Oktober 2019 Hanya Dana Kelolaan Reksadana Terproteksi Yang Turun
Tuesday, November 12, 2019       10:46 WIB

Ipotnews - Pada saat reksadana jenis lain kompak tumbuh, dana kelolaan reksadana terproteksi secara industri justru turun,
Karakteristik reksadana yang memiliki jatuh tempo ini menjadi penyebab utama penurunan dana kelolaan tersebut.
Berdasarkan data Infovesta Utama, per Oktober 2019, dana kelolaan reksadana terproteksi turun Rp 859 miliar secara bulanan menjadi Rp 143,72 triliun. Di periode yang sama semua reksadana jenis lain kompak mencatat kenaikan dana kelolaan.
 Menurut   Head of Research & Consulting Service  Infovesta Utama, Edbert Suryajaya, terdapat penurunan unit penyertaan di reksadana terproteksi karena beberapa produk sudah jatuh tempo.
"Jatuh tempo jadi faktor utama yang menurunkan AUM reksadana terproteksi, sementara sulit bagi investor untuk keluar dari reksadana jenis ini, apalagi dengan outlook penurunan suku bunga ke depan," kata Edbert, seperti dikutip Kontan, Senin (11/11).
Sementara  Head of Fixed Income Fund Manager  Prospera Asset Management, Eric Sutedja juga berpendapat sama, bahwa penurunan AUM reksadana terproteksi karena jatuh tempo. "Di Prospera AM juga ada produk reksadana yang baru jatuh tempo," kata Eric.
Di satu sisi, penurunan AUM reksadana terproteksi tidak bisa ditahan karena jatuh tempo produk. Di sisi lain, peluncuran produk baru kurang masif. Eric mengatakan sejak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tidak memperbolehkan reksadana terproteksi untuk memiliki portofolio dalam bentuk surat utang jangka menengah atau  medium term notes  (MTN), peluncuran produk reksadana terproteksi jadi berkurang.
Terkait hal itu, Bayu Pahleza, Fund Manager OSO Manajemen Investasi mengatakan tidak mengalami penurunan dana kelolaan reksadana terproteksi di OSO MI. "Mungkin ada produk reksadana terproteksi dari MI besar yang jatuh tempo sehingga membuat dana kelolaan reksadana terproteksi secara industri jadi turun," jelasnya.
Meski saat ini dana kelolaan turun, Eric memproyeksikan reksadana terproteksi akan tetap menarik bagi investor dan AUM berpotensi tumbuh. "Prospek reksadana terproteksi masih sangat baik karena  spread  antara produk deposito bank dan  return  reksadana ini masih lebar meski suku bunga sudah turun," paparnya.
Selain itu, masih banyak investor yang membutuhkan produk investasi yang bisa memberikan kepastian imbal hasil.
Edbert juga menambahkan, prospek ketidakpastian kondisi global dan kekhawatiran akan terjadi perlambatan ekonomi global membuat reksadana terproteksi yang bisa memberikan imbal hasil secara rutin setiap bulannya ini juga masih dilirik investor. Di tengah tren penurunan suku bunga yang besar kemungkinan masih akan berlanjut hingga tahun depan, Edbert mengatakan hal ini bisa menjadi sentimen negatif bagi reksadana terproteksi karena penawaran  yield  pada produk baru akan lebih kecil.
"Mumpung suku bunga belum turun lagi dan tawaran  yield  masih bisa lebih tinggi ini saat yang tepat beli reksadana terproteksi, apalagi jika produk tersebut memiliki surat utang yang berkualitas, dalam waktu cepat pasti akan diborong investor," terang Edbert. (winardi)

Sumber : Admin

berita terbaru
Saturday, Jul 04, 2020 - 15:08 WIB
Financial Statements 1Q 2020 of AKKU
Saturday, Jul 04, 2020 - 15:03 WIB
Financial Statements 1Q 2020 of IATA
Saturday, Jul 04, 2020 - 14:58 WIB
Financial Statements 1Q 2020 of CTTH
Saturday, Jul 04, 2020 - 14:52 WIB
Financial Statements 1Q 2020 of BCIP
Saturday, Jul 04, 2020 - 14:47 WIB
Financial Statements 1Q 2020 of LAND