Harga CPO Naik, Kuartal I-2021 Pendapatan ANJT Naik 59,51 Persen
Friday, June 11, 2021       11:41 WIB

Ipotnews - Ditopang oleh harga  crude palm oil  (CPO) atawa minyak kelapa sawit yang sedang naik, kinerja keuangan PT Austindo Nusantara Jaya Tbk () pada kuartal I-2021 berhasil tumbuh positif.
Menurut Wakil Direktur Utama , Lucas Kurniawan harga CPO memang lebih tinggi di tiga bulan pertama tahun ini. Imbasnya pendapatan perusahaan pun melejit.
Sebagai catatan pendapatan bersih melesat 59,51% dari US$ 36,8 juta di kuartal I-2020 menjadi US$ 58,7 juta pada kuartal pertama lalu. Alhasil, perusahaan pun berhasil mencetak laba bersih US$ 3,1 juta di akhir Maret 2021 lalu. Padahal pada kuartal I-2020, masih alami rugi bersih US$ 1,2 juta.
Karena itu, perusahaan berharap penguatan harga CPO terus berlanjut hingga akhir tahun. Para analis pun masih melihat prospek  bullish  pada harga CPO di tahun ini.
"Namun ada beberapa faktor risiko yang menjadi perhatian kami, termasuk kenaikan pajak ekspor yang diterapkan oleh pemerintah Indonesia, kenaikan produksi CPO dan keberlanjutan mandat biodiesel," jelas Lucas seperti dikutip  KONTAN , Kamis (10/6).
Untuk itu, perusahaan pun menerapkan sedikitnya enam strategi guna mempertahankan kinerja positif yang sudah didapat pada awal tahun ini. Pertama, mencapai profil usia kelapa sawit yang seimbang untuk mempercepat pertumbuhan di masa depan seraya mempertahankan profitabilitas dan arus.
Kedua, fokus pada keunggulan operasi dan peningkatan produktivitas melalui inovasi agronomi, teknologi dan transformasi digital, seperti mekanisme dan pengelolaan perkebunan menggunakan GIS serta EMPS . Ketiga, inovasi untuk mengurangi dampak cuaca ekstrim akibat perubahan iklim, seperti pengomposan, drip fertigasi dan pengelolaan air. Keempat, meningkatkan volume produksi ke tingkat yang berkelanjutan secara komersial dalam 3 tahun ke depan dan memasuki pasar baru untuk segmen bisnis sagu dan sayuran.
Kelima, strategi aliansi untuk produk hilir minyak kelapa sawit. Keenam, mendapatkan nilai premium dari praktik keberlanjutan termasuk pasar karbon, seperti e-traceability, pasar premium dari sertifikat keberlanjutan dan pendanaan karbon dari area konservasi.
Adapun, sampai akhir Maret 2021, memiliki 154.600 hektare (ha) cadangan lahan dan 54.700 ha untuk total area tertanam dengan 44.900 ha area menghasilkan dengan profil umur tanaman rata-rata 13,5 tahun dan 9.800 ha untuk area belum menghasilkan.
Sebagai informasi melansir  Bisnis , berhasil mengubah rugi menjadi laba pada 2020. Laporan keuangan perseroan menunujukkan berhasil membukukan laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$2,34 juta pada 2020.
Perolehan itu berbanding terbalik dengan perolehan 2019 yang mencatatkan rugi hingga US$4,19 juta. Laba bersih 2020 itu sejalan dengan pertumbuhan pendapatan dari semula US$130,35 juta pada 2019, naik 25,8 persen menjadi US$164,09 juta pada 2020. (winardi)

Sumber : Admin
620
0.0 %
0 %

0

BidLot

0

OffLot