Kekhawatiran Virus Korona Tekan Lagi Mata Uang dan Saham EM Asia
Wednesday, September 23, 2020       13:21 WIB

Ipotnews - Mayoritas mata uang dan indeks saham  emerging markets  Asia mengalami pelemahan pada hari Rabu siang (23/9). Kekhawatiran tentang meningkatnya infeksi virus korona secara global dan dampaknya pada pertumbuhan ekonomi telah membebani pasar di seluruh Asia dalam minggu ini.
Menurut laporan Reuters, mata uang EM Asia yang melemah siang ini yuan -0,20%, rupiah -0,34%, ringgit -0,14%, peso -0,05%, won -0,01%, dolar Singapura -0,14%, dan baht -0,48%. Sedangkan mata uang yang menguat hanya dolar Taiwan 0,35% dan rupee bertahan stabil.
Dolar Taiwan menunjukkan kinerja yang konsisten, berkat ekonominya yang bertumpu pada industri berbasis teknologi, menjadi satu-satunya perkecualian.
Baht melemah tertekan oleh kondisi ekonomi Thailand yang tengah berjuang bangkit dari tekanan pandemi virus korona. Investor mengekspektasikan rapat kebijakan Bank of Thailand, Rabu (23/9), akan mengungkapkan prospek ekonomi Thailand yang selama ini sangat mengandalkan sektor pariwisata. Kunjungan wistawan asing sudah terhenti sejak April lalu.
"Kelesuan ekonomi akan berkepanjangan di tengah berlanjutnya ketidakpastian, kalau akomodasi kebijakan tidak diperluas, "kata Riki Ogawa, Kepala Departemen Perbendaharaan Asia dan Oseania Bank Mizuho.
"(Tapi) BoT lebih cenderung memberikan kredit atau fasilitas likuiditas serta dukungan untuk pasar obligasi, baik yang dikeluarkan pemerintah dan perusahaan," ujar Riki.
Rapat BoT berlangsung ditengah gelombang protes yang menyerukan pengunduran diri Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha dan beberapa anggota kabinet. Kondisi membuat ketidakpastian politik dan semakin mengikis kepercayaan investor.
Rupiah melemah setelah produk domestik bruto (PDB) Indonesia tahun fiskal 2020 diprediksi menurun. Permintaan obligasi Indonesia turun pada lelang surat utang Selasa lalu.
Sedangkan ringgit jatuh setelah pemimpin oposisi Anwar Ibrahim mengklaim memiliki kekuatan mayoritas di parlemen. Klaim pemimpin oposisi muncul kurang dari tujuh bulan setelah Muhyiddin Yassin merebut kursi Perdana Menteri berikut kekacauan politik yang disertai pengunduran diri Mahathir Mohamad dari kursi PM.
"Pemilu AS pada November juga menimbulkan risiko besar ke pasar di seluruh dunia, dan ketidakpastian yang berkembang mendorong investor untuk menyingkirkan risiko dari meja, "kata Han Tan, pasar analis di FXTM .
Sementara itu, iIndeks saham EM Asia yang melemah adalah Indonesia -0,23%, Malaysia -0,62%, Fillipina -0,10%, Korea Selatan -0,50%, Singapura -0,02%, dan Taiwan -0,50%, dan indeks saham yang menguat adalah China 0,02%, India 0,94%, dan Thailand 0,07%.
Indeks saham Malaysia mengalami pelemahan terbesar di EM Asia. Penurunan itu terkait dengan data yang menunjukkan inflasi Agustus tertahan di wilayah negatif alias deflasi, lebih buruk dari perkiraan.
Hanya India yang melawan arus berkat tingginya permintaan untuk saham pada perusahaan konglomerat energi dan ritel Reliance. Reliance menjadi subyek investasi besar dari Facebook, Google, dan pemain asing besar lainnya pada tahun ini. (Adhitya)

Sumber : Admin

berita terbaru
Monday, Oct 19, 2020 - 18:02 WIB
ARNA Yakin Kinerja Tahun Ini Dipastikan Moncer
Monday, Oct 19, 2020 - 17:05 WIB
Garap Proyek Blok Rokan, PGAS Gandeng KRAS
Monday, Oct 19, 2020 - 16:50 WIB
Target Price UNTR
Monday, Oct 19, 2020 - 16:50 WIB
Target Price TOWR
Monday, Oct 19, 2020 - 16:49 WIB
Target Price ADRO
Monday, Oct 19, 2020 - 16:49 WIB
Target Price PTBA