Perencanaan Pensiun Untuk Karyawan Berusia 45 Tahun
Wednesday, November 22, 2023       16:33 WIB

Artikel perencanaan keuangan kali ini masih membahas tentang perencanaan pensiun ( retirement planning ). Saya sengaja memilih judul Perencanaan Pensiun Untuk Karyawan Berusia 45 Tahun ' karena pada usia-usia tersebut biasanya orang sudah mulai memikirkan tentang masa pensiun.
Perencanaan pensiun yang akan kita bahas di sini sengaja dibuat khusus untuk karyawan karena perencanaan pensiun untuk wirawasta ( entrepreneur ) seperti pedagang, pebisnis, dokter, atau pengacara, sangat berbeda dari perencanaan pensiun untuk karyawan.
Pengalaman saya pribadi, saya sendiri juga baru mulai memikirkan masalah pensiun ini dengan lebih serius pada usia 40-an. Jujur saja, sebagai orang yang dapat dikatakan masih 'awam' untuk masalah perencanaan keuangan, perencanaan pensiun sering masih dianggap sebagai sesuatu yang tidak terlalu mendesak untuk dipikirkan.
Akan tetapi, berbekal ilmu-ilmu keuangan yang saya pelajari sewaktu mengambil gelar CFA (Chartered Financial Analyst) dan gelar CFP (Certified Financial Planner), saya lalu mencoba mendalami masalah perencanaan keuangan ini, khususnya perencanaan pensiun.
Pada usia 40-an, pada umumnya seorang karyawan sudah lebih mapan dengan pilihannya pada bidang kerja (karir) yang digelutinya. Hal ini bisa dilihat dari jenis pekerjaan atau lamanya masa kerja di satu bidang kerja yang tidak lagi berubah-ubah seperti halnya ketika berusia 20-an atau awal 30-an.
Pada usia 40-an biasanya di samping pekerjaan yang lebih mantap, juga masalah investasi telah menemukan bentuknya yang sesuai dengan karakter karyawan tersebut. Orang yang cenderung konservatif umumnya lebih banyak menempatkan investasinya pada deposito atau reksadana pendapatan tetap.
Sementara itu, orang yang cenderung agresif umumnya akan lebih banyak berinvestasi pada instrumen saham atau reksadana ekuitas. Ini di luar pandangan perencana keuangan, yang akan menyarankan investasi dana pensiun lebih banyak pada instrumen ekuitas, karena jangka waktu penempatan dana yang relatif lama (di atas sepuluh tahun).
Berikut ini adalah lima hal yang harus Anda ketahui atau persiapkan untuk membuat perencanaan pensiun pada usia sekitar 45 tahun jika Anda adalah seorang karyawan. Di sini, perencanaan pensiun banyak melibatkan taksiran atau perkiraan atas hal-hal yang belum terjadi. Misalnya, Anda harus membuat perkiraan atas sumber-sumber pendapatan serta biaya-biaya yang akan terjadi pada masa pensiun.
Taksiran atau perkiraan yang kita buat mungkin hanya benar secara kasar saja. Tetapi, perkiraan yang hanya benar secara kasar itu masih lebih baik dibandingkan tidak membuat perencanaan apa pun (pasti salah).  It is better to have an estimate that is only roughly right, than not to have an estimate (that is precisely a wrong thing to do)... 
Perkirakan sampai usia berapa Anda akan bekerja
Usia pensiun seorang karyawan akan ditetapkan dalam peraturan kerja perusahaan yang dibuat oleh perusahaan dengan mengacu pada Undang-Undang Tenaga Kerja Republik Indonesia (UU Ketenagakerjaan No.13 Tahun 2003). Saat ini, usia pensiun normal di banyak perusahaan, untuk karyawan kerah putih ( white collar worker ) adalah 57 tahun atau 58 tahun, sedangkan untuk karyawan kerah biru ( blue collar worker ) adalah 55 tahun.
Ketentuan masa kerja di tiap-tiap perusahaan dapat berbeda (tidak sama). Sementara itu, ketentuan usia pensiun dipercepat pada umumnya adalah sepuluh tahun sebelum usia pensiun normal. Dalam membuat perencanaan pensiun, Anda harus memperkirakan sendiri pada usia berapa Anda akan pensiun. Dari situ, Anda dapat memperkirakan berapa banyak dana pensiun yang dapat Anda kumpulkan.
Perkirakan berapa banyak uang yang Anda butuhkan (untuk pensiun gengan nyaman)
Kebutuhan setiap orang berbeda, demikian pula untuk pensiun dengan nyaman, setiap orang dapat memiliki kriteria yang berbeda. Tetapi ada hal-hal yang secara garis besar semua orang setuju harus ada.
Untuk dapat pensiun dengan nyaman, hal-hal yang harus diperhatikan adalah 4L, yaitu: gaya hidup ( lifestyle ), usia panjang ( longevity ), warisan ( legacy ), dan likuiditas ( liquidity ). Masalah 4L merupakan masalah pribadi yang dapat berbeda untuk setiap orang.
Penting untuk diketahui di sini, pada waktu kita membuat perencanaan pensiun, adalah dua hal ini. Pertama, uang pensiun harus tersedia terus mulai saat pensiun tiba sampai kita meninggal dunia. Kriteria mengenai besarnya penarikan dana pensiun dapat kita pergunakan adalah aturan (rule) 4% per tahun.
Kedua, uang pensiun kita harus cukup besar sehingga dapat kita tarik setiap tahun (atau setiap bulan) tanpa membuat kita kekurangan atau khawatir akan jumlah penarikan maupun daya beli dari uang yang kita tarik tersebut.
