Perbankan Harus Cermat Cegah Moral Hazard di Tengah Wabah Virus Corona
Tuesday, April 07, 2020       12:00 WIB

Ipotnews - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menerbitkan Peraturan OJK No 11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional Sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease. Walau demikian, industri perbankan harus cermat agar tidak menimbulkan masalah moral hazard.
Ekonom PT Bank Negara Indonesia Tbk, Ryan Kiryanto menegaskan bahwa implementasi POJK tersebut harus dieksekusi dengan prinsip kehati-hatian untuk mencegah moral hazard dan menjunjung tinggi asas keadilan. Menurutnya POJK No 11 Tahun 2020 tersebut memang secara spesifik restrukturisasi kreditnya diperuntukkan bagi sektor - sektor ekonomi atau lapangan usaha (LU) yang secara langsung/tidak langsung terdampak Covid-19 melalui jalur perdagangan, investasi dan keuangan.
"Sedangkan bagi debitur yg bermasalah disebabkan bukan karena Covid-19 tetap direstrukturisasi sesuai dengan regulasi yg berlaku," kata Ryan saat dihubungi Ipotnews, Selasa (7/4).
Di sinilah industri perbankan, menurut Ryan, harus cermat dan cerdas dalam memetakan debitur - debitur yg terpapar Covid-19 dan mana yang bukan karena Covid-19. "Supaya tidak ada moral hazard dan tidak ada penumpang gelap," tegas Ryan.
Stimulus via POJK cukup efektif membantu perbankan dan debitur di sektor riil dalam menyehatkan kembali usahanya. Tujuannya agar operasi usahanya kembali normal, cash flow-nya kembali lancar, serta solvabilitas dan profitabilitas tetap membaik dan stabil.
"Dengan stimulus POJK tadi, maka NPL bisa ditekan lebh rendah, juga persentase Loan at Risks (LaR) juga dapat dapat diturunkan. Sehinga biaya pencadangan CKPN bisa ditekan dan pada akhirnya membantu profitabilitas bank," tutup Ryan.
Mengutip data OJK per Januari 2020, industri perbankan memang mengalami kenaikan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL). Pada Januari 2020, besaran NPL mencapai Rp152,15 triliun dari total kredit perbankan sebesar Rp5.502,81 triliun. Sehingga rasio NPL mencapai 2,76%.
Rasio NPL industri perbankan ini sedikit meningkat dibanding Januari 2019. Pada saat itu besaran NPL mencapai Rp132,57 triliun dari total kredit perbankan sebesar Rp5.186,61 triliun. Sehingga rasio NPL pada saat itu mencapai 2,55%. (Adhitya)

Sumber : admin