China-AS Ribut Lagi, Harga Emas Pun Melorot Terpukul Dolar
Monday, May 25, 2020       10:08 WIB

Ipotnews - Meski dibayangi sentimen negatif akibat ketegangan AS-China, di hari pertama perdagangan awal pekan ini, bursa saham kawasan Asia Pasifik bergerak di zona hijau.
Sebelumnya pasar Asia Pasifik ambles pada hari Jumat (22/5) setelah China mengumumkan undang-undang keamanan nasional baru. Jika diterapkan, akan memberi Beijing lebih banyak kontrol atas Hong Kong dan dapat memicu protes pro-demokrasi lebih lanjut di kota itu.
Melansir data   CNBC Internasional , Senin (25/5) beberapa bursa saham kawasan Asia Pasifik ditransaksikan di zona hijau pada sesi awal. Pada 07.50, indeks ASX 200 (Australia 200) menguat 1,57%. Di Jepang indeks Topix menguat 1,19%. Sementara bursa Korea Selatan juga menghijau tetapi dengan penguatan lebih rendah yakni 0,59%. Tapi untuk pasar saham Singapura, India dan Indonesia sedang libur.
Penguatan pasar saham di kawasan Asia Pasifik ini terjadi seiring dengan pelemahan aset-aset minim risiko ( safe haven ) seperti emas dan dolar AS. Pada pagi ini, harga emas global dan indeks dolar yang mengukur keperkasaan dolar  greenback  sama-sama tergelincir.
Harga emas seolah terjebak di rentang yang sempit pada level tertingginya sejak November 2012. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) menjadi faktor yang menghambat harga logam mulia ini untuk tembus ke level US$ 1.800 per troy ons.
Mengawali perdagangan pekan ini pada Senin (25/5) harga emas dunia di pasar spot dibanderol US$ 1.730,74/troy ons. Harga emas melorot 0,19% dibanding harga penutupan pada pekan lalu.
Potensi kenaikan dolar AS masih menjadi faktor penghambat harga emas untuk cetak rekor baru. Hal ini tercermin dari kenaikan indeks dolar yang mengukur kekuatan dolar AS di hadapan enam mata uang lain yang menguat sejak 21 Mei lalu.
Emas ditransaksikan dalam mata uang dolar AS, sehingga keperkasaan dolar membuat harga emas menjadi lebih mahal terutama bagi pemegang mata uang selain dolar AS.
"Investor mungkin melihat sejarah berulang sebagai ketegangan geopolitik - dengan China di pusat - menghidupkan kembali kekhawatiran tentang perang perdagangan lain," kata ahli strategi ING, seperti dikutip  Kitco . Meskipun harga emas mengalami reli pada Jumat (22/5), logam mulia telah terjebak dalam kisaran yang cukup sempit.
Menurut kepala strategi global TD Securities, Bart Melek, dalam jangka pendek, ketegangan geopolitik sebenarnya dapat menghambat kenaikan harga emas lebih lanjut karena berpotensi meningkatkan dolar AS. (winardi)

Sumber : Admin