Jelang Pertemuan Amerika-Korea Utara, Saham Asia Berbalik Menguat
Monday, June 11, 2018       13:07 WIB

Ipotnews - Saham Asia menghapus pelemahan di sesi awal dan naik tipis, Senin siang, menjelang pertemuan puncak Amerika-Korea Utara yang diharapkan para investor mungkin membuka jalan untuk mengakhiri kebuntuan nuklir di semenanjung Korea.
Saham tertekan di awal perdagangan setelah Presiden Donald Trump membangkitkan kekhawatiran baru tentang perang perdagangan global ketika dia menyatakan mundur dari komunike bersama Group of Seven, akhir pekan, sebagai pukulan terhadap upaya kelompok itu untuk menunjukkan front persatuan.
Indeks S&P 500 futures tercatat 0,1 persen lebih rendah setelah turun sebanyak 0,3 persen, demikian laporan Reuters, di Tokyo, Senin (11/6).
Indeks saham Asia Pasifik yang lebih luas, MSCI --di luar Jepang--tergelincir di sesi awal tetapi terakhir menguat 0,3 persen. Hang Seng Hong Kong juga naik 0,3 persen sementara Shanghai Composite Index melemah 0,5 persen.
Sedangkan indeks Kospi Korea Selatan bertambah 0,65 persen, dan Nikkei Jepang naik 0,55 persen.
"Apa yang terjadi pada akhir pekan G7 adalah dalam lingkup ekspektasi sebelumnya. Dan kendati negara-negara tersebut tidak setuju pada perdagangan, mereka tampaknya menunjukkan front yang menyatu pada masalah Korea Utara, jadi ada juga elemen positif dari G7 yang mempengaruhi sentimen risiko," kata Masahiro Ichikawa, analis Sumitomo Mitsui Asset Management.
Setelah pertemuan G7, Trump menarik dukungannya untuk komunike tersebut dan mengecam Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau di tengah sengketa tarif impor.
"Pertemuan G7 di Kanada menegaskan kembali keretakan yang berkembang antara Washington dan sekutunya atas perdagangan bebas," ungkap Tai Hui, Kepala Strategi Pasar untuk Asia Pasifik di J.P. Morgan Asset Management.
"Kepercayaan bisnis, dan kemudian belanja modal, beresiko jika ketegangan ini berlanjut sepanjang musim panas," katanya, sambil menambahkan pertemuan kebijakan Federal Reserve dan Bank Sentral Eropa, pekan ini, akan menjadi peristiwa penting.
Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un akan mengadakan pertemuan yang belum pernah terjadi sebelumnya, di Singapura, Selasa, yang kemungkinan meletakkan dasar untuk mengakhiri kebuntuan nuklir antara musuh bebuyutan tersebut.
Beberapa analis juga menaikkan prospek sanksi internasional terhadap Korea Utara akan dicabut.
"Ada banyak hambatan yang perlu diatasi jika kesepakatan antara Amerika dan Korea Utara harus disepakati, paling tidak kurangnya kepercayaan antara kedua belah pihak," papar Gareth Leather, ekonom Capital Economics.
"Namun demikian, meningkatnya hubungan antara Amerika dan Korea Utara setidaknya membuat kemungkinan dicapai kesepakatan, bisa saja sanksi ekonomi terhadap Korea Utara dicabut."
Investor juga bersiap menyambut peristiwa penting lainnya.
The Fed akan mengadakan pertemuan dua hari mulai 12 Juni, dan secara luas diperkirakan menaikkan suku bunga untuk kedua kalinya tahun ini. Fokusnya adalah pada apakah bank sentral akan mengisyaratkan untuk menaikkan suku bunga sebanyak empat kali pada 2018.
Selain itu, ECB akan bertemu pada 14 Juni, dan bisa mengisyaratkan niat untuk memulai pengurangan program pembelian obligasi besar-besarannya.
Juga, Bank of Japan akan menyimpulkan pertemuan dua hari, Jumat, di mana secara luas diperkirakan tetap mempertahankan kebijakan moneter yang longgar.
Euro, yang terangkat minggu lalu di tengah prospek ECB mengisyaratkan keluar dari kebijakan pelonggaran moneter, menguat 0,25 persen menjadi USD1,1797.
Dolar menghapus kerugian sebelumnya untuk diperdagangkan 0,2 persen lebih tinggi menjadi 109,80 yen, karena ekuitas regional menguat dan imbal hasil US Treasury aik menjelang pelelangan.
Indeks dolar, ukuran greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama, menyusut 0,1 persen menjadi 93,470. (Budi/ef)

Sumber : Admin