Reksadana Unggulan Tak Akan Lama Memimpin di Depan, ‘Efek Momentum’ Sudah Tak Terlihat
Saturday, August 01, 2020       14:47 WIB

Ipotnews - Sebuah studi baru menemukan bahwa reksadana yang sedang berjayaumumnya tidak akan terus-menerus unggul dari tahun ke tahun. Studi ini membatalkan temuan penting sejak tahun 1990-an.
Jangan berusaha untuk mengalahkan pasar saham.
Singkat kata, pasar saham adalah wilayah suci menurut Jack Bogle, pendiri Vanguard. Menurutnya, pendekatan terbaik bagi sebagian besar investor adalah dengan memiliki saham dan obligasi dengan terdiversifikasi secara luas, reksadana indeks berbiaya rendah yang mencerminkan pasar, dan melupakan untuk memilih saham secara individual.
Banyak investor, termasuk Warren Buffett, telah menerima prinsip-prinsip itu. "Pada dasarnya, bahkan di tengah pandemi dan musim pemilihan umum yang penuh gejolak, saya juga melakukannya," tulis Jeff Sommer, kolomnis  The New York Times , Jumat (31/7).
Menurutnya, keyakinan itu telah ditegaskan kembali oleh studi Yale terbaru, yang menunjukkan bahwa manajer reksadana yang sukses bahkan lebih sulit untuk tetap mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar daripada yang biasanya dipahami.
Jelas sekali, bahwa sangat memungkinkan untuk mengungguli pasar saham. Buffett mengalahkannya selama bertahun-tahun di Berkshire Hathaway, meskipun dia belum berhasil secara konsisten mengungguli S&P 500 belakangan ini. Ia pun mengatakan orang kebanyakan sebaiknya tidak mencoba mengalahkan pasar.
Tetap saja, orang terus mencobanya setiap hari, dan beberapa diantaranya menghasilkan  return  yang luar biasa.
Misalnya, dengan hanya membeli saham Apple dan tidak ada hal lain, seharusnya sudah akan membuat Anda lebih unggul dari S&P 500 selama 20 tahun hingga 30 Juli lalu, dengan hasil investasi ( return ) tahunan sebesar 27,5 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan indeks yang hanya 6,3 persen.
Namun itu akan menjadi taruhan yang berbahaya. Bayangkan jika iPhone goyah, atau Apple Watch terkena bom. Nilai saham Anda akan rontok. Mempertaruhkan semua uang Anda di satu saham - atau bahkan 20 saham saja - jauh lebih berisiko daripada berinvestasi di seluruh pasar.
Hanya sedikit orang yang dengan andal berhasil mengalahkan pasar secara keseluruhan, tanpa mengambil risiko yang lebih besar, terutama setelah biaya investasi diperhitungkan. Dan meskipun Anda dapat mengalahkan pasar - dan reksadana indeks yang melacaknya - data menunjukkan bahwa kemungkinan besar , Anda tidak akan bisa melakukannya untuk waktu yang lama.
Disebutkan, satu faktor akan bekerja dengan baik di masa lalu, bagi mereka yang berusaha untuk menentang peluang dan cukup sering mengalahkan pasar. Singkat kata, faktor itu adalah momentum.
Artinya, miliki reksadana yang dikelola secara aktif - reksadana saham yang dipilih manajer investasi - yang mengalahkan pasar di tahun sebelumnya. Strategi sederhana itu didokumentasikan dalam studi penting yang diterbitkan pada tahun 1997 dan diajarkan secara luas di sekolah bisnis.
Studi itu, "Tentang Kegigihan dalam Kinerja Reksadana," oleh Mark Carhart, profesor di University of Southern California yang sekarang menjadi manajer aset, menemukan bahwa reksadana yang naik dalam satu tahun cenderung meningkat pada satu tahun berikutnya, terutama karena saham yang mereka miliki mengalami hal yang sama.
Temuannya tampaknya bertentangan dengan peringatan standar bahwa "kinerja masa lalu tidak memprediksi  return  di masa depan" dan mendorong banyak orang untuk memeriksa  return  reksa dana di masa lalu dengan harapan mencetak keuntungan besar di masa depan.
Tapi tak perlu repot-repot.
Itulah pesan dari hasil studi terbaru James Choi, seorang profesor keuangan di Yale, dan Kevin Zhao, seorang mahasiswa pascasarjana. Makalah mereka, "Apakah Kegigihan Reksadana akan Terus Bertahan?" mengikuti langsung jejak Mr. Carhart, yang mempelajari  return  reksadana dari tahun 1962 hingga 1993. Mereka mempelajari apa yang terjadi dari tahun 1994 hingga 2018, dan menemukan bahwa efek momentum dalam kinerja reksadana yang ditemukan Carhart tidak lagi terlihat.
Dalam sebuah wawancara dengan kolomnis Sommer, Profesor Choi mengatakan bahwa, seperti guru keuangan di seluruh dunia, dia telah mengajar siswa tentang "efek momentum" dalam kinerja reksadana selama bertahun-tahun. Namun, suatu hari, dia mengalami pencerahan.
