Dwi Guna Laksana (DWGL) cetak laba Rp 66,34 miliar di kuartal III, ini pendorongnya
Saturday, November 21, 2020       10:24 WIB

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Kinerja apik berhasil ditorehkan oleh PT Dwi Guna Laksana Tbk (). Emiten pertambangan batubara ini membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai Rp 66,34 miliar per kuartal ketiga 2020. Capaian ini membaik dari realisasi kinerja di kuartal ketiga 2019 yang masih membukukan kerugian bersih hingga Rp 32,13 miliar.
Namun, membukukan penurunan pendapatan bersih sebesar 10,47% secara tahunan menjadi Rp 1,23 triliun. Herman Fasikhin, Presiden Direktur Dwi Guna Laksana mengatakan, turunnya pendapatan hingga kuartal ketiga 2020 disebabkan oleh dua faktor utama.
Pertama, secara tonase, realisasi penjualan batubara konsolidasian grup hingga periode kuartal ketiga 2020 memang lebih rendah 4% jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu.
Herman membeberkan, sampai dengan kuartal ketiga 2020, dan entitas anak telah berhasil mencatatkan realisasi penjualan sebesar 1.8 juta metric ton (MT) atau turun 4% secara tahunan. Sebagian besar penjualan ini disumbang oleh penjualan kepada pelanggan utama , yaitu PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).
Meski secara tahunan menurun, namun realisasi penjualan ini setara dengan 103% dari target yang dianggarkan tahun ini. Hingga akhir tahun 2020, masih terdapat sisa target penjualan sebesar 600 ribu MT yang harus dipenuhi dan entitas anaknya selama kuartal keempat ini untuk dapat mencapai target sampai dengan akhir tahun 2020.
Faktor kedua yang membuat pendapatan menurun adalah tidak adanya pendapatan dari jasa pemasaran pada tahun 2020 yang seharusnya dikontribusi oleh anak perusahaan yaitu PT Sinergi Laksana Bara Mas.
Melansir laporan keuangan, penjualan batubara masih menjadi kontributor terbesar bagi pendapatan yakni sebesar Rp 1,22 triliun atau mencapai 99,8% dari total pendapatan . Sisanya merupakan pendapatan dari jasa pelabuhan senilai Rp 2,5 miliar.
Di kuartal ketiga 2020, tercatat tidak menerima pendapatan dari jasa pemasaran. Padahal, di kuartal ketiga 2019, pendapatan dari segmen ini mencapai Rp 12,39 miliar.
"Kendati demikian, karena efisiensi biaya yang signifikan yang dilakukan pada beberapa pos beban pokok pendapatan dan beban umum administrasi, maka berhasil mencatatkan laba bersih Rp 66 miliar, jika dibandingkan tahun 2019 yang mengalami kerugian Rp 32 miliar," terang Herman kepada Kontan.co.id, Jumat (20/11).
Secara rinci, emiten pertambangan batubara ini berhasil menekan sejumlah pos beban. Pos beban pokok pendapatan misalnya, turun 17,4% secara tahunan menjadi Rp 1,07 triliun. Beban operasi bahkan menyusut hingga 96%, dari sebelumnya mencapai Rp 15,5 miliar menjadi hanya Rp 513 juta. Beban umum dan administrasi juga terpantau turun 35,67% secara tahunan menjadi Rp 43,03 miliar.
Di tengah fluktuasi harga batubara yang terjadi saat ini, terus berupaya melakukan efisiensi biaya-biaya yang ada dan mengoptimalkan pengiriman batubara kepada pelanggan utama yakni PLN atas kontrak jangka panjang yang telah dimiliki. Selain itu, melalui entitas anaknya PT Sinergi Laksana Bara Mas juga terus berupaya untuk menjajaki potensi pelanggan baru untuk pasokan dalam negeri.
Pada perdagangan Jumat (20/11), saham ditutup menguat 4,08% ke level Rp 204 per saham.

Sumber : KONTAN.CO.ID
214
0.0 %
0 %

3

BidLot

514

OffLot