Ketegangan Konflik Dagang AS-China Mereda, Tembaga Menguat
Wednesday, May 15, 2019       14:59 WIB

Ipotnews - Tembaga dan sebagian besar logam dasar lainnya menguat, Rabu, karena meredanya ketegangan sengketa perdagangan AS-China setelah komentar positif Presiden Donald Trump. Harga logam dasar juga terdongkrak kebangkitan pertumbuhan ekonomi Jerman pada kuartal pertama.
Selasa, Trump melunakkan nadanya dalam serangkaian komentar yang menyatakan optimistis mencapai kesepakatan perdagangan dengan Beijing, yang dapat membantu meningkatkan permintaan logam dasar.
Presiden China, Xi Jinping, Rabu, menyampaikan keterbukaan negaranya kepada dunia dalam pidato publik pertamanya sejak ketegangan perdagangan memanas pekan lalu.
Sentimen juga dibantu oleh rebound pertumbuhan Jerman, ekonomi terbesar di Eropa dan salah satu pengguna tembaga terbesar dunia. Ekonomi Jerman meningkat 0,4 persen sepanjang Januari-Maret 2019 (quarter-on-quarter) setelah dua kuartal tanpa ekspansi, didukung oleh belanja rumah tangga yang lebih tinggi dan industri konstruksi yang berkembang pesat.
Harga tembaga untuk kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange naik 0,5 persen menjadi USD6.058 per ton pada pukul 14.11 WIB, sementara nikel menguat 0,6 persen, seng bertambah 0,9 persen dan timbal meningkat 0,6 persen, demikian laporan Reuters, di Singapura, Rabu (15/5).
Stok tembaga di gudang LME, Senin, turun 2,5 persen dari sesi sebelumnya menjadi 198.650 ton, menurut data terbaru, sementara pasar tembaga global terlihat defisit sepanjang 2019 dan 2020.
Sementara itu, semua logam dasar di Shanghai Futures Exchange naik, mengikuti reli yang kuat di London, tadi malam. Tembaga Shanghai naik 0,5 persen persen menjadi 47.730 yuan (USD6.954,08) per ton, dan aluminium menguat 0,9 persen.
Namun, prospek logam dasar tetap tidak pasti. "Kami menduga tembaga dan sektor logam dasar lainnya akan tertekan ketika konflik perdagangan belum terselesaikan, meski fundamentalnya tetap positif," kata ANZ.
Rabu, China melaporkan pelemahan pertumbuhan output industri, investasi fixed-asset dan penjualan ritel untuk April, memperkuat ekspektasi langkah stimulus lebih lanjut, sementara investasi properti tetap menguat.
Patokan aluminium turun 0,6 persen setelah China melaporkan produksi aluminium untuk April meningkat 3,9 persen dari periode yang sama tahun lalu menjadi 2,92 juta ton, karena pabrik peleburan logam di negara itu menggenjot produksinya di tengah harga yang lebih tinggi.
Produksi 2,92 juta ton diterjemahkan menjadi rata-rata 97.300 ton aluminium yang diproduksi dalam sehari untuk periode April, level harian tertinggi ketiga.
"Produksi yang berlebihan akan menjadi tren ke depan dan bakal berdampak negatif terhadap harga aluminium. Ekonomi melambat, permintaan tidak kuat," kata Helen Lau, analis Argonaut Securities. (ef)

Sumber : Admin