Ketegangan di Timur Tengah Imbangi Kenaikan Stok AS, Minyak Menguat
Thursday, May 16, 2019       04:40 WIB

Ipotnews - Minyak berjangka bergerak lebih tinggi, Rabu, dengan prospek meningkatnya ketegangan di Timur Tengah mengenai pasokan global dibayangi kenaikan tak terduga dalam persediaan minyak mentah AS.
Minyak mentah Brent, patokan internasional, ditutup menguat 53 sen atau 0,7 persen menjadi USD71,77 per barel, demikian laporan  Reuters , di New York, Rabu (15/5) atau Kamis (16/5) pagi WIB.
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menetap di posisi USD62,02 per barel, meningkat 24 sen atau sekitar 0,4 persen.
Persediaan minyak mentah AS di luar dugaan mengalami kenaikan, pekan lalu, ke level tertinggi sejak September 2017, sementara stok bensin turun lebih besar dari perkiraan, menurut Badan Informasi Energi (EIA).
Stok minyak mentah membengkak sebesar 5,4 juta barel, mengejutkan para analis yang memperkirakan penurunan 800.000 barel.
Namun, peningkatan tersebut lebih kecil dari estimasi kenaikan hampir 9 juta barel oleh American Petroleum Institute (API), kelompok perdagangan, Selasa, yang membantu mengangkat sentimen harga minyak mentah. Penarikan stok bensin juga membantu minyak berjangka, kata analis, dengan bensin berjangka AS melonjak sekitar dua persen.
Meningkatnya ketidakpastian di Timur Tengah, bagaimanapun, menjadi pendorong utama pergerakan harga minyak mentah.
"Meski persediaan minyak mentah meningkat lebih dari perkiraan pasar karena impor yang lebih tinggi, harga tetap didukung karena dinamika geopolitik Timur Tengah," kata Andrew Lipow, Presiden Lipow Oil Associates di Houston.
Harga minyak mendapat dorongan sejak Arab Saudi, Selasa, mengatakan pesawat tanpa awak menyerang dua stasiun pompa minyak, dua hari setelah sabotase tanker minyak di dekat Uni Emirat Arab.
"Mengingat hampir sepertiga produksi minyak global dan hampir semua kapasitas cadangan global berada di Timur Tengah, pasar minyak sangat sensitif terhadap setiap serangan terhadap infrastruktur minyak di wilayah itu," kata bank Swiss, UBS.
Serangan itu terjadi dengan latar belakang ketegangan AS-Iran. Washington berusaha memotong ekspor minyak Iran menjadi nol dengan sanksi, sembari meningkatkan kehadiran militer AS di Teluk.
Washington memerintahkan kepergian staf non-darurat Amerika dari misi diplomatiknya di Irak, Rabu, untuk menunjukkan kekhawatiran tentang ancaman dari pasukan yang didukung Iran.
"Mungkin ada konflik yang cukup serius dengan Iran jika mereka melakukan sesuatu terhadap pasukan AS di kawasan tersebut, dan itu akan melambungkan harga minyak," kata Josh Graves, analis RJO Futures di Chicago.
Badan Energi Internasional mengatakan dunia akan membutuhkan sedikit minyak tambahan dari Organisasi Negara Eksportir Minyak tahun ini karena  booming -nya produksi AS akan mengimbangi penurunan ekspor dari Iran dan Venezuela.
Pengawas energi itu juga merevisi perkiraannya untuk pertumbuhan 2019 dalam permintaan minyak global sebesar 90.000 barel per hari lebih rendah menjadi 1,3 juta barel per hari. (ef)

Sumber : Admin