Indeks USD Terbaik Pekan Ini Seiring Kekhawatiran Pada Stimulus Fiskal dan Covid-19
Saturday, October 17, 2020       08:10 WIB

Ipotnews - Indeks dolar AS melemah pada perdagangan akhir pekan ini, menanggalkan penguatan pekan ini. Tekanan terhadap dolar dibangun oleh sikap kehati-hatian investor yang menguat terhadap lonjakan kasus baru infeksi corona secara global serta prospek yang suram lolosnya paket stimulus fiskal USA sebelum pilpres 3 November.
Pelemahan greenback dalam beberapa hari ini sedikit terhambat setelah data penjualan ritel AS yang kuat membantu meredakan kekhawatiran tentang kesehatan konsumen AS.
Indeks dolar AS turun 0,1 persen menjadi 93,676. Indeks naik 0,7 persen untuk minggu ini merupakan kenaikan mingguan terbaiknya dalam tiga minggu.
Eropa telah memberlakukan kebijakan pembatasan baru untuk memeranghi virus corona. Wilayah Midwest USA sedang melakukan perang melawan lonjakan kasus baru corona, menjadi ancaman pemulihan ekonomi USA dari guncangan virus corona.
Rencana paket stimulus fiskal USA tetap macet dalam negosiasi tiga arah antara Gedung Putih, Senat Partai Republik dan Demokrat DPR.
Defisit anggaran USA mencapai rekor USD 3.132 triliun selama tahun fiskal 2020, lebih dari tiga kali lipat kekurangan 2019, sebagai akibat dari pengeluaran besar-besaran untuk penyelamatan virus corona, kata Departemen Keuangan AS pada hari Jumat.
"Optimisme pasar tertusuk minggu ini terhadap penguatan greenback di tengah kuartet kekhawatiran atas virus, stimulus, ekonomi AS dan pemilihan presiden yang semakin dekat," kata Joe Manimbo, analis di Western Union Business Solutions di Washington.
Mata uang safe-haven yen Jepang menuju kenaikan mingguan 0,2 persen terhadap greenback karena minat investor untuk aset safe haven tetap kuat.
Penjualan ritel AS meningkat lebih dari yang diharapkan pada bulan September.
"Kenaikan yang tidak terduga kuat 1,9 persen penjualan ritel bulan lalu menunjukkan ekonomi membawa lebih banyak momentum ke kuartal keempat daripada yang diantisipasi, menentang kekhawatiran bahwa berakhirnya tunjangan pengangguran yang meningkat di musim panas akan merugikan ekonomi," Michael Pearce, seorang ekonom senior AS di Capital Economics, mengatakan dalam sebuah catatan.
"Tetapi dengan meningkatnya infeksi virus korona, kami tidak terburu-buru untuk merevisi perkiraan kami bahwa pertumbuhan PDB akan melambat menjadi 4% per tahun pada kuartal keempat," katanya.
Sterling, menghapus sebagian besar kenaikan awalnya untuk diperdagangkan sedikit lebih tinggi pada hari itu dalam sesi berombak pada hari Jumat. Hal ini terjadi setelah Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan kepada kalangan bisnis untuk bersiap-siap Brexit tanpa kesepakatan.
(reuters/cnbc)

Sumber : admin

berita terbaru
Monday, Oct 19, 2020 - 18:02 WIB
ARNA Yakin Kinerja Tahun Ini Dipastikan Moncer
Monday, Oct 19, 2020 - 17:05 WIB
Garap Proyek Blok Rokan, PGAS Gandeng KRAS
Monday, Oct 19, 2020 - 16:50 WIB
Target Price UNTR
Monday, Oct 19, 2020 - 16:50 WIB
Target Price TOWR
Monday, Oct 19, 2020 - 16:49 WIB
Target Price ADRO
Monday, Oct 19, 2020 - 16:49 WIB
Target Price PTBA