Mungkin Anda ingin menggunakan aturan ( rule ) pengeluaran bulanan sebesar 80% dari jumlah pengeluaran sewaktu masih aktif bekerja. Jadi, kalau menggunakan aturan 80% dari jumlah pengeluaran sewaktu masih aktif bekerja, kita cukup membandingkan apakah jumlah itu sama atau lebih kecil dari jumlah 4% per tahun dana pensiun yang kita tarik setiap tahun.
Prioritaskan tujuan-tujuan keuangan Anda
Setiap orang pasti memiliki tujuan keuangan yang berbeda-beda, dan tujuan keuangan itu bukan hanya masalah pensiun saja. Misalnya, ada yang masih memikirkan tabungan uang untuk kebutuhan darurat ( emergency fund ), atau untuk biaya kuliah anak tiga tahun lagi, atau biaya angsuran KKB (Kredit Kendaraan Bermotor) untuk tiga tahun ke depan, atau biaya angsuran KPR (Kredit Perumahan Rakyat) untuk sepuluh tahun ke depan yang belum lunas.
Semua biaya-biaya yang muncul tiap bulan harus Anda prioritaskan berdasarkan tingkat kepentingannya. Misalnya, uang untuk kebutuhan darurat ( emergency fund ) memang penting, tetapi Anda tidak boleh juga melupakan bahwa tabungan (investasi) untuk Dana Pensiun juga penting. Jadi, jalan terbaik adalah Anda menabung untuk dana kebutuhan darurat (kalau belum ada), sekaligus juga menabung untuk Dana Pensiun.
Pilih rencana pensiun yang paling cocok untuk Anda
Perencanaan pensiun untuk seorang karyawan biasanya tidak terlampau rumit karena seorang karyawan biasanya tidak memiliki impian yang terlalu muluk-muluk atas masa pensiun yang diharapkannya.
Jika saat ini Anda masih tinggal di Jakarta atau kota besar lainnya di Indonesia dengan mengontrak rumah, mungkin prioritas rencana pensiun Anda adalah memiliki rumah tinggal sendiri. Atau, mungkin Anda sudah memiliki rumah tinggal sendiri tetapi Anda merasa tinggal di Jakarta akan terlalu mahal pada waktu pensiun nanti. Jadi, Anda harus membuat perencanaan pensiun yang kira-kira paling cocok untuk Anda.
Mungkin Anda merasa bahwa perencanaan pensiun melibatkan terlalu banyak variabel yang tidak diketahui saat ini. Misalnya, Anda kesulitan memperkirakan tingkat inflasi pada lima belas atau dua puluh tahun yang akan datang. Tidak masalah itu.
Ingatlah bahwa dalam membuat perencanaan pensiun, lebih baik membuat rencana pensiun yang hanya secara kasar adalah benar daripada sama sekali tidak membuat rencana pensiun itu (sesuatu yang pasti salah).
Pilih investasi dana pensiun yang paling cocok untuk Anda
Pilihan investasi dana pensiun dapat berbeda untuk setiap orang. Paling baik adalah tidak hanya memiliki satu jenis investasi saja. Misalnya, sebagai seorang karyawan, Anda otomatis diikut-sertakan dalam program BPJS -TK (d/h Jamsostek).
Program BPJS -TK itu baik, tetapi dalam kebanyakan kasus kita pasti menginginkan jumlah dana pensiun yang lebih besar daripada jumlah yang dapat terkumpul melalui BPJS -TK. Oleh sebab itulah kami sangat menganjurkan Anda untuk menyimpan sendiri dana selain BPJS -TK untuk kebutuhan pensiun Anda.
Anggap saja bahwa dana dalam BPJS -TK merupakan jumlah minimum yang harus ada dalam dana pensiun Anda.
Dalam artikel sebelumnya yang berjudul ' Dari Manakah Sumber Penghasilan Pada Masa Pensiun? ' Kami telah mengusulkan beberapa jenis investasi (sumber penghasilan) yang dapat dipergunakan untuk membiayai masa pensiun kita di samping dana pensiun yang tersedia dalam rekening BPJS -TK.
Dana dalam BPJS -TK adalah aset dalam bentuk aset keuangan. Di samping aset keuangan, kita juga perlu melakukan diversifikasi investasi kita dalam bentuk aset riil ( tangible aset ) seperti tanah dan bangunan dan polis asuransi jiwa.
Investasi dalam aset keuangan mudah dan murah untuk dilakukan. Kelemahan investasi dalam aset keuangan, terutama deposito dan instrumen pendapatan tetap (obligasi) adalah terjadinya resiko gagal bayar ( default ) dan resiko inflasi.
Instrumen aset keuangan yang dapat dipakai sebagai alat untuk mengatasi resiko inflasi adalah instrumen ekuitas (saham-saham).Oleh karena itu, kita perlu meningkatkan literasi keuangan kita agar mampu juga untuk berinvestasi dalam instrumen ekuitas.
Di samping instrumen ekuitas (saham-saham), kita juga dapat mengatasi resiko inflasi dengan cara melakukan diversifikasi investasi ke dalam aset-aset riil seperti properti (tanah dan bangunan). Tentu saja cara ini membutuhkan dana yang lebih besar daripada investasi dalam saham-saham atau investasi dalam unit penyertaan reksadana.
Diversifikasi investasi lainnya adalah pada polis asuransi jiwa, terutama dari jenis asuransi seumur hidup ( whole life ). Polis asuransi jiwa ini akan membayarkan sejumlah uang untuk ahli waris kita apabila suatu saat kita meninggal. Sering kita abaikan, tetapi sesungguhnya polis asuransi jiwa seumur hidup merupakan tabungan yang pasti akan kita tarik kemudian karena setiap orang pada akhirnya pasti akan mati.
 Oleh: Fredy Sumendap, CFA, CFP 

Sumber : admin

berita terbaru