Saham Eropa Tergelincir Karena Gejolak Perbankan Merapuhkan Sentimen 
Saturday, March 18, 2023       07:38 WIB

Ipotnews - Indeks saham Eropa melemah pada hari akhir pekan ini setelah gerak rebound untuk pemulihan di awal sesi kehabisan tenaga.. Sementara Wall Street berjangka beragam karena sentimen investor tetap rapuh setelah seminggu bergejolak.
Dalam krisis yang dimulai dengan jatuhnya Silicon Valley Bank yang berbasis di AS Jumat lalu, selera risiko anjlok di awal minggu karena investor kehilangan kepercayaan pada bank regional di Amerika Serikat dan Credit Suisse di Eropa. Pekan yang penuh gejolak melihat imbal hasil obligasi turun karena investor menurunkan ekspektasi mereka untuk kenaikan suku bunga di masa depan.
Selera risiko menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada hari Kamis, dibantu oleh Credit Suisse yang mengatakan akan meminjam hingga 50 miliar franc Swiss ($54 miliar) dari Bank Nasional Swiss dan, di kemudian hari, sekelompok bank besar menyuntikkan $30 miliar dalam bentuk deposito ke First Republic Bank, bank di AS kategori menengah.
Namun, analis mengatakan kekhawatiran tentang kemungkinan krisis perbankan masih jauh dari selesai. CEO Credit Suisse mengatakan pada hari Jumat bank bekerja keras untuk membendung arus keluar nasabah, meskipun ini bisa memakan waktu. Saham Credit Suisse melanjutkan penurunannya.
Pengawas Bank Sentral Eropa tidak melihat penularan bagi bank-bank zona euro dari gejolak pasar, sumber yang akrab dengan isi rapat dewan pengawas ad hoc awal pekan ini mengatakan kepada Reuters.
Pada 1207 GMT, indeks ekuitas dunia MSCI , yang melacak saham di 47 negara, naik 0,3% pada hari itu. Indeks Pan Eropa, STOXX 600 Eropa turun 1,21% dan turun 1,9% pada minggu ini secara keseluruhan.
Indeks DAX Jerman -1,33 persen ke 14,768. Indeks FTSE Inggris drop 1,01 persen ke 7.335 dan Indeks CAC Prancis melemah 1,43 persen ke posisi 6.925.
Imbal hasil Treasury AS 2 tahun, yang paling sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga, naik 1 basis poin hari ini di 4,1426% - masih lebih dekat ke level terendah enam bulan Rabu di posisi 3,72% dari level puncak 5,084% pada minggu sebelumnya, yang merupakan yang tertinggi sejak 2007.
Bank Sentral Eropa menaikkan suku bunga sebesar 50 bps pada hari Kamis, berpegang teguh pada janjinya untuk melawan inflasi bahkan ketika beberapa investor meminta jeda dalam siklus kenaikan suku bunga sampai gejolak perbankan mereda. Benchmark imbal hasil 10 tahun Jerman turun 5 bps menjadi 2,193%.
Pasar memperkirakan kenaikan 25 bps oleh Federal Reserve AS pada pertemuan periode Maret minggu depan, turun dari ekspektasi sebelumnya untuk kenaikan 50 bps.
Data Fed pada hari Kamis menunjukkan bahwa bank berburu likuiditas darurat beberapa hari terakhir dengan jumlah yang mencapai rekor tertinggi, demikian menurut catatan The Fed. Upaya tersebut pada gilirannya membantu membatalkan upaya bank sentral selama berbulan-bulan untuk mengecilkan ukuran neracanya.
"Fakta bahwa Fed sangat proaktif dalam hal membuka keran likuiditas berpotensi berguna dan itu menstabilkan hal-hal setidaknya dalam jangka pendek," kata Guillaume Paillat, manajer portofolio multi-aset di Aviva Investors. "Ini berpotensi menjadi lingkungan yang lebih stabil, karena rasanya kita telah melewati titik krisis dan keadaan akan sedikit normal."
Terhadap sekeranjang mata uang, dolar AS turun 0,2%. Dolar Australia, dilihat sebagai proksi likuid untuk selera risiko, naik 0,6% hari ini di $0,6695. Pound Inggris dan euro sama-sama naik 0,2%.
Harga minyak diuntungkan dari kebangkitan awal selera risiko, sebelum memangkas kenaikan, dengan minyak mentah Brent berjangka naik 0,4% dan minyak mentah West Texas Intermediate AS naik 0,7% setelah mencapai level terendah dalam lebih dari setahun di awal minggu.
(reuters)

Sumber : admin

berita terbaru