Kilas Emiten: SMCB, PTBA, MPOW, dan DOID
Wednesday, January 02, 2019       08:49 WIB

Ipotnews - Kilas emiten berikut layak diperhatikan sebelum memulai transaksi perdana awal 2019 ini, Rabu (2/1):
1. PT Holcim Indonesia Tbk () menerima pinjaman 40 juta euro untuk kebutuhan operasional dari Holderfin B.V. yang telah ditandatangani keduanya pada 27 Desember 2018. Perseroan juga menuturkan akan menggunakan dana 40 juta euro yang dipinjam untuk kebutuhan operasional secara umum. Penarikan maksimal dilakukan 10 hari sejak penandatanganan perjanjian pinjaman. Perseroan akan membayar pinjaman dengan ketentuan 100% dibayarkan pada saat jatuh tempo atau 2 tahun setelah penarikan. Adapun, bunga yang dikenakan pada 3,37% di atas Euro Interbank Offered Rate atau Euribor. Manajemen menjelaskan bahwa maksud dan tujuan dari pinjaman tersebut yakni menarik tambahan pendanaan jangka panjang dari pemegang saham utama.
2. PT Bukit Asam Tbk () terus memperbesar kapasitas angkutan batu bara dengan mengembangkan empat jalur kereta api. Pada 2022, perseroan membidik total kapasitas distribusi mencapai 60 juta ton. Perseroan juga menuturkan sedang mengembangkan empat jalur kereta api dari tambang di Tanjung Enim, Sumatra Selatan. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas distribusi batu bara dari 25 juta ton menjadi 60 juta ton pada 2022. Kedua, peningkatan kapasitas angkut jalur kereta api ke Tarahan I, Lampung Selatan. Proyek yang ditargetkan selesai pada akhir 2019 atau awal 2020 itu akan meningkatkan kapasitas distribusi batu bara dari 20 juta ton menjadi 25 juta ton. Manajemen menyampaikan bahwa peningkatan produksi batu bara perseroan akan disesuaikan dengan kapasitas pengangkutan kereta api dari lokasi tambang menuju pelabuhan. Sampai akhir 2018 perusahaan masih mematok target produksi batu bara sejumlah 25,54 juta ton, naik 5% yoy dari sebelumnya 24,25 juta ton. Pada 2019, diperkirakan volume produksi meningkat di atas 5% atau sekitar 27 juta ton.
3. PT Megapower Makmur Tbk () menjajaki akuisisi dua proyek pembangkit listrik di sektor energi terbarukan. Ke depannya, perusahaan akan fokus ekspansi Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro ( PLTM ). Manajemen menyampaikan bahwa akan semakin fokus ke bisnis EBT karena prospek bisnis yang lebih menguntungkan dibandingkan PLTD . Kebijakan dan regulasi pemerintah juga lebih mendukung pengembangan EBT dibandingkan energi dari solar.
Saat ini, mengoperasikan pembangkit listrik dengan total daya 34,2 MW. Perinciannya, Pembangkit Listrik Tenaga Diesel ( PLTD ) 30 MW yang tersebar di Sumatera, dan 4,2 MW adalah PLTM Bantaeng, Sulawesi Selatan. Perseroan menambahkan, sampai akhir 2018 diperkirakan pendapatan perseroan terkoreksi 10%--12% dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2019, kinerja keuangan diperkirakan membaik seiring dengan peningkatan permintaan listrik.
4. PT Delta Dunia Makmur Tbk () mendapatkan fleksibilitas untuk mendapatkan pinjaman 25% dari total aset yang disesuaikan dari sebelumnya hanya 7,5%. Perseroan sudah mengajukan permohonan persetujuan (consent solicitation) kepada pemegang surat utang sejumlah US$350 juta. Suku bunga tetap 7,75% yang jatuh tempo pada 2022. Penandatanganan dilakukan antara BUMA dengan The Bank of New York Mellon sebagai trustee. Manajemen menyampaikan bahwa langkah ini dilakukan agar ketika perusahaan membutuhkan dana tambahan, pihaknya masih bisa mendapatkan fasilitas pendanaan. Namun perjanjian ini bukan menambah pinjaman, melainkan antisipasi bila ada kebutuhan dana ke depannya. Dengan disetujuinya consent solicitation tersebut oleh pemegang surat utang, hal itu membuat perseroan kian fleksibel.

Sumber : admin
109
0.0 %
0 %

6

BidLot

115

OffLot