Penyempitan Spread Imbal Hasil Perbesar Tekanan pada Rupiah
Monday, October 02, 2023       15:11 WIB

Ipotnews - Rupiah membukukan kuartal terburuk dalam lebih dari satu tahun terakhir pada akhir kuartal ketiga 2023. Para analis melihat akan ada lebih banyak ancaman opelemahan di masa depan.
Nilai tukar Tupiah terhadap dolar AS menembus level 15,400 pada akhir minggu lalu. Malayan Banking Berhad memperkirakan, ada kemungkinanrupiah akan menguji level terendah tahun ini di 15,638.
Harga-harga minyak mentah yang lebih tinggi mengancam untuk memperburuk keuangan negara-negara pengimpor minyak. Imbal hasil US Treasury yang lebih tinggi dan dolar AS yang lebih kuat kemungkinan juga akan membebani rupiah.
Rupiah adalah salah satu mata uang  emerging market  Asia yang berkinerja terburuk di kuartal ketiga ini, bahkan ketika bank sentral menjual obligasi baru untuk menarik aliran dana asing. Spread antara obligasi Indonesia bertenor 10 tahun dan sekuritas AS dengan tenor yang sama berada di dekat level terendah tahun ini, yang mengancam untuk memacu lebih banyak arus keluar dana dari surat-surat berharga lokal.
"Sebagai importir neto minyak mentah, harga minyak yang lebih tinggi menyebabkan memburuknya neraca transaksi berjalan," kata Nicholas Chia, pakar strategi makro di Standard Chartered Bank, Singapura.
"Perbedaan suku bunga yang menyempit dapat memicu lebih banyak arus keluar modal, terutama karena BI akan mempertahankan suku bunga acuannya untuk sisa tahun ini. Sementara itu masih ada risiko kenaikan suku bunga acuan oleh the Fed di kuartal keempat," imbuhnya, seperti dikutyip Bloomberg, Senin (2/10).
Spread menyusut di tengah meningkatnya spekulasi bahwa the Fed akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama. Selisih antara imbal hasil obligasi Indonesia bertenor 10 tahun telah menyempit menjadi sekitar 2,30% dari level tertinggi tahun ini sekitar 3,40% yang dicapai pada bulan Maret. Kondisi ini telah mengurangi daya tarik surat utang Indonesia dan mendorong arus keluar sebesar USD778 juta pada kuartal terakhir.
Rupiah turun 3% dalam tiga bulan, hingga akhir September, penurunan terbesar sejak periode kuartal II, Juni 2022. Bank Indonesia juga telah memperkenalkan obligasi baru, yang dikenal sebagai SRBI , tetapi belum terbukti efektif dalam membatasi penlemahan rupiah.
Bloomberg melaporkan, meski BI berhasil mengumpulkan Rp24,5 triliun rupiah dalam penjualan perdana surat berharga berdenominasi rupiah dalam beberapa minggu terakhir, nilai tukar rupiah masih turun sekitar 1,5% di September.
Kendati demikina, kondisi ini tidak berarti segalanya akan berjalan satu arah. Ahli strategi valas Maybank Alan Lau memprediksi imbal hasil AS dan dollar akan turun di bulan Desember, yang mungkin akan memberikan sedikit kelegaan untuk rupiah. Rupiah naik 0,4% menjadi Rp15.455 per dollar AS pada Jumat lalu.
Para trader masihh mencermati data inflasi yang dirilis hari ini untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter BI. Sementara itu, lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS membuat para investor khawatir akan membebani aset-aset  emerging market .
"Rupiah kemungkinan besar akan melemah, seperti kebanyakan mata uang-mata uang Asia lainnya," kata Nicholas Mapa, seorang ekonom di ING Groep NV. "Pada tahap ini, banyak hal yang masih bergantung pada ke mana the Fed akan melangkah karena hal ini akan berdampak pada sentimen. Oleh karena itu, prediksi kami akan sangat bergantung pada kebijakan The Fed, namun hingga narasi berubah, sebagian besar mata uang Asia akan berada di bawah tekanan," ungkapnya. (Bloomberg)


Sumber : admin