Dolar Perkasa, Emas Tertahan di Level Terendah Empat Bulan
Friday, April 19, 2019       04:24 WIB

Ipotnews - Emas bertahan di dekat level terendah empat bulan, Kamis, karena apresiasi dolar yang didorong data penjualan ritel Amerika yang kuat mengimbangi dukungan untuk logam tersebut dari data manufaktur Eropa yang lemah, memicu kekhawatiran terhadap pertumbuhan global.
Harga emas di pasar spot sebagian besar tidak berubah di posisi USD1.274,16 per ounce pada pukul 01.02 WIB, setelah jatuh ke level terendah sejak 27 Desember, yakni USD1.270,63 per ounce pada awal sesi, demikian laporan Reuters, di Bengaluru, Kamis (18/4) atau Jumat (19/4) dini hari WIB.
Logam kuning itu kehilangan lebih dari satu persen sepanjang pekan yang pendek ini dan berada di jalur untuk penurunan mingguan keempat beruntun.
Sementara itu, emas berjangka Amerika Serikat ditutup turun 0,1 persen menjadi USD1.276 per ounce.
Sebagian besar pasar ditutup untuk merayakan Jumat Agung, 19 April. "Emas naik tipis karena short-covering untuk akhir pekan dan berita manufaktur yang lemah dari zona euro, tetapi hari ini tertahan karena indeks dolar melampaui batas 97 dan penjualan ritel cukup kuat," kata George Gero, Direktur Pelaksana RBC Wealth Management.
Bisnis zona euro memulai kuartal ini dengan tertatih-tatih, di mana pertumbuhan di luar dugaan kembali mencatatkan perlambatan, survei menunjukkan.
Dolar naik terhadap sekeranjang enam mata uang utama setelah penjualan ritel Amerika melesat ke level tertinggi dalam satu setengah tahun pada Maret, menunjukkan pertumbuhan ekonomi meningkat pada kuartal pertama.
Dolar yang lebih kuat membuat emas lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lain.
Investor juga mencermati perundingan antara Amerika Serikat dan China untuk menyelesaikan sengketa perdagangan. Kedua negara itu bertekad menyelesaikan negosiasi pada awal Juni, menurut Wall Street Journal, Rabu.
Perak turun 0,1 persen menjadi USD14,99 per ounce. Platinum menembus level tertinggi dalam sepekan di kisaran USD899,89 per ounce.
Palladium melonjak satu persen menjadi USD1.415,51 per ounce, setelah sebelumnya melambung ke level tertinggi dalam dua pekan di posisi USD1.421,01 per ounce, menempatkan logam autocatalyst itu di jalur terbaiknya dalam tujuh minggu.
"Tentu, ekonomi China yang lebih kuat dapat mengarah pada lebih banyak permintaan logam tersebut, tetapi itu mungkin berbulan-bulan. Defisit pastinya masih ada tetapi ketidakseimbangan jangka pendek tampaknya berkurang," kata analis BMO, Tai Wong.
Pertumbuhan ekonomi China pada kuartal pertama tetap stabil di level 6,4 persen, melampaui ekspektasi untuk ekspansi 6,3 persen, yang menurut para analis bisa mendorong harga palladium pada sesi Rabu. (ef)

Sumber : Admin