Satu Dosis Suntikan Vaksin Covid J&J Terindikasi Aman dan Menghasilkan Respons Imun
Thursday, January 14, 2021       09:40 WIB

Ipotnews - Satu dosis suntikan vaksin virus korona Johnson & Johnson (J&J) terindikasi aman dan terlihat menghasilkan respons kekebalan yang menjanjikan baik pada sukarelawan muda maupun lanjut usia. Kesimpulan tersebut merupakan hasil uji coba vaksin J&J yang diterbitkan New England Journal of Medicine.
Ilmuwan J&J secara acak memilih orang dewasa sehat antara usia 18 dan 55, dan mereka yang berusia 65 tahun ke atas untuk menerima vaksin - yang disebut Ad26.COV2.S - dalam dosis tinggi atau rendah, atau plasebo. Beberapa peserta dalam kelompok usia 18 hingga 55 tahun juga dipilih untuk menerima suntikan vaksin dosis kedua.
Data uji klinis fase satu dan dua menunjukkan, satu dosis suntikan vaksin "memberikan antibodi yang berkelanjutan," kata Dr. Paul Stoffels, kepala ilmuwan di J&J. Dia menambahkan, data tersebut memberi "keyakinan" bahwa vaksin itu akan sangat efektif melawan virus.
Stoffels juga mengatakan perusahaan berencana dapat mendistribusikan vaksin pada temperatur 2 hingga 8 derajat Celcius. "[Vaksin] kami memiliki stabilitas tiga bulan pada saat ini pada suhu 2 hingga 8," katanya seperti dikutip CNBC , Kamis (14/1).
Menurut data percobaan, sebagian besar sukarelawan menghasilkan antibodi penetral yang dapat dideteksi, yang diyakini memainkan peran penting dalam mempertahankan sel terhadap virus, setelah 28 hari. Pada hari ke 57, semua sukarelawan memiliki antibodi yang terdeteksi, terlepas dari dosis vaksin atau kelompok usia, dan tetap stabil selama setidaknya 71 hari dalam kelompok usia 18 hingga 55 tahun.
Para peneliti J&J mengungkapkan, berdasarkan data percobaan itu, efek samping yang paling umum adalah demam, kelelahan, sakit kepala, nyeri otot dan nyeri di tempat suntikan. Efek samping lebih jarang terjadi pada kelompok usia yang lebih tua, yang hanya menerima satu dosis vaksin, serta mereka yang menerima dosis vaksin yang lebih rendah.
Uji coba tersebut menguji 805 relawan. Perusahaan mengharapkan dapat merilis hasil dari 45.000 orang uji coba fase tiga akhir bulan ini. J&J menggunakan teknologi yang sama dengan yang digunakan untuk mengembangkan vaksin Ebola untuk vaksin Covid-19. Pejabat AS dan analis Wall Street sangat mengantisipasi otorisasi vaksin J&J, yang paling cepat dapat tersealisasi bulan depan. Serangkaian obat dan vaksin untuk mengalahkan virus korona, yang telah menewaskan sedikitnya 382.120 orang Amerika sejak awal pandemi.
Jika vaksin J&J bisa disahkan oleh Food and Drug Administration, maka akan menjadi yang ketiga yang disetujui untuk digunakan di AS setelah vaksin Pfizer-BioNTech dan Moderna. Vaksin Pfizer disahkan pada 11 Desember, dan Moderna mendapat otorisasi seminggu kemudian pada 18 Desember.
Data hasil uji coba kandidat vaksin J&J muncul saat pejabat AS mengeluhkan bahwa pelaksanaan vaksinasi terlalu lambat karena pasokan dosis vaksin tak mampu memenuhi permintaan. Pada Selasa lalu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS memperluas pedoman kelayakan vaksin Covid dengan memasukkan orang-orang yang berusia 65 tahun ke atas serta orang-orang dengan kondisi tertentu yang sudah ada sebelumnya.
Seorang pejabat kesehatan AS, mengatakan pemerintah juga mengubah cara mengalokasikan dosis vaksin Covid, yang kini didasarkan pada seberapa cepat negara bagian dapat memberikan suntikan dan besaran populasi lansia mereka. Pemerintahan Trump juga akan berhenti menahan jutaan dosis yang dicadangkan untuk putaran kedua suntikan vaksin dua dosis Pfizer dan Moderna.
Tidak seperti vaksin Pfizer dan Moderna, yang membutuhkan dua dosis dengan jarak suntikan sekitar tiga hingga empat minggu, J&J hanya membutuhkan satu dosis. Itu berarti pasien tidak perlu kembali untuk mendapatkan dosis lain, menyederhanakan logistik untuk penyedia layanan kesehatan. ( CNBC )

Sumber : admin