Lampaui Industri, Laba BNI di Februari Melesat 22,3%
Tuesday, April 07, 2020       11:42 WIB

Jakarta, CNBC Indonesia- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk () membukukan kinerja ciamik di Februari 2020, yang terlihat di peningkatan laba bersih, kredit, hingga dana pihak ketiga.
Laba bersih bank BUMN ini melesat 22,27% menjadi Rp 2,58 triliun, dibandingkan Februari 2019 senilai Rp 2,11 triliun. Jika dibandingkan dengan industri perbankan yang hanya tumbuh 8,25% di Januari 2020, maka laba BNI tumbuh jauh lebih tinggi dibandingkan dengan industri.
Peningkatan laba bersih didorong pendapatan komisi dan administrasi yang tetap kuat yakni Rp 1,44 triliun pada Februari 2020. Selain itu, BNI juga mencatatkan kenaikan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) hampir 16% menjadi Rp 5,92 triliun pada Februari 2020, dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 5,11 triliun.
Peningkatan pendapatan dan laba bersih ini juga dibarengi dengan kenaikan aset hampir 10% pada Februari 2020 menjadi Rp 788,72 triliun. Sementara pada Februari 2019 aset bank pelat merah ini tercatat senilai Rp 718,82 triliun. Kenaikan aset perusahaan juga didukung oleh peningkatan penyaluran kredit dan dana pihak ketiga.
Per Februari 2020, penyaluran kredit BNI melesat11,8% menjadi Rp 529,53 triliun, dibandingkan periode yang sama 2019 senilai Rp 473,61 triliun. Sementara DPK perusahaan pun tercatat naik 9,83% menjadi Rp 573,3 triliun, dibandingkan Februari 2019 senilai Rp 521,97 triliun.
Direktur Tresuri dan Internasional BNI, Putrama Wahju Setyawan, mengatakan kinerja Perseroan pada Februari menjadi bukti bahwa fundamental BNI masih cukup kuat menghadapi ketidakpastian yang terjadi pada 2020.
"Kami terus mencermati perkembangan yang ada dan tetap akan tumbuh dengan menjaga manajemen risiko di tengah ketidakpastian akibat wabah COVID-19," ujar Putrama Wahju.
Sementara itu, Head of Investment PT Avrist Asset Management Tb. Farash Farich mengatakan sebuah sinyal positif untuk bank bisa tumbuh di awal tahun. Meski tantangannya semakin berat ke depannya, terutama karena perlambatan ekonomi akibat penyebaran virus ini.
"Dari sisi valuasi BNI termasuk yg sudah sangat rendah, Price to book 0.65x, dibawah standar deviasi historisnya," kata Farash.
Menurutnya ini juga bisa menjadi momen investor untuk mengoleksi saham BNI, apalagi dengan PBV saat ini yang menandakan saham bank pelat merah ini tengah undervalue. PBV adalah penilaian harga saham dengan nilai buku perusahaan. Biasanya, saham yang memiliki rasio PBV besar, punya valuasi tinggi (overvalue) sedangkan saham dengan PBV di bawah 1 kali, punya valuasi murah.
"Kemungkinan untuk valuasi kembali lebih rendah tetap ada. Tapi paling tidak valuasi saat ini sudah cukup menarik. Namun untuk antisipasi kemungkinan harga bisa lebih turun bisa dilakukan pembelian bertahap," ujarnya.
Dia menilai saham BNI menarik dikoleksi untuk investor jangka panjang. Pasalnya dengan kondisi saat ini, dan adanya pandemi COVID-19 industri perbankan pun tertekan. Saham BNI sendiri pernah mencapai PBV seperti ketika krisis 2008.
Saham bank dengan aset terbesar keempat ini tetap menarik perhatian investor, terutama investor domestik dengan nilai pembelian Rp 224,7 miliar, dan pembelian investor asing Rp 40,1 miliar. Pada penutupan perdagangan Senin, 6 April 2020 saham ditutup Rp 4.290/saham, melonjak hampir 7% dibandingkan penutupan Jumat 3 April 2020 sebesar Rp 4.010/saham.
Dengan catatan Loan to deposit ratio (LDR) yang bagus 2019, BNI memiliki ruang gerak yang cukup lebar untuk meningkatkan portofolio kreditnya. Hal ini tercermin dari penyaluran kredit BNI melesat 11,8% menjadi Rp 529,53 triliun, dibandingkan periode yang sama 2019 senilai Rp 473,61 triliun.
Sebelumnya Analis Buana Capital Suria Dharma mengatakan saham Bank BNI valuasinya sudah sangat murah, meski ada potensi tekanan dari kebijakan relaksasi kredit bagi UMKM . Kebijakan relaksasi ini dikeluarkan untuk mengurangi dampak ekonomi bagi UMKM akibat pandemi COVID-19.
"Yang punya portofolio di sektor UMKM pasti akan terpengaruh negatif, tapi kalau BNI saya hitung-hitung portofolionya di UMKM hanya 27%," kata Suria, Jumat (03/04/2020).
Meski kebijakan ini bisa membuat pendapatan emiten bank, termasuk BNI berkurang dia memproyeksikan tidak ada downgrade NPL sebagai imbas relaksasi ini.
"Pertumbuhan kreditnya tinggi di awal tahun, tapi memang pertumbuhannya kemarin tidak disertai pertumbuhan laba bersih yang kuat, karena memang sekarang melihat bank bukan hanya dari sisi pertumbuhan kreditnya saja," katanya.
Suria pun menilai saham menarik bagi investor. Yang perlu diperhatikan justru kondisi market keseluruhan di tengah pandemi virus corona ini. Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), volatilitas IHSG , dan proyeksi pertumbuhan ekonomi, yang akhirnya berdampak negatif bagi industri perbankan.
(dob/dob)

Sumber : cnbcindonesia.com
3,630
0.0 %
0 %

13,734

BidLot

7,905

OffLot