Lautan Luas (LTLS) membidik pendapatan naik 10%
Thursday, May 16, 2019       17:14 WIB

JAKARTA.PT Lautan Luas Tbk () optimitis bisa memenuhi target pendapatan di tahun ini. Kinerja produsen bahan kimia ini terangkat terutama dari bisnis pendukung dan jasa.
Direktur Operasi Lautan Luas, Herman Santoso menjelaskan tahun ini bisnis dari sektor pendukung dan jas ameningkat karena dari sisi logistk Indonesia sudah meningkat baik. "Tapi kami optimis juga bisnis manufaktur dan distribusi kami ikut terangkat," kata Herman, usai Rapat Umum Pemegang Saham ( RUPS ), Kamis (16/5).
Lautan Luas memasuki segmen usaha pendukung & jasa pada tahun 1995 dengan pendirian PT Lautan Jasaindo yang menyediakan jasa dan solusi laboratorium bagi pelanggan perusahaan di bidang industri electroplating, kulit, kertas, tekstil, dan pengolahan air.
Sejak saat itu, Perseroan telah memperluas penawarannya dengan menyertakan bisnis logistik yang terintegrasi dan rantai pasok, solusi pengolahan air yang komprehensif, dan solusi teknologi informasi.
Tahun ini emiten berkode saham ini membidik pendapatan naik 10%. Optimisme itu juga karena bisnis afiliasi yang membaik sejak beberapa tahun belakangan. Hanya saja kenaikan pendapatan itu tak diiringi dengan kenaikan laba. "Laba kami prediksi sama sekitar Rp 200 miliar karena terkendala ekonomi global dan juga kondisi politik dan ekonomi domestik," katanya.
Dalam laporan keuangan 2018 yang sudah diaudit tercatat pendapatan sebesar Rp 7,07 triliun. Jumlah tersebut naik 7,2% dari periode tahun sebelumnya sebesar Rp 6,59 triliun. Alhasil laba bersih pun ikut terkerek naik menjadi Rp 200,33 miliar. Meningkat 34,5% ketimbang periode tahun 2017 sebesar Rp 149,89 miliar.
Herman menjelaskan kondisi perang dagang Amerika Serikat (AS) dan Cina membuat adanya tantangan dan peluang. Untuk tantangan, pabrik Lautan Luas di Tiongkok jadi kesulitan untuk ekspor ke AS. Namun jadi peluang untuk bisa ekspor langsung dari Indonesia ke AS. Meski demikian kontribusi penjualan akan sama dengan tahun lalu. "Penjualan luar negeri masih 20% dan sebanyak 80% dari domestik," katanya.
Asal tahu saja, saat ini keseluruhan punya 17 fasilitas manufaktur. Sebanyak 14 diantaranya ada di Indonesia, dua di China dan ada satu di Vietnam. Saat ini utilisasi produksi masih dijaga pada kisaran 80%.
Tahun ini perusahan tak ada aksi korporasi baru. Hanya saja menyiapkan capex sekitar US$ 10 juta untuk pembelian mesin baru untuk pabrik di Surabaya. Sumber dananya sebagian internal dan sisanya pinjaman bank. "Ini kita beli mesin berteknlogi dari Jepang. Tujuannya untuk mengurangi biaya pemelirahaan mesin," katanya.
Dalam laporan keuangan pada kuartal I-2019 tercatat pendapatan sebesar Rp 1,80 triliun atau naik 4,65% dari periode sama tahun lalu sebanyak Rp 1,72 triliun. Meski pendapatan naik, tetapi bottom line perusahaan justru turun. Tercatat pada periode Januari-Maret 2019 laba bersih menjadi Rp 48,23 miliar. Atau turun 4,7% dari periode sama sebelumnya sebesar Rp 50,65 miliar

Sumber : KONTAN.CO.ID
615
2.5 %
15 %

209

BidLot

176

OffLot