Dirut BBTN: Geliat Infrastruktur Bakal Gairahkan Pasar Properti Tahun Ini
Sunday, February 04, 2018       10:42 WIB

Ipotnews - Geliat pembangunan infrastruktur yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi 2018 menjadi 5,4 persen diperkirakan menciptakan peningkatan di sektor properti yang dalam beberapa tahun terakhir cenderung bertumbuh melambat.
Menurut Direktur Utama Bank Tabungan Negara, Maryono, proyeksi pertumbuhan ekonomi 2018 yang ditetapkan pemerintah sebesar 5,4 persen akan terkatrol oleh inisiatif percepatan pembangunan infrastruktur, sehingga berimbas positif pada pertumbuhan sektor properti tahun ini.
"Percepatan program Satu Juta Rumah akan mendorong pertumbuhan ekonomi. Karena, pertumbuhan sektor properti yang mengikuti perbaikan infrastruktur nasional bisa memberi  multiplier effect  kepada pertumbuhan ekonomi," kata Maryono, saat ditemui dalam acara Indonesia Property Expo 2018 di Jakarta, akhir pekan ini.
Maryono menyatakan, pelaksanaan pemilihan umum kepala daerah (pilkada) secara serentak maupun gelaran Asian Games 2018 juga akan menjadi faktor pemacu pertumbuhan sektor properti 2018. "Sektor properti pada tahun ini akan mengalami kontraksi positif sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi," ucapnya.
Dia menilai, proyeksi terkait berlanjutnya perbaikan ekonomi 2018 diyakini akan meningkatkan daya beli masyarakat untuk memiliki rumah. "Saat ini pun angka permintaan rumah masih tinggi atau mencapai lebih dari sebelas juta unit," jelas Maryono.
Maryono mengungkapkan, hingga akhir 2017, telah menyalurkan kredit perumahan mencapai Rp140 triliun ( unaudited ) atau meningkat 20,41 persen ( year-on-year ). Pada Program Satu Juta Rumah, hingga akhir tahun lalu telah menyalurkan kredit Rp71,34 triliun untuk 666.806 unit rumah dari target 666.000 unit.
"Selama tiga tahun dalam Program Satu Juta Rumah, kami telah menyalurkan 1,7 juta unit rumah subsidi maupun nonsubsidi dengan nilai mencapai Rp188 triliun. Target ini menyalurkan Rp750.000 unit rumah KPR subsidi maupun non-subsidi," tuturnya.
Sebagaimana diketahui, pada Juli 2017 pemerintah telah menghentikan penugasan kepada untuk menyalurkan KPR melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan ( FLPP ), namun digantikan dengan skema Subsidi Selisih Bunga (SSB). Saat ini berharap agar pemerintah kembali menugaskan perseroan untuk menyalurkan KPR FLPP .
Lebih lanjut Maryono menambahkan, pada Indonesia Properti Expo 2018, bisa merealisasikan penyaluran KPR subsidi dan non-subsidi lebih dari Rp7 triliun.
"Kami selalu menggelar  property expo  dua kali setahun. Pada 2017 penyalurannya sebesar Rp7 triliun. Pada  property expo  saat ini diikuti 152 pengembang terdiri dari 868 proyek," papar dia.
Di tempat yang sama, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono, mengatakan sejauh ini pertumbuhan KPR bersubsidi akan tetap berada di kisaran 20-30 persen. "Pada pameran  property expo  tahun lalu saja terjadi nilai transaksi mencapai Rp7 triliun," ujar Basuki.
Namun demikian, Menteri PUPR berharap, tingginya pertumbuhan hunian KPR secara kuantitas harus dibarengi dengan upaya perbaikan kualitas. "Banyak rumah KPR yang belum layak huni, sehingga pertumbuhan pasar KPR juga harus diimbangi oleh  service . Kami tidak akan menyulitkan pengembang," katanya.
Basuki menambahkan, pada tahun ini pemerintah juga akan konsentrasi mendorong kredit mikro terkait upaya memudahkan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) untuk memiliki hunian layak. "Kami kira kredit mikro ini perlu diberikan perhatian lebih di 2018," ungkap Basuki. (Budi/ef)

Sumber : Admin
1,390
0.0 %
0 %

11,138

BidLot

8,204

OffLot