Ekuitas Emerging Market Dalam Bahaya, Jika Inflasi AS Mencapai 3 Persen
Tuesday, February 13, 2018       20:34 WIB

Ipotnews - Ekuitas emerging market mengejutkan banyak pengamat karena ketahanannya dalam menghadapi aksi jual pasar global baru-baru ini. Indeks MSCI Emerging Market mampu menghindar dari tarikan kejatuhan S&P 500 di Wall Street, yang sangat terpukul ketika terjadi lonjakan aksi menghindari risiko.
Memang, sejarah menunjukkan bahwa, jika perkiraan laju inflasi AS terus berlanjut, ekuitas emerging market (EM) harus berupaya untuk menghindari masalah besar dalam beberapa tahun ke depan. Hal yang mengkhawatirkan saat ini adalah perkiraan laju inflasi AS yang dinilai mulai mendekati level membahayakan EM.
Riset Daniel Salter, kepala strategi ekuitas EM di Renaissance Capital, menunjukkan bahwa empat dari lima kejatuhan indeks MSCI EM - sejak dibentuk pada 1987 - yang mencapai lebih dari 30 persen, terjadi dalam rentang satu bulan ketika inflasi AS menembus 3 persen.
Indikasi tersebut tidak boleh dikesampingkan begitu saja. Data terakhir menunjukkan, pertumbuhan tingkat upah di AS pada Januari lalu sudah naik 2,9 persen dibanding tahun lalu, dan diyakini menjadi pemicu arus jual di bursa saham global.
Angka itu pun sudah lebih tinggi dari revisi indeks harga konsumen yang diperkirakan sudah lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya. Salah satu bank besar AS, pada Januari bahkan telah tiga kali menaikkan perkiraan laju inflasi IHK kuartalan secara tahunan, menjadi 3 persen pada Maret nanti, dari sebelumnya 2,1 persen. UBS juga mengantisipasi inflasi tahunan sebesar 3 persen pada kuartal I-2018 pada akhir Maret nanti.
Kedua bank itu memperkirakan, inflasi akan turun tajam pada kuartal kedua nanti. Namun melihat catatan sejarah, periode inflasi sebesar 3 persen yang singkat sekalipun, berpotensi memorakporandakan ekuitas EM.
"Kejatuhan emerging market cenderung dipicu oleh inflasi AS yang menembus 3 persen, seperti yang kita lihat pada Krisis Tequila tahun 1994, krisis Asia-Rusia 1997-98, krisis teknologi 2000, krisis keuangan global 2008, dan pembalikan kinerja EM pada 2011," kata Salter, seperti dikutip Financial Times (13/2).
Pada episode pertama, inflasi IHK AS mencapai 3 persen pada bulan September 1994. Pada bulan yang sama indeks MSCI Emerging Market mulai melorot tajam, ditandai oleh kejatuhan peso Meksiko karena aliran modal keluar, yang menyebabkan amblasnya sepertiga nilai indeks acuan pada bulan Maret 1995.
Contoh lonjakan inflasi AS yang mencapai 3 persen dalam masa yang sangat singkat itu, berlanjut dengan dimulainya kejatuhan ekuitas EM: pada bulan Oktober 1994 inflasi turun menjadi 2,6 persen.
Federal Reserve AS mengakui akan terus menaikkan suku bunga (setelah menaikkan menjadi 4,75 persen) menjadi 6 persen. Namun aksi jual di bursa EM tampaknya tidak hanya disebabkan oleh suku bunga The Fed yang lebih tinggi, mengingat pasar telah mengalami reli bahkan setelah suku bunga AS naik dari 3,75% dan yield US Treasury bertenor 10 tahun meningkat.
Salter mencatat bahwa kejatuhan pasar cenderung muncul menjelang akhir siklus pengetatan kebijakan moneter AS, bukan awal.
Kasus terbesar kejatuhan indeks MSCI sebesar 59 persen, dimulai pada bulan Oktober 1997, saat krisis keuangan Asia. Prosesnya dimulai 13 bulan penuh setelah inflasi AS mencapai 3 persen pada bulan September 1996, meskipun demikian aksi jual baru dimulai setelah suku bunga The Fed menyentuh level yang lebih tinggi, di posisi 5,5 persen.
Penurunan 54 persen indeks MSCI yang dimulai pada Februari 2000, dimulai pada bulan yang sama dengan inflasi AS yang juga menembus 3 persen. Sekali lagi ekuitas EM bertahan dari kenaikan suku bunga yang lebih tinggi The Fed, setelah meningkat tajam menjadi 5,75 persen. Imbal hasil Treasury 10-tahun juga meningkat, terutama berkat aksi para pemburu saham teknologi.
