Proyek Kereta Cepat Dinilai Hanya Untungkan China
Tuesday, January 26, 2016       13:40 WIB

Ipotnews - Proyek kereta cepat atau  high speed train  (HST) Jakarta-Bandung dinilai hanya menguntungkan China, dan disadari atau tidak, Indonesia memiliki andil bagi penyelamatan ekonomi negeri tirai bambu itu.
Demikian pandangan Ketua Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia, Salamudin Daeng, dalam acara diskusi di Jakarta, Selasa (26/1).
Seperti diketahui, saat ini ekonomi China, khususnya sektor industri, infrastruktur dan properti sangat terpuruk akibat beban finansial dan utang.
Salamudin mengatakan, China termasuk negara yang lihai dalam memainkan pasar keuangan. Walau beban utang tinggi, yakni sekitar 3,1 triliun yuan, namun negara itu tetap bisa menciptakan utang baru dengan memastikan ada investasi di negara-negara  emerging market , seperti Indonesia.
"Pertolongan tersebut baru-baru ini didapatkan dari Indonesia. Presiden Jokowi resmi menyerahkan pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung kepada BUMN China (China Railway Construction Corp Ltd)," kata Salamudin.
Dia menambahkan, saham perusahaan yang bermarkas di Beijing itu hingga 2015 terus merosot, bahkan sampai 150 persen. Sementara pada 2016, utang perusahaan tersebut mencapai 4,5 kali Ebitda. Perusahaan itu, lanjut Salamudin, mengalami gagal bayar terhadap utang-utangnya. Karena itu, CRCC harus mengandalkan pinjaman dan penjualan obligasi untuk mendanai proyek-proyek baru.
"Proyek kereta cepat Jokowi adalah landasan bagi perusahaan China untuk menumpuk utang baru. Utang yang dijamin oleh Indonesia. Pemerintah bersedia membuat kontrak yang menguntungkan China," papar dia.
Sebelumnya, anggota Komisi V DPR, Epyardi Asda, juga mempertanyakan urgensi dari proyek yang diprediksi membutuhkan investasi hingga US$5,5 miliar itu. Selain menabrak berbagai aturan terkait Rencana Tata Ruang Dan Tata Wilayah ( RTRW ), Analisis Dampak Lingkungan (Amdal), dia juga menilai kereta cepat belum dibutuhkan di Indonesia, terlebih rute Jakarta-Bandung menurutnya terlalu dekat.
"Apakah ini cukup urgensinya di saat ekonomi kita terbatas? Apakah adil pemerintah hanya memperhatikan jarak Jakarta-Bandung, di mana infrastrukturnya sudah sangat memadai?" kata dia. (Sigit/ef)

Sumber : ADMIN