Bursa Sore: Abaikan Faktor Inflasi Market Asia Berbalik Hijau, IHSG Tetap Tertahan
Friday, June 11, 2021       15:32 WIB

Ipotnews - IHSG berhenti di teritori negatif pada akhir perdagangan hari Jumat (11/6) setelah sempat perkasa saat awal sesi pagi. IHSG tergerus -13 poin (-0,20 persen) ke level 6.095.
Indeks LQ45 -0,42% ke 901.
Indeks IDX30 -0,44% ke 482.
Indeks IDX80 -0,19% ke 128.
Jakarta Islamic Indes (JII) +0,30% ke 566.
Indeks Kompas100 -0,42% ke 1.123.
Indeks Sri Kehati -0,60% ke 345.
Indeks SMInfra18 +0,06% ke 307.
Saham Paling Aktif: , , , , , , .
Saham Top Gainers LQ45: , , , , , , .
Saham Top Losers LQ45: , , , , , , .
Nilai transaksi Rp13,87 triliun. Volume perdagangan sebanyak 220,55 juta lot saham. Investor asing net buy Rp2,61 triliun.
Rupiah bergerak menguat 0,41 persen terhadap USD ke kevel Rp14.189 (03.30 PM).
Bursa Asia
Imbal hasil obligasi USA merosot ke posisi terendah dalam 3 bulan terakhir, indeks pasar saham Asia terdorong naik pada perdagangan hari Jumat (11/6). Hal ini terjadi karena para investor melihat kenaikan inflasi USA telah berlalu kemudian fokus pada salah satu faktor yang menunjukkan kenaikan inflasi dapat berusia pendek.
Kalangan analis menilai kenaikan inflasi mencerminkan penyesuaian jangka pendek terkait pembukaan kembali aktivitas ekonomi. Dan banyak investor tampak yakin bahwa the Fed dengan cekatan menangani rebound pertumbuhan ekonomi.
Inflasi USA periode Mei tercatat naik 5 persen, merupakan angka tertinggi sejak Agustus 2008. Sementara inflasi April tercatat 4,2 persen. Kontribusi besar dan kuat kenaikan harga tiket pesawat dan mobil bekas meningkatkan beberapa keraguan tentang tekanan inflasi yang mendasarinya.
"Data tadi malam hanyalah satu dari serangkaian bukti panjang bahwa inflasi tidak hanya meningkat tetapi lebih dari sekadar efek dasar sementara," ujar ROb Carnell, analis dari ING yang berbasis di Singapura.
Menurutnya The Fed dalam meeting FOMC pekan depan masih dapat menunjukkan tidak ada penyimpangan ekspektasi inflasi guna menopang mantra inflasi sementara yang berkelanjutan. "Pelaku pasar membeli (katalis) itu untuk saat ini," terangnya.
Ekspektasi kenaikan inflasi dapat mendorong pengetatan moneter the Fed lebih cepat mengakibatkan perataan kurva imbal hasil obligasi USA. Selisih yield tenor 10 tahun dan 2 tahun pada titik tersempit sejak akhir Februari.
Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun ke posisi 1,4340 persen merupakan posisi terendah dalam 3 bulan terakhir. Imbal hasil tenor 30 tahun menyentuh posisi 2,1270 persen yang merupakan posisi terendah sejak 26 Februari.
Pasar saham Jepang melemah tipis saat akhir sesi. Indeks Nikkei 225 drop tipis ke level 28.948 dan Indeks Topix turun tipis 0,14 persen ke 1.954. Sedangkan Indeks Kospi di bursa Korsel naik 0,77 persen pada level 3.249.
Tekanan terjadi di pasar saham China pada closing perdagangan. Indeks Shanghai Composite drop 0,58 persen ke 3.589 dan Indeks Shenzhen Component melorot 0,62 persen ke 14.801. Adapun Indeks Hang Seng di market saham Hong Kong menguat 0,33 persen.
Indeks acuan regional, MSCI Asia Pasifik (tidak termasuk pasar saham Jepang) melaju 0,36 persen. Sedangkan Indeks S&P/ASX200 up 0,13 persen di posisi 7.312.
Indeks dolar AS merosot ke 89,993 dari level sebelumnya di posisi 90.
Kurs yen naik tipis ke posisi ke 109,43 terhadap USD dari posisi sebelumnya pada 109,6.
Nilai tukar dolar Australia bergerak melandai ke posisi $0,7765 dari sebelumnya di $0,776.
Bursa Eropa
Sebagian market saham Eropa menguat saat menit-menit awal pada perdagangan hari Jumat (11/6) pagi waktu setempat. Pelaku pasar mengabaikan kenaikan tajam inflasi di USA sebagaimana kalangan analis yakin lonjakan itu adalah sementara.
Indeks DAX (Jerman) -0,14% pada level 15.549.
Indeks FTSE (Inggris) +0,36% ke posisi 7.113.
Indeks CAC (Perancis) +0,14% di level 6.555.
Minyak
Harga minyak tetap merosot walaupun bersiap menguat secara mingguan untuk ketiga kalinya. Pada perdagangan sesi sore hari Jumat (11/6) di pasar komoditas Asia, penguatan harga secara mingguan terjadi di tengah ekspektasi pemulihan demand di Eropa, China dan USA karena vaksinasi memicu pelonggaran dalam pengendalian pandemi covid-19.
Minyak WTI drop 0,06 persen per barel ke harga USD70,25 per barel. Minyak Brent turun 0,06 persen ke harga USD72,48 per barel. (pkl 06.58 GMT)
(cnbc/idx/bloomberg)

Sumber : Admin
2,960
-0.7 %
-20 %

729

BidLot

4,045

OffLot