Reli Mulai Kehabisan Tenaga, Dolar Berbalik ke Jalur Depresiasi
Wednesday, January 13, 2021       05:24 WIB

Ipotnews - Dolar AS tergelincir terhadap sekeranjang mata uang, Selasa, karena reli baru-baru ini, yang didorong lonjakan imbal hasil US Treasury, tampaknya mulai kehabisan tenaga.
Pedagang di pasar valas menunjukkan minat yang kuat untuk mata uang berisiko seperti dolar Australia dan Selandia Baru, memberi tekanan pada mata uang  safe-haven  Amerika Serikat itu, demikian laporan  Reuters  dan  Xinhua,  di New York, Selasa (12/1) atau Rabu (13/1) pagi WIB.
Dolar tergelincir selama beberapa bulan terakhir karena penurunan suku bunga Federal Reserve dan permintaan investor yang kuat untuk aset berisiko telah melemahkan permintaan untuk mata uang  safe-haven  Amerika itu.
Indeks Dolar (Indeks DXY), yang mengukur  greenback  terhadap sekeranjang enam mata uang, turun 0,44% menjadi 90,074. Itu merupakan penurunan harian pertama bagi indeks tersebut dalam empat sesi.
Langkah-langkah penguncian baru di seluruh Eropa untuk melawan gelombang kedua Covid-19 memicu kekhawatiran "resesi double-dip" di wilayah tersebut, kata Minh Trang, pedagang FX di Silicon Valley Bank.
Hal itu, dikombinasikan dengan kenaikan imbal hasil US Treasury, membantu mendongkrak dolar dalam beberapa hari terakhir, ungkap Trang.
Imbal hasil US Treasury diperdagangkan lebih rendah, Selasa, karena permintaan yang kuat untuk penjualan  benchmark  10 tahun sebesar USD38 miliar dari Departemen Keuangan membuat para pedagang menutup  short position , yang membalikkan kenaikan awal dalam imbal hasil.
Dukungan dari kenaikan  yield  tersebut sejauh ini mengalahkan kekhawatiran bahwa anggaran pengeluaran ekstra di Amerika Serikat dapat memicu kenaikan inflasi yang lebih cepat. Tetapi banyak analis memperkirakan dolar melanjutkan penurunannya karena belanja stimulus dan peluncuran vaksin mencerahkan prospek ekonomi global.
Sebagian besar mata uang  emerging market  menguat pada sesi Selasa, termasuk yuan di pasar  offshore , peso Meksiko, dan rand Afrika Selatan.
Dengan membaiknya sentimen risiko, mata uang negara maju yang lebih berisiko mencatatkan penguatan, dengan dolar Australia melesat 1% dan dolar Selandia Baru naik 0,9%.
Poundsterling melonjak terhadap euro dan dolar pada sesi Selasa karena komentar dari Gubernur Bank of England tentang kelangsungan suku bunga negatif mengurangi beberapa ekspektasi suku bunga di bawah nol di Inggris.
Pada akhir perdagangan di New York, euro naik menjadi USD1,2201 dari USD1,2163 di sesi sebelumnya, dan pound menguat jadi USD1,3663 dari USD1,3524.
Dolar AS dibeli 103,80 yen, lebih rendah dari 104,15 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Sementara,  greenback  turun ke posisi 0,8868 franc Swiss dari 0,8894 franc Swiss, dan melemah ke level 1,2723 dolar Kanada dari 1,2775 dolar Kanada. (ef)

Sumber : Admin

berita terbaru
Saturday, May 08, 2021 - 12:35 WIB
Financial Statements 1Q 2021 of SSMS
Saturday, May 08, 2021 - 12:28 WIB
Financial Statements 1Q 2021 of BBMD
Saturday, May 08, 2021 - 12:23 WIB
Financial Statements 1Q 2021 of JECC
Saturday, May 08, 2021 - 12:08 WIB
Financial Statements 1Q 2021 of BSIM
Saturday, May 08, 2021 - 11:43 WIB
Financial Statements 1Q 2021 of MGRO
Saturday, May 08, 2021 - 11:40 WIB
Financial Statements 1Q 2021 of RANC
Saturday, May 08, 2021 - 11:37 WIB
Financial Statements 1Q 2021 of INAF
Saturday, May 08, 2021 - 11:27 WIB
Financial Statements Full Year 2020 of CITY
Saturday, May 08, 2021 - 11:23 WIB
Financial Statements Full Year 2020 of BLUE
Saturday, May 08, 2021 - 11:03 WIB
Financial Statements Full Year 2020 of IIKP