Data Makro China Suram, Aussie Jatuh ke Level Terendah Tiga Bulan
Wednesday, May 15, 2019       15:35 WIB

Ipotnews - Dolar Australia jatuh ke level terendah dalam tiga bulan, Rabu, karena data yang suram dari China meningkatkan kekhawatiran tentang ekonomi global, sementara angka pertumbuhan upah domestik yang lemah juga turut membebani.
Kendati peningkatan selera risiko (risk appetite) membantu menstabilkan mata uang yang lebih luas sebelum rilis data output ekonomi zona euro, dolar Australia dan Selandia Baru memimpin penurunan di awal perdagangan Eropa, demikian laporan Reuters, di London, Rabu (15/5).
Rabu, China melaporkan pertumbuhan penjualan ritel dan output industri periode April lebih lemah dari perkiraan, menambah tekanan pada Beijing untuk merilis lebih banyak stimulus karena perang perdagangan dengan Amerika Serikat terus berlangsung.
"Kami memperkirakan data tersebut lebih buruk dibandingkan bulan lalu, tetapi ini akan meningkatkan kekhawatiran tentang kondisi ekonomi China. Pasar akan sangat khawatir dan menantikan data PMI," kata analis Commerzbank, Esther Maria Reichelt.
Dolar Aussie turun hingga USD0,6922, level terendah sejak 3 Januari ketika kejatuhan di pasar valuta asing mengguncang mata uang utama.
Aussie sering dipandang sebagai proxy untuk pertumbuhan China karena ekonomi Australia yang bergantung pada ekspor dan China menjadi tujuan utama negara itu untuk komoditasnya.
Data domestik menambah tekanan pada mata uangnya, dengan laju pertumbuhan upah Australia tercatat stagnan.
Tetangganya, Selandia Baru melihat mata uangnya turun 0,1 persen menjadi USD0,6567.
Yuan sendiri sedikit membaik pada hari ini di posisi 6,8993 per dolar AS, tetapi masih mendekati level terendah lima bulan yang dicapai Selasa.
Data dari zona euro dan Amerika Serikat akan dirilis Rabu, dan bisa mempengaruhi dolar AS karena investor mencari dampak apa pun dari konflik perdagangan China-AS terhadap ekonomi terbesar di dunia itu.
Euro, sementara itu, tetap bertahan di posisi USD1,1214 bahkan ketika perkiraan awal menunjukkan ekonomi Jerman kembali ke jalur pertumbuhan pada kuartal pertama 2019, setelah lolos dari resesi pada semester kedua tahun lalu. (ef)

Sumber : Admin