Kemerosotan terburuk dalam sejarah indeks MSCI , terjadi pada bulan Oktober 2007 sebesar 66 persen, yang berbarengan dengan bulan dimana inflasi AS naik ke atas 3 persen. Saat itu merupakan tahap awal krisis keuangan global yang mulai menyedot dana pasar saham seluruh dunia, namun belum berdampak secara material pada ekonomi riil.
Sekali lagi, tidak ada kenaikan suku bunga AS atau imbal hasil obligasi yang menghambat reli panjang MSCI dari level terendah tahun 2003.
Penurunan tajam indeks terbaru, turun 31 persen yang dimulai pada bulan Mei 2011, terjadi sebulan setelah inflasi IHK AS naik di atas 3 persen. Sekali lagi, suku bunga The Fed (yang berada di level terendah) atau imbal hasil Treasury (yang melorot) tak dapat dianggap sebagai pemicu aksi jual.
Salter menjelaskan, "setiap orang yang berpikiran bahwa The Fed menargetkan tingkat inflasi 2 persen, sehingga ketika [inflasi] sedikit di bawah 2 persen [orang berpikir] 'tidak masalah'." Ketika sedikit di atas 2 [mereka berpikir] 'mungkin itu akan turun kembali'.
"Tapi ketika [inflasi] mencapai 3 persen orang berpendapat bahwa itu adalah masalah, dan The Fed harus mengendalikannya kembali. Sebab jika tidak, kita akan mengalami kenaikan tingkat suku bunga darurat, atau sebaliknya akan terbenam dalam ekspektasi inflasi dan klaim upah," ujarnya.
Akibatnya, modal tersedot kembali ke dolar dan keluar dari EM, yang kemudian akan dipaksa menaikkan suku bunga untuk mencoba menghentikan arus keluar, sehingga mengangu perekonomian. Yang menarik, analisis Salter menunjukkan bahwa inflasi harga konsumen adalah alat ukur yang paling terkait dengan aksi jual yang yang muncul di pasar. Bukan indeks pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) yang dipantau oleh The Fed.
Geoff Dennis, kepala strategi ekuitas EM di UBS, percaya bahwa analisis tersebut "benar-benar masuk akal" jika inflasi yang lebih tinggi menjadi pemicu imbal hasil obligasi AS yang lebih tinggi. Khusus untuk kondisi saat ini, Dennis menilai kenaikan imbal hasil obligasi merupakan "risiko besar" yang dihadapi ekuitas EM.
"[Saham] emerging market sudah mahal secara konvensional, dan nilainya dapat dinilai wajar karena biaya modalnya rendah. Kondisi ini berubah," ujarnya.
Dennis tidak mengekspektasikan akan melihat inflasi AS atau imbal hasil obligasi meningkat secara signifikan dari level saat ini. Namun, jika itu terjadi, dia yakin dampaknya bisa lebih buruk di Wall Street daripada di emerging market. Pembalikan pola itu, menurutnya, karena dua alasan.
Pertama, karena harga saham AS sudah sangat mahal, yang diperdagangkan dengan konsensus rasio harga terhadap pendapatan mencapai 16,4, dibanding EM yang hanya sebesar 12,1. Kedua, banyak negara EM telah berupaya memperkuat diri mereka agar tidak terlalu rentan terhadap potensi peningkatan arus keluar modal sejak mengalami taper tantrum pada 2013, dengan menjalankan anggaran dan defisit neraca transkasi berjalan yang lebih kecil sehingga tidak terlalu bergantung pada pembiayaan luar negeri.
Salter mengakui temuannya tidak secara meyakinkan membuktikan adanya sebab-akibat. Ada beberapa kejadian yang tidak mendukung hubungan tersebut. Inflasi IHK naik di atas 3 persen pada bulan April 1995 dan tiga kali antara bulan Mei 2004 dan Juli 2005, tanpa melakukan lebih dari sekadar gangguan sesaat pada reli ekuitas EM.
Kalupun jika ada kausalitas, tidak ada jaminan hubungan seperti itu akan bertahan pasca krisis keuangan global. Dan untuk saat ini Salter agak lebih tenang, dengan inflasi AS saat ini masih di kisaran 2,1 persen, dan hanya sedikit sinyak akan naik ke tingkat bahaya.
Penelitian lebih lanjut oleh RenCap menunjukkan bahwa ekuitas EM secara historis akan berubah dalam rentang periode sekitar enam tahun, untuk berada dalam posisi mengungguli pasar negara maju, atau lebih rendah dari pasar negara maju. Saat ini, EM baru dua tahun mengalami kenaikan secara relatif. (Financial Times/kk)



Sumber : Admin