Bursa Siang: Prospek Siklus Pelonggaran The Fed Tetap Hidup, Saham Asia Menggeliat, IHSG Lengser
Friday, March 01, 2024       11:52 WIB

Ipotnews - IHSG menyerah ke zona merah saat perdagangan sesi I hari Jumat (1/3). Indeks melorot 45 poin atau 0,61 persen ke posisi 7.271.
Nilai transaksi hari ini sebesar Rp5,51 triliun saat sesi I berakhir. Sedangkan volume perdagangan mencapai 85,05 juta lot yang berpindah tangan. Kurs rupiah menguat 0,19% terhadap USD ke posisi Rp15.688 (11.30 AM)
Bursa Asia
Indeks Nikkei 225 Jepang mencapai rekor tertinggi baru pada hari Jumat, didukung oleh penguatan di Wall Street karena angka inflasi utama AS sesuai dengan ekspektasi.
Data pada hari Jumat menunjukkan aktivitas pabrik Tiongkok mengalami kontraksi selama lima bulan berturut-turut pada bulan Februari. Sementara ekspansi di sektor jasa meningkat, menyoroti pemulihan yang tidak merata di negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia tersebut.
"PMI kurang dapat diandalkan pada bulan Februari karena liburan Tahun Baru Imlek membuat sulit untuk mendapatkan gambaran yang jelas mengenai momentum perekonomian," kata Zhiwei Zhang, kepala ekonom di Pinpoint Asset Management.
"Kita perlu menunggu lebih banyak data makro mengenai penjualan ritel dan produksi industri pada Januari-Februari untuk mendapatkan gambaran yang jelas mengenai perekonomian."
Semalam di Wall Street, Indeks S&P 500 dan Nasdaq ditutup pada rekor tertinggi. Indeks harga pengeluaran konsumen pribadi (PCE) AS, ukuran inflasi pilihan Federal Reserve, naik 0,3% pada bulan Januari dari bulan sebelumnya. Indeks harga PCE inti naik 0,4%, seperti yang diharapkan.
Hal ini membuat prospek penurunan suku bunga pada bulan Juni tetap hidup. Pasar masih melihat kemungkinan sebesar 76% bahwa The Fed akan mulai menurunkan suku bunga pada bulan Juni, dengan total pelonggaran sebesar 82 basis poin untuk tahun ini.
"Data PCE mengonfirmasi kejutan inflasi bulan Januari yang tidak membantu, yang sudah dipratinjau dari angka CPI dan PPI sebelumnya," kata Taylor Nugent, ekonom senior di National Australia Bank.
"Kami tidak berpikir tren disinflasi telah terhenti, namun ada beberapa dukungan risiko dari sisa masalah musiman pada kenaikan bulan Januari yang juga berlanjut hingga bulan Februari."
Indeks Nikkei 225 (Jepang) +1,77%
Indeks Topix (Jepang) +1,10%
Indeks Shanghai Composite (China) +0,09%
Indeks Shenzhen Component (China) +0,45%
Indeks CSI300 (China) +0,33%
Indeks Hang Seng (Hong Kong) +0,75%
Indeks Kospi (Korsel) -0,37%
Indeks Taiex (Taiwan) -0,03%
Indeks S&P/ASX200 (Australia) +0,54%
Currency
USD/JPY ke 150,39/+0,27%
USD/SGD ke 1,3455/-0,01%
AUD/USD ke 0,6509/+0,18%
USD/CNY ke 7,1967/+0,11%
USD/MYR ke 4,7375/-0,11%
USD/THB ke 35,8750/-0,06%
Oil
Harga minyak naik tipis pada hari Jumat dan diperkirakan mengakhiri minggu ini sedikit lebih tinggi. Karena pasar menunggu keputusan OPEC + mengenai perjanjian pasokan untuk kuartal kedua di tengah perbedaan indikator permintaan dari AS dan Tiongkok. Brent naik 27 sen menjadi $82,18 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 20 sen menjadi $78,46.
(cnbc/bloomberg/reuters)

Sumber : admin