Buru Hasil Investasi Tinggi, Banyak Investor AS Borong Junk Bond
Monday, April 06, 2020       16:30 WIB

Ipotnews - Suku bunga obligasi berisiko telah melonjak di seluruh dunia, yang berarti harga sekuritas tersebut telah berguguran. Sejumlah investor memburu obligasi perusahaan dengan risiko gagal bayar tinggi.
Perusahaan yang menerbitkan obligasi berimbal hasil tinggi memiliki skor kredit yang rendah, yang mencerminkan adanya risiko kesulitan untuk membayar kembali pinjamannya di masa lalu. Obligasi tersebut memiliki tingkat bunga yang tinggi sebagai kompensasi kepada pembeli, atas risiko pinjaman mereka ke bisnis dengan catatan keuangan yang buruk. Obligasi semacam itu disebut obligasi spekulatif atau  junk bond  - dan dipandang sebagai investasi berisiko tinggi dengan imbal hasil investasi yang tinggi.
Langkah Federal Reserve AS pada tanggal 23 Maret lalu memperkuat harapan hidup pasar kredit AS, menjadi penghalang bagi perusahaan penerbit obligasi layak investasi. Suntikan dana The Fed, berarti bahwa perusahaan-perusahaan dengan neraca yang lebih kuat akan mendapat dukungan The Fed jika mereka membutuhkan akses uang tunai yang mendesak.
Reaksi langsung dari langkah itu dirasakan oleh pasar surat utang, yang melihat indikator teknikal stabilisasi risiko kredit. Langkah ini diekspektasikan juga akan melindungi perusahaan dengan neraca yang buruk.
Veteran investor kredit, Howard Marks dari Oaktree Capital mengaku ikut berburu kredit berimbal hasil tinggi. "Enam pekan atau dua bulan lalu, obligasi dengan imbal hasil tinggi - tidak termasuk energi - menghasilkan 3,5%," katanya. "Hari ini mereka mempunyai imbal hasil mendakati 10%. Harga obligasi itu turun secara substansial," imbuhnya, seperti dikutip CNBC , Senin (6/4).
"Kebijakan The Fed adalah satu elemen positif terhadap neraca perusahaan, tetapi bukan satu-satunya," Howard menambahkan. "Yang paling penting adalah bahwa hasil dan  spread  imbal hasil menjadi menarik. Strategi penghindaran risiko tidak begitu meyakinkan seperti di masa lalu."
Tapi ia memperingatkan agar berhati-hati terhadap sisi negatif neraca perusahaan. Menurut Howard, kondisi seputar pandemi virus korona dan pengaruhnya pada perekonomian kemungkinan akan semakin memburuk. Kasus gagal bayar mulai terjadi, dan harga obligasi kemungkinan akan jatuh lebih jauh.
"Ini adalah waktu yang baik untuk membeli, tetapi bukan tanpa risiko jangka pendek," Howard menegaskan.
iShares High Yield Corporate Bond Index adalah contoh reksadana yang diperdagangkan di bursa efek (ETF) di Wall Street yang mengukur minat investor terhadap pasar  junk bond.  
Sejak awal 2007, reksadana indeks itu telah memberikan hasil investasi 100% kepada investornya. Tetapi ETF mengalami arus keluar USD5 miliar selama tiga bulan terakhir, menyebabkan penurunan nilai total aset menjadi USD14 miliar.
Terlepas dari dukungan Fed, menurut Goldman Sachs, tantangan bagi korporasi penerbit surat utang tetap besar. Sebagaimana halnya penurunan di masa lalu, kesulitan keuangan akan terus meningkat, yang mengarah ke  default  dan penurunan peringkat yang lebih tinggi.
Menurut analisis Goldman, USD555 miliar dana akan bermigrasi dari obligasi layak investasi ke obligasi berimbal hasil tinggi selama enam bulan ke depan, selain USD149 miliar yang telah diturunkan peringkatnya secara  year-to-date .
Goldman mengacu pada sektor-sektor termasuk utilitas, perawatan kesehatan, farmasi, dan kebutuhan pokok sebagai sektor yang kurang rentan terhadap hambatan ekonomi akibat gangguan virus korona. Sektor-sektor seperti energi, penerbangan, perjudian, ritel, liburan dan penginapan, yang membutuhkan lebih banyak interaksi tatap muka, menjadi jauh lebih rentan.
Sebagian besar pasar kredit berimbal hasil tinggi di AS adalah sektor energi. Whiting Petroleum, produsen  shale-oil , mengajukan kebangkrutan pekan lalu, sehingga memicu ketakutan di pasar kredit.
Jika kesepakatan antara Rusia dan Arab Saudi tidak segera tercapai, dan harga minyak terus mencapai rekor terendah, tanggung jawab akan sekali lagi jatuh kepada The Fed untuk mendukung pasar.
Dukungan itu bisa termasuk pembukaan saluran pendanaan kembali sehingga dapat membantu perusahaan-perusahaan yang menghadapi tekanan untuk merestrukturisasi utang mereka, dan mengulur waktu untuk menunda pembayaran di masa mendatang.
Dalam catatan riset tentang pasar kredit AS, Morgan Stanley menyarankan bahwa inilah saatnya untuk memasukkan uang ke dalam obligasi layak investasi, dan memperbaiki penilaian pada sektor berimbal hasil tinggi menjadi netral.
Analis pendapatan tetap perusahaan mengatakan, bahwa ketidakpastian mengenai betapa buruknya pendapatan perusahaan akan tetap memukul dan berasosiasi dengan besarnya penurunan peringkat. Tetapi banyak ketidakpastian itu sudah diperhitungkan dalam harga obligasi.
Untuk saat ini, mereka berpikir bahwa langkah-langkah pelonggaran The Fed akan bertindak sebagai pemutus sirkuit yang penting.
"Dalam kredit berimbal hasil tinggi, kami secara fundamental bersikap  bullish  pada perusahaan yang dapat mengatasi badai dalam beberapa kuartal mendatang," kata Neeraj Seth, kepala kredit Asia di Blackrock. "Ini adalah keseimbangan antara  leverage , likuiditas, dan arus kas," ujarnya. ( CNBC )

Sumber : Admin