"Saya mengajar kelas tentang 'efek momentum' dan menyadari bahwa semua yang saya katakan berdasarkan pada studi yang dilakukan lebih dari 20 tahun yang lalu, sebagian besar berdasarkan pada temuan dari 30 tahun lalu atau lebih," katanya. "Saya pikir sudah waktunya untuk memeriksa dan melihat apakah masih berfungsi," Prfesor Choi menambahkan.
Choi dan Zhao menemukan bahwa strategi itu tidak bekerja ketika dalam memilih reksadana. "Pada kenyataannya, kata Profesor Choi, efektivitasnya telah berkurang secara signifikan sekitar tahun 1980, sebuah pendahuluan yang nyata dari  return  yang lebih buruk di tahun-tahun berikutnya," tulis Sommer.
Penelitian itu, akan dipublikasikan dalam jurnal Critical Finance Review. Carhart, yang mengulasnya untuk publikasi, menyebut hasil penelitian itu, "sangat solid. Keampuhan efek momentum telah menurun dari waktu ke waktu. Hal itu ditujukkan oleh data dan saya membelinya." Carhart menambahkan bahwa strategi tidak lagi efektif untuk memilih reksadana.
Bahkan menurutnya, ketika strategi itu berhasil, umumnya karena manajer investasi memegang saham-saham  hot  dari tahun ke tahun. Bukan karena ia secara sadar dan sistematis berusaha untuk memanfaatkan momentum pasar saham.
Namun demikian, ini bukanlah akhir dari cerita.
Ada bukti bahwa efek momentum masih terus beroperasi di pasar saham. Profesor Choi mengatakan bahwa meskipun para manajer investasi memilih saham - mereka yang menjalankan reksadana yang dikelola secara aktif - belakangan ini belum dapat mengeksploitasi faktor momentum, yang dimiliki beberapa reksadana indeks.
Bukti itu memang melemahkan, tapi bersabarlah sejenak.
Meskipun reksadana indeks Vanguard pertama kali dibentuk untuk menangkap  return  dari indeks pasar saham secara luas, tapi hari-hari ini, reksadana indeks mincul dalam berbagai bentuk dan rasa. Beberapa diantaranya menggunakan algoritma untuk menjalankan strategi yang rumit.
Sekarang bahkan ada reksadana indeks yang sudah diatur untuk menggunakan strategi momentum - misalnya, menyaring saham berkinerja tertinggi selama enam dan 12 bulan sebelumnya - dengan asumsi bahwa mereka akan mengungguli pasar yang lebih luas untuk enam bulan ke depan.
Salah satu dana tersebut adalah ETF iShares Edge MSCI USA Momentum Factor. Reksadana ini mendapat rekam jejak yang solid: hasil investasi tahunan mencapi 16,3 persen sejak didirikan pada April 2013, melebihi S&P 500, yang memiliki  return  tahunan 13 persen dalam periode yang sama. Reksada itu tersebut memiliki rasio pengeluaran hanya 0,15 persen.
Profesor Choi mengatakan dia memiliki reksadana itu dalam portofolionya sendiri.
"Momentum belum mati," ujarnya. "Sepertinya berhasil; hanya belum bekerja di reksa dana yang dikelola secara aktif."
Apakah bentuk momentum investasi ini akan terus beroperasi secara efektif di masa mendatang? Mungkin. "Saya tertarik, tetapi skeptis. Saya pikir peringatan standarnya layak ditanggapi dengan serius: Jangan mengandalkan hasil investasi di masa lalu untuk memprediksi kinerja di masa depan," ungkap Sommer.
Taruhan paling aman, cukup sederhana: Investasikan dalam reksadana indeks sederhana, luas, berbiaya rendah, dalam portofolio yang dialokasikan secara tepat antara saham dan obligasi untuk tujuan Anda sendiri dan toleransi risiko.
Ini tidak menjamin akan tercapainya kemakmuran. Meskipu harga saham telah meningkat dalam jangka waktu yang lama, mereka terkadang mengalami penurunan yang parah - yang terbaru pada Februari dan Maret tahun ini. Ketika pasar saham jatuh, Anda pun akan kehilangan uang dalam reksadana indeks saham.
Tapi itulah sebabnya mengapa masuk akal untuk mengalokasikan sebagian uang Anda ke dana obligasi, yang telah berkinerja sangat baik selama 20 tahun terakhir. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi bulan depan - apalagi 20 tahun mendatang - jadi adalah bijaksana untuk tetap melakukan lindung nilai pada taruhan Anda.
Satu hal yang pasti ditunjukkan oleh penelitian terbaru itu adalah bahwa memilih reksadana berdasarkan kinerja terkini tidaklah masuk akal, meskipun investasi jangka panjang di pasar keseluruhan melalui reksadana indeks berbiaya rendah tetap dilakukan. (The New York Times)

Sumber : Admin

berita terbaru
Tuesday, Aug 11, 2020 - 14:46 WIB
Financial Statements 2Q 2020 of ESTI
Tuesday, Aug 11, 2020 - 14:46 WIB
Bank Mandiri Turunkan Bunga Kredit, Ini Daftarnya
Tuesday, Aug 11, 2020 - 14:41 WIB
Financial Statements 2Q 2020 of JAYA
Tuesday, Aug 11, 2020 - 14:37 WIB
Financial Statements 2Q 2020 of JKON
Tuesday, Aug 11, 2020 - 14:34 WIB
Financial Statements 2Q 2020 of MLPL
Tuesday, Aug 11, 2020 - 14:21 WIB
Financial Statements 1Q 2020 of TIRA