Investor Pangkas Posisi Beli, Dolar di Jalur Depresiasi Mingguan Terbesar 1 Tahun
Friday, January 14, 2022       14:34 WIB

Ipotnews - Dolar menuju penurunan mingguan terbesar dalam lebih dari satu tahun, Jumat, karena investor memangkas  long position  dan menganggap--untuk saat ini--bahwa beberapa kenaikan suku bunga AS pada 2022 sudah sepenuhnya diperhitungkan.
Dalam seminggu di mana data menunjukkan inflasi Amerika Serikat berada di titik terpanas sejak awal 1980-an, aksi jual memaksa  greenback  melalui support utama terhadap euro dan yen, khususnya, dan trader tampaknya puas untuk mengurangi spekulasi mereka sampai tren yang lebih jelas mengemuka.
Indeks Dolar (Indeks DXY) anjlok sekitar 1,14% pekan ini, di jalur penurunan persentase mingguan terbesar sejak Desember 2020, dan akan menghentikan reli yang berlangsung sekitar enam bulan. Terakhir, indeks tersebut turun sekitar 0,20% menjadi 94,654, demikian laporan  Reuters,  di Sydney, Jumat (14/1).
Euro melesat lebih dari 1% sejauh pekan ini, dan keluar dari kisaran yang dipertahankannya sejak akhir November, mencapai level tertinggi sejak 11 November di USD1,1483.
Dolar anjlok 1,53% terhadap yen selama seminggu, penampilan terburuk sejak Juni 2020, dan melorot serendahnya 113,64 untuk kali pertama sejak 21 Desember.
Pelemahan dolar terjadi ketika suku bunga berjangka AS terkunci dalam empat kenaikan tahun ini. Tetapi imbal hasil jangka panjang sedikit turun karena komentar  hawkish  dari pejabat Federal Reserve tentang pengurangan  balance sheet  bank tersebut.
"Investor tampaknya mengisyaratkan bahwa berakhirnya pelonggaran kuantitatif, menaikkan suku bunga empat kali dan memulai pengetatan kuantitatif semuanya dalam waktu sembilan bulan...itu sangat agresif, sehingga akan membatasi ruang lingkup untuk kenaikan lebih jauh," kata Derek Halpenny, Kepala Riset MUFG .
Mata uang Antipodean juga bangkit dari kisarannya dan akan membuat pedagang mencermati data tenaga kerja serta inflasi di kedua negara itu, untuk apa pun yang mungkin mendorong perubahan lebih lanjut dalam retorika bank sentral.
Dolar Selandia Baru melejit 1,46% sejauh pekan ini dan berada di atas pergerakan rata-rata 50 hari (MA50) di USD0,6861. Aussie sempat melampaui level resistance di kisaran USD0,7276 minggu ini, tetapi mundur ke sekitar level itu pada sesi Jumat.
"Bukti lebih lanjut dari penguatan di pasar tenaga kerja akan memicu ekspektasi...untuk potensi perubahan positif dalam retorika Reserve Bank of Australia yang akan mendukung prospek AUD," kata analis Rabobank, Jane Foley.
"Kami memperkirakan AUD/USD akan didorong lebih tinggi ke posisi USD0,74 pada semester kedua 2022."
Poundsterling juga terus melesat, mengabaikan krisis politik yang mengancam posisi Perdana Menteri Boris Johnson dengan keyakinan bahwa ekonomi Inggris dapat menahan gelombang infeksi Cpvid-19 dan Bank of England bakal menaikkan suku bunga bulan depan.
Pound diperdagangkan di atas MA200 pada sesi Kamis dan menuju kenaikan mingguan keempat berturut-turut lebih dari 0,5%. Terakhir, sterling dibeli USD1,3733.
Di Asia, Jumat, Bank of Korea menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 1,25%, sesuai ekspektasi, dan won Korea Selatan bakal mencatat kenaikan mingguan sekitar 1,3%. (ef)

Sumber : Admin