Fase Pemulihan Global akan Lambungkan Harga Komoditas, Didorong Investasi Infrastruktur
Friday, September 18, 2020       16:56 WIB

Ipotnews - Sejumlah analis memperkirakan, fase pemulihan ekonomi berikutnya kemungkinan akan didorong oleh investasi infrastruktur yang padat komoditas. Kondisi tersebut akan membuka peluang untuk keuntungan lebih lanjut di seluruh ruang industri dalam beberapa bulan mendatang.
Prediksi tersebut muncul pada saat para pelaku pasar memantau potensi kekuatan pemulihan ekonomi global, setelah banyak negara bergulat dengan peningkatan jumlah infeksi Covid-19 yang dilaporkan.
Pandemi virus korona telah mendorong para peramal untuk mengeluarkan proyeksi ekonomi yang mengerikan tahun ini. Laporan OECD pada Rabu lalu memperingatkan bahwa prospek ekonomi tetap "sangat tidak pasti."
Namun bagaimanapun, ada satu sinyal yang berpotensi mendorong momentum pemulihan, yaitu laporan China tentang peningkatan produksi industrinya pada Agsutus lalu, yang mencapai level tertinggi dalam delapan bulan terakhir.
Negara dengan perekonomian terbesar kdeua di dunia itu, dalam beberapa bulan terakhir telah berada dalam periode pemulihan. Data industri China yang dirilis Selasa lalu, menunjukkan percepatan pertumbuhan output industri pada Agustus lalu, menjadi lebih tinggi 5,6% dibandingkan tahun sebelumnya.
Data tersebut memperkuat pandangan bahwa pemulihan permintaan di Beijing terus meningkat, dengan stimulus pemerintah yang membantu memicu  rebound .
"Kami telah melihat respons yang intensif di industri logam China, respon yang sangat intensif," kata Max Layton, kepala penelitian komoditas EMEA di Citi.
"Sungguh menakjubkan betapa kuatnya pemulihan China di sisi konstruksi," ungkap Layton, seperti dikutip CNBC , Jumat (18/9), menggambarkan reli "spektakuler" yang terlihat di seluruh ruang industri.
Layton mengidentifikasi "tiga katalis besar" yang akan melambungkan permintaan komoditas, yang perlu diperhatikan hingga akhir tahun: berita vaksin virus Corona, kekuatan pemulihan ekonomi China, dan skala paket stimulus AS.
Harga bijih besi akan 'meroket'
"Saya pikir banyak stimulus yang akan digerakkan oleh sektor infrastruktur. Kami tahu bahwa ada defisit infrastruktur besar-besaran di banyak negara maju, dan itu adalah sesuatu yang bisa diatasi dalam periode ini," kata Nitesh Shah, direktur penelitian di WisdomTree Investments, New York.
"Mengapa menyia-nyiakan krisis yang bagus? Kita sebenarnya dapat mewujudkan banyak program infrastruktur yang telah ditunggu puluhan tahun untuk benar-benar berhasil saat ini," ujar Shah. "Saya tidak begitu optimistis dengan pemulihan cepat 'berbentuk V', tapi sedikit pemulihan pun akan baik untuk ruang industri," imbuhnya.
Pemulihan berbentuk V mengacu pada penurunan tajam dalam aktivitas ekonomi yang kemudian diimbangi dengan  rebound  yang cepat.
"Pada akhirnya, jika kita memperhatikan respons perekonomian (terhadap krisis virus korona) selama ini, kita akan mendapatkan respons fiskal yang besar, pemangkasan suku bunga bank sentral , dan pemompaan lebih banyak lebih banyak uang oleh bank sentral. Fase berikutnya adalah investasi besar-besaran dalam infrastruktur dan itu akan berlangsung datang secara global," kata Andy Critchlow, kepala berita EMEA di S&P Global Platts bulan lalu.
"Kami melihat ini pada tahun 2008-2009 sebagai respons terhadap krisis keuangan, (dan) apa yang kita dapatkan dari itu? Kita mendapatkan reli di beberapa pasar komoditas industri - itu adalah siklus super," ia menambahkan.
Ia mengaku, sangat mencermati komoditas seperti bijih besi sekarang ini, karena komoditas industri semacam itu akan meroket, "jika kita mendapatkan pantulan ini yang didorong oleh infrastruktur, maka kemudian akan tersaring menjadi minyak."
Harga spot bijih besi naik ke level tertinggi dalam enam setengah tahun, pada awal pekan ini, diperdagangkan mendekati USD129 per metrik ton didukung lonjakan konstruksi di China. Bahan pembuatan baja itu kemudian sedikit mengurang kenaikannya menjadi USD126,59 pada hari Jumat. Sejauh ini, harga bijih besi sudah melesat lebih dari 37% ( year-to-date ).
Bersamaan dengan suku bunga global yang mendekati nol, permintaan emas berjangka - untuk lindung nilai terhadap risiko inflasi - melonjak lebih dari 28% sepanjang tahun ini. Sementara itu, harga perak melambung sekitar 50% selama periode yang sama.
Menjelang tahun 2021, Critchlow memperkirakan beberapa negara dengan perekonomian terbesar di dunia dapat segera mengumumkan perkembangan infrastruktur "besar". Proyek-proyek ini kemungkinan besar akan dipimpin oleh China, India, dan AS.
Dua kandidat dalam pemilihan presiden AS juga telah menjanjikan akan menggelontorkan "banyak uang" untuk membangun infrastruktur. "Itu pasti bagus untuk permintaan minyak dan itu juga bagus untuk komoditas secara keseluruhan," ujar Critchlow. ( CNBC )

Sumber : Admin

berita terbaru
Monday, Oct 19, 2020 - 18:02 WIB
ARNA Yakin Kinerja Tahun Ini Dipastikan Moncer
Monday, Oct 19, 2020 - 17:05 WIB
Garap Proyek Blok Rokan, PGAS Gandeng KRAS
Monday, Oct 19, 2020 - 16:50 WIB
Target Price UNTR
Monday, Oct 19, 2020 - 16:50 WIB
Target Price TOWR
Monday, Oct 19, 2020 - 16:49 WIB
Target Price ADRO
Monday, Oct 19, 2020 - 16:49 WIB
Target Price PTBA