling berat yang harus ditanggung perseroan. Jumlahnya mencapai kurang lebih Rp 3 triliun.
"Itulah kenapa, kami melakukan restrukturisasi keuangan karena pada dasarnya beban bunga itu memang yang paling membebani ," terang Mahendra kepada media, Selasa (2/4/2024).
Sekalipun utang dan bunganya sudah sepakat dilakukan restrukturisasi, Mahendra menyebut, beban bunga itu tetap harus dicatatkan secara akuntansi. Tak heran, secara neraca hal ini masih membebani pembukuan pada 2023.
Pemicu lain yang membuat kerugian semakin membengkak adalah banyaknya piutang perseroan yang bermasalah baik yang berasal dari proyek dalam maupun luar negeri. Mahendra memperkirakan, nilai piutang bermasalah mencapai Rp 2 triliun.
Piutang bermasalahinimuncul setelah para pemilik proyek atau pekerjaan (project owner) tidak mempunyai kesanggupan membayar piutang akibat situasi force majeure pandemi covid-19 yang melanda dunia dua-tiga tahun terakhir ini.
Kala itu, kenang Mahendra, sudah melakukan berbagai mediasi dengan pihak-pihak independen agar piutang tersebut tidak menjadi masalah. Namun, mediasi tinggal mediasi. Adayang berakhir menang, ada juga mediasi yang berujung kalah, sehingga tidak semua piutang diakui.
Cadangan Kerugian
Mau tak mau, piutang yang tidak diakui itu harus  impair sebagai cadangan kerugian. "Tapi, sebenarnya tidak ada cash perusahaan yang keluar karena terjadinya cash keluar sudah lama. Cuma atas dasar itu, ada piutang yang akhirnya belum bisa ditagihkan," tutur dia.
Perseroan pun menempuh proses panjang terkait piutang yang tidak bisa ditagihkan ini mulai dari proses arbitrase, pengadilan, dan sebagainya. Sejauh ini, hasilnya sudah ada yang diputuskan, namun ada pula yang masih dalam proses.
Yang pasti, mengingat proses yang harus ditempuh cukup panjang, kemudian memasukkan piutang bermasalah itu sebagai cadangan kerugian. "Jadi, sekali lagi ini semacam cadangan kerugian. Nanti, kalau piutang bermasalah itu cair, ke depannya akan menjadi pemulihan bagi ," ujar dia.
Pada titik cadangan kerugian inilah, bottom line salah satu anggota BUMN Karya tersebut mengalami penurunan drastis. Dikatakan Mahendra, performa perseroan pada tahun buku 2023 memang kurang lebih mirip seperti laporan keuangan yang dirilis pada September 2023.
"Makanya, di 2023 bisa dibilang menjadi kondisi terendah . Ya, mudah-mudahan, di 2024 kami bisa menghasilkan kinerja yang lebih baik daripada 2023 dengan adanya penyertaan modal negara (PMN)," imbuh dia.
Tahun ini, emiten BUMN Karya tersebut dipastikan bakal menerima PMN sebesar Rp 6 triliun yang akan diinjeksi pemerintah melalui penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau rights issue . Tahun depan, berencana mengusulkan kembali PMN sebesar Rp 2 triliun.
Melalui suntikan dana segar sebesar Rp 6 triliun pada tahun ini, Mahendra optimistis, mampu memangkas kerugian."Kami tetap melihat, beban di 2024 masih cukup besar, tapi insyallah di 2025 mudah-mudahan, beban-beban sudah jauh lebih banyak bisa berkurang," tandas Mahendra.

Sumber : investor.id